Cody Love Story – It’s More Than Love (12)

cody love story - its more than love - cover
cody love story – its more than love – cover

 

  • Nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

Maaf atas keterlambatan saya nge-update.__.v cerita ini bakal saya terusin sampe part 20-an kok. comment, kritik langsung aja di sini atau mention ke twitterku yaah 😉

PART XII

“Cody..” gumaman lirih Lalak terdengar jelas oleh pemuda yang berjalan beriringan dengannya. Billy. Sontak, pemuda itu mengangkat kepalanya dan mendapati seorang lelaki pirang yang tengah berdiri di depan tangga rumah Lalak. Dengan raut muka terkejut bercampur lega yang tak bisa disembunyikan oleh lelaki itu.

Untuk beberapa detik, mereka bertiga hanya terpaku di tempat masing-masing. Masih terkejut akan apa yang ada di hadapan mereka. Khususnya gadis yang kini berdiri di sebelah Billy. Sosok yang mengenakan kemeja biru laut dan jeans biru muda itu membuatnya terhenyak. Terlebih karena helaian syal biru yang tergantung manis di leher lelaki itu. Hingga membuat batin Lalak bertanya-tanya mengapa benda itu bisa terikat menghangatkan lelaki di hadapannya.

Entah mengapa tiba-tiba kakinya terasa berat untuk digerakkan. Entah mengapa tibatiba matanya hanya terpaku menatap sosok pemuda bermata samudra itu. Entah mengapa tiba-tiba ia kehabisan kata. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang. Entah kenapa tiba-tiba..

“Guys..” sapa Cody lirih seraya beranjak ke depan mendekati kedua teman baiknya. Sapaannya membuat lamunan Lalak buyar. Seketika itu juga, ia palingkan pandangannya dari lelaki itu dan berjalan ragu mendekatinya. Diiringi dengan Billy yang berjalan di samping Lalak. Tanpa Lalak sadari, pemuda di sampingnya itu merasa sangat terkejut dan tak rela karena kehadiran Cody di sini. Hari ini, ia telah sukses membuat gadis yang tadi terlelap di bahunya tersenyum merekah. Tapi kini, hanya karena sosok lelaki di hadapannya.. mood gadis itu berubah dan wajahnya tampak murung. Dan itu artinya, apa yang Billy lakukan hari ini akan berakhir sia-sia.

“Hi.” Sapa Lalak sama lirihnya dengan Cody. Ia menyapa tanpa menatap manik lelaki itu. Menurutnya, memandang mata samudra Cody sama saja mengulang semua kegalauan yang telah-sedikit berhasil-ia lewati.

“Hi, Co.” Sapa Billy dingin dengan menjabat tangan Cody dan memeluknya seperti sahabat. “What are you doing here?” Tanya Billy memecah keheningan yang masih menyelimuti mereka. Ia seperti mewakili Lalak untuk berbicara dengan teman baiknya itu. Cody terlihat kikuk. Sama kikuknya dengan Lalak yang sepertinya berusaha meniadakan Cody dari pandangan matanya. Tapi yang terjadi, gadis itu malah nampak gugup dengan keadaan ini.

“I wanna.. talk to Lalak..” Jawab Cody dengan melemparkan pandangannya pada manik hitam gadis di hadapannya yang kini terlihat risau. Belum sempat Billy berkomentar, Cody cepat-cepat menambahkan “..Just two of us.” Ujarnya tegas. Tepat ketika berkata seperti itu, mata Lalak bertemu dengan Cody  yang kini tengah menatapnya lurus. Lelaki itu bisa melihat kegamangan yang terlukis jelas pada raut wajah gadis itu. Tapi, ia meyakinkan Lalak lewat sorot maniknya bahwa ia memang harus berbicara empat mata dengannya.

“I’m okay, Billy. You can go home.” Sela Lalak pelan sebelum Billy berkata. Di benak Billy sekarang hanya terisi oleh ancaman bagaimana jadinya Lalak malam ini dengan kedatangan Cody sekarang. Yang pastinya akan membuat gadis itu galau lagi. Dan Billy tak mau hal itu terjadi. Melihat Lalak yang terkejut akan kedatangan Cody ini saja sudah membuat hatinya mendadak panas. Meskipun ia tak tahu mengapa respon hati kecilnya bisa begitu.

“Are you sure?” Tanya Billy khawatir sembari menyentuh pundak Lalak.

“Yeah. Thanks for today.” Ucapnya berterima kasih menyunggingkan senyum kecil. Senyum terpaksanya yang tak ingin Billy lihat sekarang. Lalu, mereka berpelukan hangat, berbisik terkekeh, dan tersenyum satu sama lain. Potret kenyataan yang membuat lelaki di hadapan Lalak dan Billy cemburu. Kemudian pemuda itu pamit pulang pada Cody dan Lalak. Sebelum Billy beranjak pergi, ia mendekati Cody dan berbisik.

