#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan

#15HariNgeblogFF2 - Genggaman Tangan
#15HariNgeblogFF2 – Genggaman Tangan

“Masih kuat?” Tanya masku selepas kami menuruni dua-ratus anak tangga tuk mencapai Air Terjun Tawangmangu. Tak terelakkan, sebagian besar tenagaku terkucur habis bermain siapa-yang-cepat-duluan-sampai dengan menuruni beratus anak tangga di tempat ini. Tapi pemandangan di hadapanku..Astaga, indah sekali. Nafasku yang sebelumnya memburu tiba-tiba melancar melihat pesona alam di hadapanku yang magisnya sanggup mendamaikan hati ini.

Air terjun setinggi delapan puluh meter itu luar biasa. Aku baru pertama kali melihat sumber mata air setinggi ini. Batu-batu besar yang tertata artistik di bagian bawahnya melengkapi keindahan ini. Tumbuh-tumbuhan di sisi-sisi air tersebut nampak segar. Udara di kawasan ini-pun terasa sejuk. Benar-benar tempat yang tepat untukku me-charge-diri kembali.

“Sit? Nggak usah sampe speechless gitu dong, ngomong aja kalau capek. Pake ngeles sambil liat air pula. Pancene!” Ujar abangku setengah berteriak seraya mengacaukan rambutku. Akh, dia merusak momen imaji damaiku barusan. Mengapa ia tak ikut menikmati pemandangan ini saja?

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan”

Advertisements

#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

#15HariNgeblogFF2 - Ramai
#15HariNgeblogFF2 – Ramai

Jalan Malioboro. Sekitar setengah jam aku berdiri di pinggir trotoar. Sudah tiga-puluh menit kumenunggu abangku di sini. Tadi pagi ia berjanji padaku tuk menjemputku selepas kuliah. Tapi sekarang, ia bahkan me-reject panggilanku yang-sepertinya sudah berpuluh jumlahnya. Abangku.. Teganya kau membiarkan adikmu sendiri menunggu di sini? Terpanggang pijarnya mentari yang kini memaksimalkan sinarnya?

Aku kembali menekan tuts-tuts telefon genggamku. Ini telefon ke-25-ku pada abangku itu. Tombol call kupencet. Buru-buru kuangkat ponselku mendekat telinga. Tepat saat ponsel tertempel, aku merasa tas berkait menabrak punggungku dan..

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai”