#15HaringeblogFF2 – 5th – Sepanjang Jalan Braga

#15HariNgeblogFF2 - Sepanjang Jalan Braga
#15HariNgeblogFF2 – Sepanjang Jalan Braga

“Ma, aku benar anak mama?”

“Kamu bicara apa sih, Set.. Jangan ngelantur.”

“Kalo aku memang anak mama, papa mana ma? Kenapa papa nggak pernah ngehubungin aku?
Tolong ma, jujur sama aku.. Apa aku anak haram?”

PLAK!

“Kamu anak mama, Seta! Kamu anak kami! Tak ada bayi haram di dunia ini! Kamu suci!
Kamu anak Allah! Berhenti ngomong yang tidak-tidak! Kamu anak kandung mama!”

Jarum-jarum jam tanganku membentuk pukul setengah 12. Hampir tengah malam. Jalanan terlihat lengang. Tak ada hiruk-pikuk aktivitas manusia terjadi. Hanya terdengar deru motorku berbaur dengan semilir angin malam yang menerpa tubuhku di sini.

Jalan Braga.

Entah mengapa tiba-tiba kumenjalankan kendaraan roda dua-ku kemari. Aneh. Niatku yang ignin clubbing malah membawaku kesini. Hah, sudahlah. Masa bodoh. Aku hanya butuh waktu sendiri sekarang.

Sesampaiku di tengah pusat jalan, kuparkir motor harley-ku merapat trotoar. Sungguh sepi lingkungan sekitar. Dua hal yang hidup sepenglihatanku hanyalah diriku dan lentera lampu pinggir jalan yang ada. Sungguh, tenpat yang sangat tepat untuk kondisiku sekarang.

Setelah mengunci motor, kududukkan diriku tak jauh dari parkiran. Tepat di depan toko roti yang tentunya kini tengah tertutupi tralis besi.

“Kamu anak mama, Seta! Kamu anak kami! Tak ada bayi haram di dunia ini! Kamu suci! Kamu anak Allah!”

Sial! Kenapa kalimat mama masih saja mendengung dalam gendang telingaku? Argh! Seharusnya mama tak perlu berbohong padaku. Aku tahu bahwa aku memang bukan anaknya. Aku tahu bahwa aku lahir tanpa dampingan seorang ayah. Aku tau.. bahwa aku adalah anak haram.

Miris. Aku benar-benar mengasihani diriku sendiri sekarang. Tiba-tiba saja aku merasa air mataku turun menyusuri lengkuk pipiku.

Hey, Seta? Kau menangis? Hah! Kau laki-laki bung! Tak pantas menangis karena hal seperti ini! Sudah! Biarkan semua berlalu. Biarkan.. Biarkan..

Namun pada akhirnya, bulir-bulir air mataku yang lain menyusul tuk jatuh layaknya yang pertama. Lalu akhirnya aku.. Terisak. Jujur, kini aku merasa berada pada titik terendahku.

Untuk apa aku hidup di dunia ini bila pada awalnya tak ada yang menginginkanku? Bahkan tak ada yang pedulikanku seakan aku tak pernah hadir di dunia.
Untuk apa aku hidup di antara sirat-sirat kedustaan yang mengepungiku? Bahkan menjerat erat sekan telah melekat tanpa sekat.
Jadi, untuk apa aku hidup?

“AARGH!” Sekali lagi, aku ingin terenyah akan dari dunia ini. Sebagai pelampiasan, kuambil rokok dan mancis dari kantong jaketku. Lalu mulai menyalakannya. Di saat seperti ini, dua hal itulah yang jadi pelarianku, selalu.

Sekali kumantik.. Tidak menyala.
Kedua kali kumantik.. Padam tiba-tiba.
Ketiga kali kumantik.. Aneh, kenapa api selalu lenyap tepat saat kudekatkan ujung rokok tuk membarakannya?

Sejenak aku merasakan pundakku tersentuh jemari manusia..

“Seta, kau harus mulai belajar cara tuk percaya pada orang lain. Terutama ibumu-tentunya.”

Tepat saat aku menolehkan kepala ke arah datangnya suara, kumelihat seorang pria tampan bercahaya di sampingku. Wajahnya sepintas mirip ibuku. Ia amat bercahaya. Hingga mataku perih tak kuasa menahan sinarnya. Tapi aku berusaha untuk melihatnya lagi. Walaupun saat kubuka mata pancaran itu kian bersinar dan menyebabkan manikku terpejam lagi.

Aku merasa sinar itu sekan menggelap seketika seiring dengan penglihatanku yang-entah mengapa-ikut mengabur. Tanpa kusadari, gelap itu meraup cepat memenuhi kelopak mataku.

Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.

“Seta? Seta! Astaga.. Kamu ngapain di sini nak? Ya Tuhan, apa yang telah terjadi sama kamu? Seta anakku, kenapa kamu bisa begini?”

Mama?

Benarkah ini mamaku? Benarkah wanita ini mama kandungku? Benarkah ia seorang mama yang telah kusiasiakan selama ini? Benarkah ia yang telah kudurkahai sampai kini?

Iya benar. Wanita yang masih memelukku khawatir di trotoar jalan ini adalah mama kandungku. Seketika aku benar-benar merasa memiliki dosa bertumpuk pada wanita suci di sisiku ini.

Oh, hari sudah pagi sekarang. Sebentar, mengapa banyak orang yang mengelilingi kami? Pria itu.. Dimana pria itu? Pria bersinarkan kesilauan malam lalu di sepanjang jalan ini.

Pria kemarin itu memberitahuku. Pria penuh sinar itu memaparkan segalanya padaku. Pria itu.. suami ibuku. Papaku itu telah menemui dan menjelaskan semuanya padaku. Saat malam lalu di sepanjang jalan Beraga ini yang nyatanya penuh kenangan antara dirinya dengan mamaku. Nyatanya Jalan Beraga ini sangat berarti bagiku sekarang.

Ya, sepanjang Jalan Beraga.

Ya Tuhan, maukah kau memberiku satu saja kesempatan tuk memperbaiki semuanya? Maukah kau mengizinkanku? Aku memohon dengan amat sangat, Ya Tuhan..

“Ma-ma? Ma-a-af.” Tepat saat aku mengakhiri kalimatku, kepalaku mulai terasa pening lalu tanpa kusadari, gelap memenuhi kelopak mata terpejamku-lagi.

~END~

words count : 700

gambar diambil di sini. brrr, saya telat lagi. ini ikarenakan stres yang mendera pas postingan lusa lalu-__- maaf kalau GJ kawan. saya masih belajar dan butuh krtik serta saran :mrgreen:

Advertisements

6 thoughts on “#15HaringeblogFF2 – 5th – Sepanjang Jalan Braga

    1. kakak tau ajaaa :3
      tepatnya sih masih mencoba untuk mengumpulkan puingpuing semangat yang sebelumnya pecah kemana-mana *nah ini bukti juga kalo saya masih stres* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s