“I’ve warned you.” Ucapnya singkat dengan hujaman mata yang mengancam. Cody tak perlu menjawabnya karena sebelum ia berkata, pemuda itu telah berjalan cepat menyusuri jalan yang telah dilewatinya bersama Lalak tadi. Sebuah ancaman yang menurut Cody tak berpengaruh pada dirinya. Karena menurutnya, ia tak pernah memainkan seorang gadis yang dimaksud Billy. Perasaan itu berkembang tiba-tiba tanpa ia minta. Tanpa disadarinya. Tanpa paksaan. Tanpa..

“I prefer go to park than talk in my house.” Ujar Lalak kikuk membuyarkan fikiran Cody. Cepat-cepat ia tersadar dan memberi Lalak seulas senyum menenangkan yang diam-diam, membuat hati gadis itu nyaman pada situasi ini.

“Yeah, I agree.” Dan berjalanlah mereka menuju taman. Taman yang ia kunjungi bersama Billy dua hari yang lalu. Taman indah yang hanya Lalak kunjungi bersama orang terdekatnya. Suara gemerisik daun terdengar jelas oleh pemuda-pemudi tersebut karena terlampau heningnya suasana di antara mereka. Bukan karena tak ada hal yang ingin dibicarakan, melainkan gugup untuk memulai banyak pembicaraan yang menurut Cody harus segera diungkapkan. Karena bagaimanapun, kini ia harus mengusaikan masa renggangnya dengan gadis yang berjalan di sampingnya. Lalak memang berjalan di sisinya, tapi entah mengapa menurutnya fikiran gadis itu tak berada di sini. Seolah-olah ada rentangan jarak dan tembok besar yang memisahkan jalan pemikiran mereka.

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Lalak. Semenjak tercengang melihat sosok Cody berdiri di ambang rumahnya, sudah dipastikan hati gadis itu menggalau lagi. Sebenarnya ia belum siap bertemu dengan lelaki pirang itu. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa menyukai pemuda di sebelahnya sama saja dengan perasaan seorang penggemar di antara jutaan fans lain. Yang mana bisa dipastikan tak akan terbalas, tak akan memiliki, tak akan..

“Hey!” Seru Cody pada gadis di sampingnya. Lamunan kesana-kemarinya membuat Lalak tak sadar menginjak tali sepatunya sendiri. Mengakibatkan tubuhnya refleks condong ke depan dan nyaris terjerembap. Tapi lelaki di sampingnya.. Laki-laki yang-jujur-amat ia rindukan.. Lelaki bermata samudra itu.. Lengan panjang kekarnya secepat kilat merentang,  dengan tangan kanan-kirinya mencengkram erat kedua bahu Lalak, untuk menahan agar gadis itu tak terjatuh. Perlakuan Cody menularkan kehangatan nyaman serta melenyapkan jarak yang tercipta di antara mereka. Jarak langkah, fikiran dan situasi.

Seketika Lalak sadar dimana ia berpijak. Posisinya kini membuat gadis itu refleks menatap lekat bulatan samudra itu. Bulatan sendu yang menyiratkan kecemasan dan.. kerinduan? Ya, binar yang biasa ia nikmati pada manik itu sirna tergantikan oleh keredupan. Kini Lalak baru tersadar bahwa masih ada bekas luka pada sudut bibir Cody. Dan sedikit rona ungu pada pipi kirinya. Untuk sepersekian detik, lagi-lagi mata hitam Lalak terkunci dalam sepasang bulatan samudra di hadapannya. Tatapan meneduhkan yang diam-diam ia rindukan. Buru-buru Lalak stabilkan keseimbangan tubuhnya, berdiri normal, menepis kedua telapak yang mencengkramnya hangat, dan bergumam terbata, “T-thanks.” Dengan menyunggikan sesimpul senyum kecanggungan.

Cody nampak salah tingkah. Cepat-cepat kakinya melangkah mundur sedikit tuk memberi gadis berambut ikal itu ruangan bergerak. Lelaki itu masih digelayuti kebingungan akan apa yang harus dilakukannya pertama kali untuk menyudahi situasi canggung ini. Lalu Lalak berjongkok dan mengikat tali sepatunya erat sembari merutuki kebodohan yang menurutnya amat tak tepat di situasi ini. Ia kembali berdiri dan mendapati guratan kecanggungan pada raut muka Cody. Mungkin kali ini, giliran Lalak yang harus mengambil langkah pertama.

“How’s life, Co?” Tanyanya berusaha bersikap normal dengan memberikan Cody seulas senyum hangat yang sengaja Lalak sunggingkan. Lelaki itu nampak tergagap, tapi dengan tegas ia menjawab..

“Like.. Yeah, kinda not usual.” Jawabnya pelan. Lalak hanya bergumam ‘mmm’ sembari menunduk rendah menganggukkan kepalanya. Kaki-kaki mereka melangkah lagi menuju taman. Dengan suasana yang sedikit bisa Cody kendalikan. “How about you?” ucap Cody balik bertanya. Tidak dapat dielakkan, hatinya merindu dan penasaran akan hari-hari Lalak yang tidak bisa Cody ketahui, tidak bisa diamatinya, serta tidak bisa diawasinya.

