#15HaringeblogFF2 – 4th – Kerudung Merah

#15HariNgeblogFF – Kerudung Merah
#15HariNgeblogFF – Kerudung Merah

“Mak, saya minta izin tuk ikut perang. Mak tau sendiri kan saya tak tahan melihat kekalahan yang selalu didera kampung kite?” Pinta Laksmi pada ibunya yang kini merenung menatap purnama di jendela pande[1] mereka yang langsung menghadap bentangan danau dengan permukaan berkilauan karena tersapu sinar bulan. Untuk kali ini lagi, ibu Laksmi hanya bisa menghembuskan nafas besar. Bukan karena ragu akan kemampuan putrinya, tapi.. Berperang? Berperang dalam arti sebenarnya dimana ia harus melepaskan anak semata wayangnya sendiri ke medan perang? Dengan presentase potensi yang lebih tinggi tuk kehilangan? Kehilangan karena gadisnya bisa saja..

“Tak boleh. Bapak tak mengizinkan. Kau itu gadis, cukuplah di rumah. Mengurus pande ini yang sebentar lagi jadi milik kau.” Sela bapaknya yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu.

“Pak, tak bise. Bapak tau kalo Laksmi lebih pandei dari mereka yang laki-laki, kan? Ini kesempatan, Pak. Sebelum akhirnye Toba beserta Samosirnya resmi jadi milik mereka.” Ucap Laksmi meyakinkan sang bapak.

“Tak, sekali tak tetap tak.” Ujar sang bapak lantang menolak keinginan Laksmi. Merasa tak dapat merayu ayahnya, Laksmi-pun beranjak mendekati ibunya yang masih memandang eloknya Danau Toba dengan temaram obor di sepanjang sisian tepinya.

“Mak, Laksmi mohon mak..” Tapi sang ibu tak merespon. Beliau masih termenung diam. “Mak mau kampung kita damei, kan?” Ucap Laksmi meyakinkan lagi. Namun tetap tak ada perubahan berarti. “Mak..” Panggil gadis itu lagi memohon dengan sangat pada ibundanya. Pasrah, Laksmi kembali beringsut mendekati ayahnya dengan secercah harapan yang masih diyakininya. “Ini satu-satunye kesempatan kite, Pak. Laksmi mohon, izinkan saye. Bapak pasti-pun tak meragukan kemampuan Laksmi, kan?”

“Kau gadis Laksmi, sudah berapa kali bapak katekan tak boleh ya tak-”

“Biarkan die pergi, bang.” Potong sang ibu cepat. Wajah muram Laksmi mencerah seketika. Berbeda dengan suaminya yang refleks membelalakkan matanya lebar. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Rahmi! Kau gile ape? Tak! Awak tak setu-”

“Biarkan bang.. Mak yakin Laksmi bise. Die bener, pemude di kampung kite dah hampir abis.. Die satu-satunya harapan, bang. Percaya Mak..”

“Tak! Sekali tak tetap tak! Mending awak tenggelem di Toba daripada nanti lihat kau tak ade! Sudahleh! Banyak cakep kalien!” Bapak Laksmi gusar. Ia melayangkan pukulan ke arah dinding pande dengan amat keras. Menjatuhkan pigura keluarga kecil mereka hingga pecah. Menyisakan keperihan pada hati Laksmi lantaran bapaknya masih belum mengerti keinginan tulusnya.

“Kau pergilah sekarang. Ikut sama Bang Ikhsan. Pake ini..” Perintah seorang perempuan pada anaknya dalam kegelapan malam di hutan yang tak jauh dari perkampungan Samosir.

“Mereh?” Tanya seorang gadis saat perempuan yang baru saja memerintahkannya memberikan gadis itu kerudung merah.

“Ye, kau pake lah kerudung merah ini. Kalau kau berhasil, suruh mereke pasang kerudung putih kau. Tapi, kalau kau mati.. Suruh mereke pasang kerudung ini sebagai bendera kepulangan mereke. ” Jelas perempuan itu lagi dengan sebulir air mata yang tersamarkan oleh minimnya pencahayaan di tempat mereka berpijak.

“Bapak?”

“Usah kau khawatirkan die. Die setuju..”

“Mak..” Ucap gadis itu parau seakan tak tega karena sebentar lagi akan meninggalkan ibu tersayangnya.

“Tak-tak usah menangis. Sana! Cepatlah pergi!”

Seorang laki-laki kini tengah berdiri di ujung titik tertinggi Pulau Samosir. Di sana ia dapat dengan jelas melihat daratan Sumatra hanya dengan menyapukan sekali pandangan. Awan hitam menghiasi cakrawala langit. Angin berhembus kencang. Kilat menyambar-nyambar. Permukaan air danaupun berombak liar. Kiranya sebentar lagi akan turun hujan. Semua orang yang masih beraktivitas di luar rumah mereka terlihat bergegas mencari tempat berteduh. Tapi tidak bagi laki-laki ini. Ia menunggu. Ia masih menunggu. Menunggu kepastian. Menunggu kerudung..

“Laksmi?!” Serunya melihat sekawanan pemuda berjalan tegap muncul dari ujung danau dengan membawa setongkat kayu berkibarkan kain..

“Kalau putih die balik, kalo mereh.. Abang tau-lah.”

Ucapan istrinya terngiang kembali dalam benaknya. Seketika jantungnya seolah berhenti berdegup. Hatinya seakan tertusuk beribu sembilu yang pilu. “Merah?” Laki-laki merasa cacad. Hidupnya tak lengkap lagi. Tepat saat ia kehilangan asa tuk hidup, bulir-bulir air matanya menetes. Seiring dengan jatuhnya titik-titik cair dari langit. “LAKSMI! HARUSNYA KAU IDUP, NAK!” Teriaknya penuh sesal. Lelaki itu meraung, berteriak, terisak hingga akhirnya ia merasa tak pantas lagi tuk hidup. “Rahmi, kerudung itu merah! Dia mati, akupun mati!”

Lalu lelaki itu-pun menjatuhkan dirinya ke danau.

“Laksmi! Kite menang!”

“Iye, bang, Alhamdulilleh!”

“Kau punya kain lagi? Kain putih kau terkoyak, Mi.”

“Ini bang.. Yang penting kain, kan? Pakelah. Pake kerudung merah Laksmi ini.”

~END~

words count : 700

aaa, 4th posting! another FF GEJE from meeeh. kritikan, sarannya ditunggu yah kawan kalau kalian sempat membaca FF ini♥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s