#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati

#15HariNgeblogFF2 - Biru, jatuh hati
#15HariNgeblogFF2 – Biru, jatuh hati

“Biru! Ayok ke laut!” Teriak Sabah di ujung sana memanggilku. Hooam. Ini masih jam berapa? Jam 4 pagi, bukan? Aku masih-sangat mengantuk. Tapi hidup tanpa lelah menuntut. Apa yang bisa dilakukan oleh nelayan muda sepertiku selain meluat mencari ikan tuk menyambung hidup?

“Biru! Lama sekali! Ayo, cepat! Sabah sudah  di perahu, tuh!” Ucap Akhsan membuyarkan lamunanku. Hoaam. Aku menanggapinya dengan uapan manusia yang-masih-baru sadar dari tidurnya lalu dipaksa tuk berjalan ke perahu demi melaut.

“Bisa cepet dikit ngg-Lho, ngapain dia di sini?” Perintah Akhsan yang menyuruhku mempercepat langkah, tiba-tiba terganti oleh pertanyaan lain yang mau-tidak-mau membuatku menolehkan kepala ke arah yang ditunjuknya. Dan aku mendapati seorang gadis tengah mempersiapkan alat-alat lukisnya di bibir pantai. Gadis berambut hitam yang sering kami lihat setiap pagi. Bukan, yang sering kuperhatikan setiap subuh seperti ini. Bukan kali pertamanya gadis itu melukis di sini. “Bir, dia bukannya nggak bisa ngomong, ya?”

“Hah? Bisu maksudmu?”

“Iya.” Jawab Akhsan lagi.

“Tapi dia cantik..” Ujarku lirih.

Tole! Bisu gitu kok disenengi. Udah yok cepetan ke Sabah!” Perintah Akhsan berlari meninggalkanku yang masih menatap gadis itu. Hmm, apa ini saat yang baik untuk berkenalan dengannya? Karena sejauh ini, aku memang hanya bisa melihatnya dari jauh. Ya, sebut saja pengagum rahasia.

“Sendirian, mbak?” Tanyaku ramah tepat saat aku berada di sampingnya. Tepat ketika ia meletakkan kanvas di easelnya. Tuk merespon pertanyaan yang kulontarkan, ia tolehkan kepalanya menghadapku kemudian pipi kuning-langsatnya, seketika merona merah. Membuat wajah gadis di sampingku kian manis dari sebelumnya. “Perlu dibantu, mbak?” Tanyaku lagi padanya. Entah mengapa menurutku ia semakin tersipu. Atau hanya perkiraanku, saja? Yang jelas perilaku gadis ini mendadak seolah salah tingkah di sampingku. Tanpa perlu dijawab, kubantu gadis itu mempersiapkan peralatan melukisnya seraya bertanya-tanya mengakrabkan diri. Tapi seluruh kalimat yang kuucapkan seolah tak terjawab. Semua berakhir dengan senyuman atau gelengannya.

“Biru!” Teriak Akhsan dan Sabah yang kini sudah siap dengan perahu kami. Kawan, tak tahukah kau bahwa kusedang melakukan suatu pendekatan pada gadis di sampingku? Tolerilah sedikit! Rutukku dalam hati mengabaikan teriakan mereka. Tapi sepertinya, kali ini aku memang harus kembali melaut. Saat gadis di sampingku mengisyaratkan tuk pergi menyusul temanku dengan memajukan dagunya mengarah ke perahuku.

Tidak ada alasan lagi untukku tuk berada di sini. Baik, aku pergi. Tapi kau harus tahu, wahai gadis yang belum kuketahui namanya! Aku akan menemanuimu lagi!

“Bisu toh?” Tanya Akhsan padaku sesampainya langkahku di perahu. Aku hanya menggeleng tak yakin. “Lho, Bah, temanmu membisu juga!” Ledek Akhsan padaku.

“Nggak. Aku nggak yakin dia bisu atau nggak. Buktinya dia ngerti semua yang aku omongkan.”

“Itu namanya jatuh cinta. Selalu membenarkan segalanya tanpa pengecualian.” Goda Sabah yang disambut dengan kekehan Akhsan.

“Aku cuma nggak yakin. Bukan membenarkan.” Aku mencoba mengelak. Tapi sesuatu kecil di hatiku seakan membenarkan apa yang mereka ucapkan.

Lalu perahu mulai jalan menuju tengah laut. Bersama dengan Akhsan, Sabah dan aku-yang masih memperhatikan gadis itu. Ia kini terlihat bersiap tuk melukis. Apa aku.. jatuh hati? Batinku sendiri yang mendadak langsung ketepis. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal tersebut. Tapi ya, aku masih termangu mengawasinya di sini. Kau tak bisu, kan? Sejenak, keyakinan itu seolah meraup cepat hingga membuatku mantap berpresepsi bahwa gadis itu memang tak bisu. Oh, Biru. Kau memang jatuh hati padanya.

NIUUU-NIIIUUUUU-NIIIIUUUU

Sirine ambulance terdengar jelas dari tempatku menapakkan kaki. Pangandaran hancur.. Pesona alam yang elok kini semrawut. Daratannya terpenuhi serpihan perahu yang hancur diterjang ombak besar. Banyak terdapat puing-puing rumah penduduk berupa bata tertabur acak di sepanjang pesisir. Bersamaan dengan mayat-mayat manusia yang tergeletak di sana-sini.

Aku masih berdiri di sini. Menyaksikan dampak besar yang terjadi pada rumahku karena tsunami yang baru saja melanda Pangandaran. Bersama dengan secarik kertas dan kanvas yang entah mengapa bisa berada tepat di sampingku saat kukerjapkan mata.

Penasaran apa isinya, kubuka lipatan kertas yang kupegang dan mulai membacanya.

Biru, aku Niam. Aku bisu. Aku hanya bisa melukis. Ini kamu. Itu kamu. Lukisanku itu kamu. Kau suka-kah? Maaf bila tak sesuai. Senang mengenalmu. Akhirnya kau menyapaku, juga. Terima kasih, Biru. Ohya, aku jatuh hati. Aku jatuh hati denganmu.

Tepat saat itu juga, perasaan marah dan senang bercampur-baur dalam hatiku. Aku menyesal. Kenapa kau pergi meninggalkanku dengan surat dan lukisanmu ini? Hey, apa kau selamat?

Biru, jatuh hati. Biru, aku jatuh hati padamu.

~END~

words count : 700

gambar diambil dari sini.
YAAMPUN SAYA TELAT LAGI w(‘A’w) nggak urus deh telat, penting konsisten tetep ikuuut XD
capcus aja deh ke cerita selanjutnya. maaf kaau ini kayaknya maksa-__-v saran an kritik-nya monggo :33

Advertisements

18 thoughts on “#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati

  1. Semangat kan terus kawan… Semangat remajamu masih mengejarmu. Bukan mengejar target, tetapi mengejar kreativitas, explorasi bakat, tanpa batas imajimu…
    🙂

  2. kereeeen…:D
    FF itu flash-fiction bukan yh..?
    cara ikutnya gmn tuuh? soalnya ngeliat ada juga yang sama judulnya, tapi memang ceritanya beda-beda..

    #makasiih buat penjelasaannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s