“Hmm, fine… maybe.” Ujar Lalak pelan dan terputus saat akan mengatakan ‘maybe.’ Gadis itu tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hari-harinya belakangan ini tidak sebaik seperti biasanya. “So.. Why are you here?” Tanya Lalak membuka topik baru.  Setidaknya, ia masih tidak tahu alasan Cody menemuinya sekarang. Tidak tahu? Lebih tepatnya, tidak yakin.

“I just.. Wanna to see you.” Ucap Cody lirih dengan menolehkan kepalanya ke Lalak yang sebelumnya menengadah langit sore. Gadis di sampingnya menatap dirinya dengan tatapan kecanggungan dalam keterkejutan. Dan Lalak hanya bisa bergumam ‘Oh,’ tanpa berkomentar. “What’s happen with your cheek?” Tanya Cody menunjuk rona merah pada pipi kanan Lalak yang baru ia sadari ketika menahan tubuh Lalak tadi.

“Just.. Litlle accident.” Jawab gadis itu sekenanya. Jawaban yang enggan ia jabarkan kedetailannya. Karena rona itu lagi-lagi berhubungan dengan lelaki di sampingnya dan membuat hati wanitanya tercabik koyak. Tapi mungkin, harapan untuk tidak menjabarkan masalah itu harus Lalak telan cepat-cepat karena tiba-tiba Cody mendesak..

“When?”

“Just now.”

“Where?”

“I.. forget.”

“How can?”

“It’s complicated.”

“How can you answer complicated while you forget that incident?”

“I just.. can’t remember all clearly.”

“Hurt?”

“No..”

“Lying.” Serentetan pertanyaan yang dilontarkan Cody membuat Lalak semakin bersalah. Ia tak mau jujur mengenai hal ini sekarang. Menurutnya bercerita pengalaman itu sama saja membuka luka yang baru saja terobati oleh seorang Billy di sampingnya-tadi. Dan satu kata yang diucapkan Cody terakhir.. membuat hatinya terasa panas karena tahu bahwa lelaki itu masih bisa mengetahui perasaannya tanpa Lalak harus mengatakannya. Sirat kepedulian yang Cody tunjukkan hanya semakin membuat hatinya sakit lagi. Karena itu, ia ingin menegaskan pada Cody untuk berhenti memperlakukannya seperti ini. Perilaku yang membuatnya bisa terbang tinggi dan jatuh terperosok lebih cepat pada saat yang bersamaan.

“Can you stop doing this kind of thing while you have anyone else?” Tanya Lalak tegas menatap binar redup mata Cody. Langkah mereka terhenti di tengah-tengah taman yang kini masih tertutupi oleh guguran daun pohon-pohon besar di sekelilingnya. Di depan bangku kayu panjang yang beberapa hari lalu ia duduki bersama Billy.

Park - cody simpson love story - its more than love - part 12
Park – cody simpson love story – its more than love – part 12

“What?” Tanya Cody bingung akan pertanyaan yang Lalak lontarkan. Anyone else? Siapa? Apa maksudnya? Detik itu juga, hati Lalak merasa perih lagi. Ingin sekali ia langsung berbaikan dengan lelaki di hadapannya. She does really-really misses him a lot. Couldn’t see his face, his smile, his eyes.. Couldn’t hear his voice, his whispered, his joke.. Don’t know what’s his condition for these last days.. Yeah, all of that just some facts that proves her feeling. But she can’t dodge that her emotion isn’t stabil now. For a while, that teens’re just quiet hearing rustling-leaves.

“I’m so-” ucap Cody dan Lalak bersamaan saat mereka mendudukkan diri di atas bangku taman dengan perasaan campur aduk masing-masing. Membuat manik kedua insan itu saling terkunci satu sama lain. Sedikit terhenyak karena nyatanya mereka menginginkan hal yang sama. Detik berikutnya, Lalak membuang pandangannya dan berkata cepat..

“Go ahead.” Lalak menyilahkan Cody untuk mengucapkan hal yang ia inginkan dulu. Karena Lalak fikir, ia harus mulai bisa mengatur perasaan dan emosinya sendiri lagi sebelum berbicara.

“No, you first.” Tolak Cody menggelengkan kepala masih dengan tatapan merindunya kepada Lalak.

“You are the one who visits me. It means that there is something you want to talk. So, just say it now.” Ucap Lalak mencoba untuk tetap membuat Cody mengungkapkan apa yang ia inginkan dahulu. Sejenak, Cody bungkam. Ia hanya menatap manik hitam Lalak masih dengan sebersit rasa bersalah. Kelihatannya, lelaki itu masih memilah topik pertama yang akan ia angkat.

“Mmm, thanks for the shawl.” Ucapnya selekas menghembuskan nafas besar. Kalimat itu membuat gadis yang memalingkan muka darinya tersentak lagi. Seketika ia menengadahkan kepalanya menghadap Cody dan menemukan cekungan kecil pada muka lelaki itu.

