#15HariNgeblogFF2 – 1st – Menunggu Lampu Hijau

Aku berhenti berjalan. Menelusuri kota Bukittinggi selalu menjadi kebiasaan tiap hariku. Bulatan hijau terang seketika merdup seiring dengan tergantinya oleh warna pelambang keberanian. Disusul dengan detiknya yang genap enam-puluh tuk dihitung mundur memberikan giliran bagi kendaraan di sebarang.

Lengang. Entah mengapa siang ini jalanan masih tampak sepi. Maksudku apabila dibanding dengan jam tujuh, kini kita tentu terbebas dari kemacetan. Salah satu alasan favoritku mengapa aku suka berpetualang di waktu sekarang.

Bosan. Aku selalu melewati perempatan traffic-light ini. Tepat dengan jam gadang di sisi kanannya. Tuk mengusir rasa jenuh, kuedarkan pandangan menyapu ke tanah sekitar objek wisata minang tersebut. Manis. Setiap orang yang berlalu terlihat berbahagia menyunggingkan senyum lebarnya dengan berjalan bersama orang terdekat.

Sebuah pemandangan yang selalu kulihat di sini. Di traffic light ini. Yang letaknya bersebelah dengan jam gadang. Tepat saat kumenunggu lampu hijau.

Iri. Jujur aku bisa ingin melakukan layaknya seperti mereka. Menunggu bergantinya lampu merah-memang selalu membuat hati kecilku teriris-iris. Andai Kudapat mengulang semua kenangan itu..

Lalu perhatianku terhenti pada seorang pria setengah baya yang tak jauh dari tempatku berdiri. Ia masih di situ. Duduk di sisi jam gadang. Masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kamera canon DSLR-nya juga masih ia bawa. Nampaknya mentari siang ini tak terlalu menyengat. Tak seperti hari-hari kemarin dimana dahinya terpenuhi oleh peluh kerja keras.

“Kak, foto kak? Dua-lima aja per foto. Langsung jadi, ada cd juga. Ayo, kak?” Ucapnya menawarkan jasa tepat saat ada wisatawan tanpa kamera berlalu. Ia tergopoh sendiri dengan membawa contoh-contoh foto di tangannya hanya demi meyakinkan calon penerima jasanya itu.

Kakinya pincang. Ya, baru kusadari kaki kanannya masih berjalan lebih terseok dari kaki kirinya. Ya Tuhan, kapan ia bisa kembali berjalan normal seperti dulu? Tak tega melihatnya berlari kecil meraih wisatawan yang sepertinya tak menghiraukan kehadirannya. ‘Hey, ibu gendut! Kau kaya! Aku tahu itu dari segala yang kau kenakan! Tak maukah kau keluarkan uang barang sedikit saja dari dompet tebalmu? Lihat sekitarmu! Pedulilah sedikit!’ Rutukku dalam hati menahan emosi.

“Kak? Fotolah ya? Langsung jadi dua-lima aja-” Ucapnya masih dengan memeperlihatkan contoh foto kepada ibu dengan kedua anaknya tersebut. Seperti dugaanku tadi, sang ibu benar-benar tak peduli. Masa bodoh sekali fikirnya melihat ada orang yang mengemis menawarkan jasa padanya. Hingga akhirnya kalimat pria itu terputus karena ada fotografer lain yang tak sengaja menabraknya dari belakang. Membuat lembar-lembar foto yang ia pegang berserakan di tanah.

“Loh, pak Pi’i, maaf pak. Maaf.” Ucap fotografer itu ketika melihat sekilas pada pria yang kini tengah mengumpulkan kembali contoh-contoh fotonya. Sama seperti kemarin, sang tukang-foto itu tak peduli dengan keadaan pria yang ditabraknya. Fotografer amatiran itu malah sibuk melayani pembeli jasanya.

“Bapak tak ape? Kok bisalah jatuh begini. Ayo pak, duduk dulu. Fira ude belikan minum. Ayo, pak.” Ajak seorang gadis manis membantu pria itu mengumpulkan hasil fotonya. Rautnya menampakkan keterkejutan melihat bapaknya terduduk di tanah tanpa seorangpun yang peduli. Mungkin ini bukan yang pertama ia melihat bapaknya diperlakukan seperti ini. Sama sepertiku dulu, aku telah biasa melihat pria itu diacuhkan orang lain. Bahkan mungkin, itu makanan mataku setiap hari.

Setelah semua sudah dibereskan, kedua orang yang kukenal itu kembali duduk di bangku panjang sebelah jam gadang. Masih di tempat yang sama. Seperti tadi. Seperti hari ini. Seperti hari-hari kemarin. Seperti dulu.

Ia terlihat lelah. Pria itu meneguk cepat segelas es teh yang diberikan oleh putrinya. Kiranya gadis yang duduk di sebelahnya sangat tahu bagaimana keadaan ayahnya. Ia hanya bisa terdiam dan termenung. Seperti yang ia lakukan biasanya.

“Andai Kak Sari di sini, kite nggak akan begini, Pak.” Gumamnya lirih pada dirinya sendiri yang ternyata masih bisa terdengar oleh pria di sampingnya. Seketika pria itu menoleh, lalu memeluk putrinya hangat.

TINTINTIN

Dan lampu hijau-pun menyala. Waktuku telah tiba. Lima tahun aku di sini menjaga kedua orang yang kini tengah kuperhatikan. Bapak, Fira.. Maaf. Maaf atas semuanya hingga kalian menjadi seperti ini. Maaf karena akhirnya tempat sehari-hari kalian mengais rejeki-selalu memberikan trauma mendalam bagi kalian. Maaf.

Semua akan baik-baik saja. Telah kuprediksi. Kalian tak akan tersiksa lagi. Sudah lama kumenunggu lampu hijau di hari ke-1852-ku. Menunggu hari dimana semua akan membaik layaknya dulu. Kalian hanya perlu menunggu. Karena saat kuberjalan ke tempat reinkarnasiku.. Kalian akan seutuhnya mendapatkan kembali kebahagiaan itu.

Tunggulah sedikit lagi. Tunggulah lampu hijau. Tunggulah. Semua akan indah pada waktunya.

~END~

words count : 700


1st posting for this week ! this is called stretching for the next others of 14Flashfiction lateer ! hihi. Wanna join too ? check this out πŸ˜‰

Advertisements

10 thoughts on “#15HariNgeblogFF2 – 1st – Menunggu Lampu Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s