“How about Ky-?”

“I don’t like hers. I like yours.” Sela Cody cepat sebelum Lalak menyelesaikan pertanyaannya. Lalak bingung, mengapa orang yang ia damba bisa menjadi seperti ini? Bukankah itu sifat yang kekanak-kanakan? Meskipun Lalak bisa merasakan secuil rasa kelegaan dalam hatinya. Mungkin karena ia merasa sedikit menang dari seorang Kylie. Sebentar, menang? Apa? Tidak, tidak. Cepat-cepat Lalak menepis pemikiran itu. Dia masih menuntut alasan yang lebih jelas dari lelaki di sampingnya ini.

“What?” Tanya Lalak bingung, masih menatap Cody yang tengah melemparkan pandangan pada geguguran daun di atas rumput hijau.

“Sorry for not consider you at that time..” Ucap Cody pelan seraya menatap bulatan hitam Lalak lurus. Sepasang manik indah yang ia rindukan binarnya selama beberapa hari terakhir ini. Selama ia tak menemuinya. Selama sang empunya tak mau berhubungan dengannya.

 

JLEB

 

Entah mengapa perkataan Cody membuat hatinya nyeri. Akhirnya, hari itu ia ingat lagi. Akhirnya masalah ini Cody bicarakan. Akhirnya ia merasa galau lagi. Akhirnya ia mendapat permohonan maaf dari seorang Cody. Sejujurnya, Lalak tidak terlalu menanti kalimat itu. Tidak terlalu? Kini dirinya sendiri kian bingung dengan keinginannya. Tidak, Cody tak perlu meminta maaf. Ia tak perlu merasa bersalah.

“Cody.. Why should you do that?” Tanya Lalak dengan kekehan kecilnya. Ia lempar pandangan ke depan dengan sedikit menggeleng kepalanya. Mengisyaratkan bahwa apa yang Cody lakukan adalah sesuatu tidak penting yang tak perlu terlalu diumbar. “..I’m just your friend. I’m okay with that. That’s all your choices to notice me or not. I just disturbed you at that time. The one that that should forgive is-” Tambah Lalak panjang lebar, tapi sebelum ia menyelesaikan penjelasannya, lagi-lagi Cody membantahnya cepat.

“Stop it. You’re not okay with that.” Ucapnya serius. Membuat Lalak menolehkan kepalanya ke arah Cody dan mendapati sekilat rasa yakin dan cemas pada manik biru tuanya. Ucapan yang lagi-lagi menyentak Lalak hingga membuatnya terheran dan terlonjak. Sebegitu mengertikah Cody akan perasaannya? Sampai-sampai ia bisa meluncurkan pembantahan itu? “If you’re okay, since Sunday you’ve already talked to me. Not ignore me like this.” Tambah Cody cepat. Terdengar nada kecewa dan penyesalan dalam ucapannya. Ia membuang pandangannya dari manik hitam Lalak pada jejeran pohon di sekelilingnya. Lalu menambahkan, “You.. made me worried.”

“Mmm, ya you’re right.” Gumam Lalak kecil yang terdengar jelas oleh lelaki di sampingnya. Sejurus kemudian, Cody menolehkan kepalanya cepat menatap Lalak lagi. Dan mendapati seraut penyesalan menghiasi wajah manisnya. Gumaman Lalak yang setidaknya membuat Cody bingung dengan situasi ini.

“Are you.. Jealous?” dan meluncurlah pertanyaan itu. Nadanya yang tegas membuat Lalak merasa terperintahkan untuk memandang mata si empunya suara. Lekat dan lama. Entah mengapa, Cody bisa menanyakan Lalak hal ini. Detik itu juga, Cody menyesal lagi telah bersikap agresif pada gadis yang kini masih terkunci akan bulatan samudra matanya. Seharusnya, Cody masih bisa menahan diri. Seharusnya, Cody bertanya hal lain. Tapi, jawaban Lalak tadi..

“I.. I don’t know.” Jawab Lalak tergagap seraya membuang mukanya lagi. Jawaban yang membuat secercah harapan muncul pada diri Cody. Tiba-tiba BB Lalak berbunyi. Menyenandungkan Don’t cry your heart out-nya Cody, pertanda bahwa ada panggilan masuk. Terkejut, buru-buru gadis itu membuka tasnya dan panik mencari hapenya itu. Tapi entah mengapa, tangannya seperti bergetar gugup hingga akhirnya membuat tas gadis itu jatuh. Memuntahkan seluruh isi tas berisi dompet, tissue, BB, tiket bioskop, dan beberapa benda lain. Mencecerkan masing-masing benda menjauh dari letak tasnya yang tergeletak. Seketika nada dering hapenya mati. Masih dengan perasaan gugupnya Lalak beranjak berdiri mengumpulkan benda-benda miliknya. Dibantu Cody yang sempat mengernyitkan dahi ketika mendapati tiket bioskop yang hampir saja tertiup angin musim gugur.

“You should be more calm next time, Lak. It just a call.” Saran Cody masih berjongkok membantu Lalak. Benda terakhir, BB Lalak. Cody bangkit berdiri meraih sahabat setia Lalak itu yang terlempar cukup jauh dari tasnya.

“..Just.. Sorry for ignore and made you worry.” Ujar Lalak menyesal seraya berdiri menatap kosong punggung Cody yang berjalan menjauhinya. Sejenak lelaki itu terhenyak, ia tolehkan kepala cepat selekas meraih ponsel Lalak. Dan mendapati raut kesedihan pada wajah gadis di belakangnya. “..You have saved me, helped me, healed me. And I just can disturb and bother you. How selfish-”

“Sstt. It’s okay. It’s okay, Lak.” Sela Cody cepat memutus perkataan Lalak sembari merengkuh erat gadis ramping itu. Memberinya kehangatan dan kenyamanan untuk menenangkannya. Lalak hanya terdiam. Menutup kelopak matanya dan menahan keperihan yang ia rasakan sedari tadi. Kini, Lalak bisa merasakan halusnya syal yang dikenakan Cody. Syal itu telah berbeda.. Syal tersebut bau Cody dan entah mengapa ia merasa amat nyaman dan aman dengan itu.

To be honest, Cody can’t handle his miss feeling. Looking at someone that he’s missing every second in this awkward situation, just make him annoys and can’t wait to fall her into his hug. “God, I miss it..” gumamnya lirih membisik angin. “You know? We’re not seeming like.. friend. We’re like stranger. Please, I don’t want it continue. I’m sorry for everything. Let’s we forget this problem. And start something new. Start all over again. Don’t you mind for it?” Pinta Cody pada akhir penjelasannya akan apa yang ia rasakan. Selama berucap, ia usap ubun Lalak tuk menularkan ketenangan. Tapi Lalak.. gadis itu tak memeluknya kembali. Ia hanya mengkulaikan kepalanya lembut di dada bidang Cody. Sebentar, kapan Lalak pernah memeluknya balik?

“What do you mean?” Tanya Lalak meregangkan pelukan Cody dan memandang wajahnya.

“Do you wanna be my friend?” Pinta Cody lagi. Ketulusan tersurat jelas pada nada bicaranya, matanya, senyumnya, gerakannya.. Padanya. Pada Cody. Hingga membuat Lalak tersenyum senang akan apa yang lelaki itu tunjukkan padanya.

“Are you kidding?” Tanya Lalak terkekeh pelan. Lalu ia tatap bulatan mata Cody penuh arti melekat. Kemudian menambahkan, “of course I want.” Jawab Lalak tersenyum manis.

“Thanks.” Ucap Cody berterimakasih menyunggingkan senyum lebarnya. Refleksi kelegaan akan apa yang ia mau. Ya benar, kini hati lelaki itu telah tenang. Mengetahui gadis yang ia khawatirkan mau berdamai dan memulai sesuatu yang baru. Yang jelas, kali ini Cody berikrar dalam hati untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan keduanya. Untuk benar-benar selalu ada bagi gadis di sampingnya. Serta untuk selalu memberi gadis itu sejuta alasan tersenyum riang sepanjang hari.

“So are you in relationship with..?” Tanya Cody seraya duduk di bangku dan menyerahkan BB Lalak. Hatinya berdegup kenacang menanti jawaban gadis di sebelahnya.

“I’m not dating anyone, Co.” Sanggah Lalak memanyunkan bibirnya. Membuat hati lelaki di sampingnya lega lagi. Lalak bisa merasa bahwa setelahnya ia menyanggah, Cody menghembuskan nafas besar. Seolah-olah lelaki itu telah menahannya beberapa saat.

“Are you sure?”

“Definitely.” Jawab Lalak tersenyum penuh arti. Seketika, suasana mencair. Mereka bisa mengobrol seperti biasa. Dari hal kecil yang tidak penting hingga masalah sekolah. Karena besok Lalak masuk, tiba-tiba saja ia galau akan tugas rumah pelajaran kimia yang harus dikerjakan berkelompok dengan Cody. Tapi lagi-lagi, Cody menenangkannya. Dan berkata bahwa semua sudah siap dan baik-baik saja. Entah mengapa apa kata-kata yang Cody ucapkan selalu membuat Lalak percaya. Hingga akhirnya, ia selalu nyaman dan tenang di sisinya.

—SKIP—

“Stevan?”

“Here.”

“They already left bus.”

“Get it.”

“Tell to big boss.”

“Sure.”

“And don’t forget to keep on eye to’em. We’ve got a really-really long night today.”

—SKIP—

Matahari akan pulang ke peraduannya. Menipiskan cahaya yang ia pancarkan. Langit senja nampak magis  dengan semburat tipis awan sirus. Memesona mata setiap orang yang memandangnya. Tak terkecuali kedua insan yang baru saja ‘berteman’ lagi. Memulai sesuatu baru demi memperbaiki hubungan lama. Sebuah sore yang sanggup mengobati keperihan hati gadis yang kini tengah bersenda-gurau dengan lelaki pirang di sampingnya.

“And I can imagine how Jake’s face at last year party, Lak! Haha! You’re just such a good joker!”

“Haha! I was just watching’em dance like insane people in the middle of crowd. And Campbell made all been worse than before. He was messing Jake’s dance! His dance for impressed Joane!”

“Haha! Poor Jake!”

“Just be proud of your friend, Co. Hihi”

“No. I don’t want in that case. Hey, it’s already 05.30 p.m. Lak. I bet you haven’t take a bath. Cause.. I smell-” Gurau Cody seraya melihat waktu pada jam tangannya.

“Stop it.” Sela Lalak cepat sembari memukul pelan lengan kiri Cody. “Okay, I’m heading back home.” Tambah Lalak beranjak berdiri. Ia menyabet tasnya dan merapikan bajunya dengan memajukan bibirnya sedikit. Pertanda bahwa gadis itu tak terima dengan gurauan Cody. “Bye!” Ucapnya ringan dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia melangkah maju tapi belum sempat kakinya bergerak, pergelangan tangan kirinya diraih erat oleh lelaki di sebelahnya. Memaksa dirinya berhenti dan menoleh pada lelaki pirang itu. Lelaki berwajah rupawan yang masih Lalak rindu.

“Thanks for today, Lak.” Ucapnya berterimakasih seraya menegakkan tubuhnya dan memeluk Lalak hangat. Sebuah rengkuhan yang-jujur-Lalak nantikan. Sejenak, hati gadis itu berdegup lebih kencang. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa lelaki yang memeluknya kini selalu mengerti apa yang ia mau. “Thanks my new friend, and don’t be childish, Lak.” Saran Cody bijak dengan menepuk ubun Lalak lembut. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan, dengan menahan perasaannya yang kini mekar merekah. Meskipun gadis itu telah mati-matian mengekang perasaan itu. Perasaan yang menurutnya akan berakhir sia-sia.

Lalu lelaki itu meregangkan pelukannya dan menyadari satu hal.. “Bye then.” Salam Lalak tersenyum manis. Meskipun menurut Cody senyum itu menyiratkan kekecewaan. Cody menjawabnya dan masih bergeming di tempat mengawasi punggung gadis itu menjauh darinya. Termenung sendiri menyadari sesuatu..

“When did she ever hug me back?”

—SKIP—

“Stevan, you there?”

“Of course. We’re ready.”

“Now? It’s the right time?”

“Yeah, she is alone and.. and I saw that guy.”

“What do you mean?”

“Big boss’ puppy.”

“…Just do what he has instructed you.”

—SKIP—

-On record-

Di atas hamparan pasir putih indah, tergelar rapi tikar biru langit dengan seorang lelaki pirang duduk di atasnya. Lelaki itu membelakangi batu karang yang terkesan artistik tertata apik di sana. Deburan ombak kecil nampak malu-malu mendekati bibir pantai. Airnya jernih, hingga pasir putih itu terlihat jelas di bawah ombak. Pemandangan ini terlihat indah, namun tak seindah dengan bentangan langit di atas. Yang mana terkesan sendu layaknya raut lelaki yang kini tengah memangku gitarnya dalam keadaan siap untuk bermain. Lelaki itu mengenakan T-shirt putih berlapis kemeja biru langit yang tak dikancing serta lengannya ditekuk hingga siku. Dengan bawahan celana jeans pendek selutut, ia menyilangkan kakinya, menatap kamera lalu dimulailah video ini..

“Hi, Lak. This is.. Me. Cody Simpson. I just wanna to show you one of my song. Listen this..”

(Turn on So Listen – Cody Simpson [Acoustic]! )

I’ve been trying to find the right words
But they always seem to hit the page wrong
You see I tend to fight words
You breathe ’em into life, and they’re gone

I need some louder speaking actions
They do what letters could never do
You see, you are my addiction
I need more than words to show you

So listen to me, so listen
Listen to my heartbeat

I’d like to think you understand me
But I never really like to assume
So you never have to ask me
I’mma let my actions tell you the tru-hu-huth

For you-hu-hu-hu
There is nothing I wouldn’t go through-hu-hu-hu
And if you need some proo-hu-hu-oof
You can find it in what I do-hu-hu-hu

And I could tell you everyday
Just how much I want you
I’ve never been good with words
But I went and wrote this song for you

So listen to me, listen
Listen to my heartbeat
So listen to me, so listen
Listen to my heart..beat

“So.. what do you think? I need suggestion for that. As you open it.. it means that, we are friends, right?”

Lalu Lelaki itu tersenyum, meletakkan gitarnya dan menyapukan padangannya pada bentangan pantai. Terlihat ia menghembuskan nafas besar berulang kali. Dengan segurat rasa penyelasan yang terpancar jelas dari muka sisi kanannya. Hening beberapa saat, hingga akhirnya ia berkata..

“Alli turn off, it.” Tetapi, sepertinya, perekam video itu menghiraukan perintah aktor yang kini masih tereka jelas di layar. Namun, entah mengapa lelaki itu membiarkannya tetap merekam melalui cam recorder. Oh, mungkin ia tak sadar.

“What are you thinking now, Cod?” Ucap seseorang yang tak bisa dilihat. Suara perempuan yang sepertinya menjabat sebagai peliput video tersebut. Lelaki itu lagi-lagi menghembuskan nafasnya. Dan menjawab..

“Her.” Ujarnya singkat.

“Who? There are so many woman in this world, Codeeh.” Selidik perempuan itu lagi.

“You-know-who.” Ucapnya lagi datar.

“Umm, I see..” jawab perempuan itu dengan menggerakkan kamera ke atas-ke bawah meniru perlakuan mengangguk kepala. “So, did it dedicate for her?” Tanya perempuan itu lagi.

“Definitely, yes. And don’t tell Matt about that, Alli..” ancamnya masih dengan manik yang menerawang langit biru.

“Why?”

“I need more privacy, and if you do that I..” Ucapannya terhenti ketika lelaki itu menolehkan kepala ke kamera dan terkejut mendapati bahwa cam recorder masih dalam keadaan menyala. “Turn off that, Alli!” Serunya beranjak dari tikar dan berjalan menuju kamera.

“But, we can cut this sec-”

-Record end-

 

Gadis yang sedari tadi termangu diam menatap layar ponsel BB-nya itu, kini tersenyum-senyum sendiri. Melihat video yang dikirimkan oleh orang yang menjadi aktor tadi. Tepatnya oleh lelaki yang baru saja berteman lagi dengannya. Lelaki yang selalu menggalaukan hari-harinya. Lelaki yang.. yang ia puja.

Video berdurasi 2:30 detik itu sukses membuat sesuatu kecil di hatinya membuncah. Memekarkan bunga hati yang sebelumnya terus-menerus ia tahan. Jujur, kali ini ia tak dapat mengelak. Tak dapat menolak kenyataan bahwa dirinya memang menyukai Lelaki pirang yang kini bersemayam nyaman dalam hatinya. Ia mengaku senang dengan tetap menyunggingkan cekungan bibirnya lebar. Selebar rasa melelehnya mengetahui bahwa lagu yang tadi disenandungkan oleh lelaki itu didedikasikan untuk dirinya. Meskipun di awal, ia sempat merasa cemas melihat raut muka kegelisahan yang ditampakkan oleh lelaki tersebut.

Tapi, satu pertanyaan besar tiba-tiba tercetus dari fikirannya.. Mengapa lelaki itu melakukan ini padanya? Mengapa? Dan satu pertanyaan itu berkembang lagi menjadi pertanyaan lain yang kian membuatnya gamang. Apa maksudnya? Apa ini sejenis pemberian harapan baginya? Apa ini sesuatu yang direncanakannya? Mengapa ia memberikan harapan? Harapan bahwa perasaan gadis itu akan..

‘Girls don’t you cry your heart out.. Let me stop, before..’

“Halo?” lamunannya buyar seketika saat gadis itu mendapati telefon dari BB-nya. “Ohyeah, Cody. Hi!” dialah Cody Simpson yang menelfon gadis ini. Cody juga lah yang mengirimkan pesan multimedia berisi video itu. Cody juga lah yang membangun perasaan itu lagi. Sejenak, senyuman senangnya kian melebar. Mendengar suara orang yang ia damba, ia puja dan masih ia rindukan.. Membuat hatinya merasa nyaman dan girang. “You haven’t gone home, yet?” Tanyanya lagi dengan suara riang yang tak dapat ia tutup-tutupi. “Poor you! Emm, thanks for the video.” Ucapnya lagi malu-malu dengan rona merah yang tak dapat Cody lihat. Lalu terdengar nada orang menyahut dan gadis itu berkomentar, “I don’t know how to say.. But, I think I love it. It has good rhymes for admit me in my way to sleep. Haha!” terdengar kekehan kecil dan beberapa perkataan di sana, kemudian ia menambahkan.. “You should brimg me to that beach! Hey, are you sure it was dedicated to..”

 

TOK TOK TOK.

 

Sejenak, ucapan gadis itu terhenti. “Hang on,” Lalu ia beringsut membuka pintu rumahnya yang tak terkunci. Dan sangat terhenyak saat mengetahui siapa orang yang mengunjunginya petang ini. Dua orang lelaki berpawakan tinggi, bermuka sangar yang mengenakan pakaian santai serba hitam. Salah satu di antaranya.. Gadis itu yakin pernah bertemu dengannya di halte bus dekat Galaxy Senior High School.

“Hi, are you Nabila Khoiru Nisa?”

—SKIP—

“Lak, you there?” Ucap Cody yang kini berdiri menyender pada salah satu tiang penunjuk jalan. Ia masih menunggu Alli untuk menjemputnya. Untuk mengusir rasa jenuhnya, ia menelfon Lalak yang baru saja ia kirimi lagu terbarunya. Lagu yang masih dalam tahap pengerjaan. Lagu yang diam-diam.. Ia dedikasikan untuk gadis yang kini sedang ia sapa. Tapi sapaannya terhenti kala gadis itu meneriakkan sesuatu dengan getir takut dalam ritme suaranya..

“What You want? Stop! ~BRAKBRAKBRAK~”   TUT TUT TUT

“Lak!” Seketika, tubuhnya menegang. Ia terkejut. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Matanya melebar. Nafasnya tercekat. Dan urat nadinya seperti terasuki sesuatu aneh yang mengalir liar dan membuatnya merasakan kecemasan yang teramat pada gadis yang memutuskan telefonnya.

Tanpa fikir panjang, lelaki itu berlari kencang membelah angin. Tak peduli pada udara dingin dan awan yang tiba-tiba saja menghitam dengan rintik-rintik kecil hujan menetes ke tempatnya berpijak. Ia mencoba menghubungi ponsel Lalak lagi. Tapi hasilnya.. Nihil. Sepertinya ponsel itu mati dan tidak dapat berfungsi. Sebuah kenyataan yang makin membuat hatinya khawatir. Teramat khawatir.

Detik-detiknya berlari terasa lambat. Dalam benaknya hanya terbayang oleh gadis yang kini ada dalam bahaya. Entah mengapa, tiba-tiba otaknya yang kalut memikirkan orang yang menghajarnya beberapa hari lalu di taman. Orang yang nyaris menculik Lalak. Orang yang ia duga akan membuat hari-hari Lalak kian kelam. Sebisa mungkin ia tepis pemikiran negatif itu. Tapi tak bisa. Dirinya semakin khawatir akan keselamatan gadis yang kini penuh menggelayuti fikirannya.

Apa yang terjadi? Mengapa ia berteriak? Mengapa ada suara gaduh? Mengapa ponselnya tiba-tiba mati? Mengapa sepertinya ia berteriak kepada orang lain? Apa ada orang yang mengunjunginya? Apa ada orang yang akan mencelakai dirinya? Apa orang itu, orang yang yang sama? Yang selalu mengancam hari-hari terangnya? Mengapa..

“Van?” Pertanyaan-pertanyaan itu berhenti berkembang kala Cody mendapati sebuah van abu terpakir tak jauh dari rumah Lalak. Van yang terasa familiar baginya. Tetapi sejurus kemudian, gelisah itu datang lagi. Meraupi tubuhnya lebih dalam lagi. Cody meneruskan larinya hingga mencapai pintu teras rumah Lalak. “SHIT!” Tapi sialnya, ketika ia putar knop pintu, benda kayu besar di hadapannya itu tak dapat terbuka. Terkunci dari dalam. Tak kehabisan akal, ia mencoba untuk mendobrak pintu. Berulang kali secara keras dan kasar. Tapi tetap. Pintu tak terbuka.

“HAHAHA.” suara tawa lelaki terdengar dari dalam. Menyerikan hatinya dan semakin menambah kekhawatiran lelaki itu pada gadis di dalam rumah ini. Ia merasa seperti pecundang. Lalu otaknya berfikir keras. Peluh turun deras di keningnya. Sorot matanya menggambarkan kecemasan yang sangat. Tubuhnya bergetar. “God, can you make me calm a bit? I need to think!” batinnya masih dengan pemikiran akan bagaimana membuka pintu yang terkunci di hadapannya ini. Sejurus kemudian ia berlari memutari rumah Lalak dan berhenti pada pintu belakang. Nampaknya, pintu ini merupakan satu-satunya harapan Cody untuk bisa masuk ke dalam.

Tanpa membuang waktu, ia dorong gagang pintu ke bawah dan membuka pintu. Berhasil! Tepat pada saat ia mendengar..

“Don’t hurt me, go away from me, plea-aseeeee. AAAAAA”

Seketika, lelaki yang masih terengah-engah di ambang pintu itu merasa urat nadinya tersayat silet tajam dari segala sisi. Membuat dunia yang ia pijak serasa di awang-awang tepi yang paling berbahaya. Dan membuat dirinya sendiri kecewa karena ia datang di waktu tak tepat. Detik itu juga ia tak akan memaafkan dirinya sendiri apabila gadis yang tengah teriak di dalam ruangan itu kenapa-napa, terluka atau bahkan.. Ia bersumpah. Ia benar-benar berjanji dalam hati. Namun kini, perasaan menjadi pecundang meraupi tubuhnya cepat. Hingga ke ubun-ubun tempat diaturnya seluruh kegiatan tubuhnya. Dan semua itu semakin membuat dirinya merasa mempunyai salah yang kian berlipat.

 

Ia terlambat.

 

 

~END OF THIS CHAPTER~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s