Menjadi Seorang Muslim? Jangan Berbangga Hati!

Haaai πŸ˜€

Lama yah aku nggak pernah ngepost something important kayak tugastugasku-__- so, here it is! ESAI! jadi ini esai pertamaku. Dan esai ini aku ikutin Lomba skilas cup-nya SMA 5 Surabaya. Nggak bener-bener pengen jadi juara sih, secaraa ini esai perdana saya~ jadi nggak bisa berharap lebih-__- tapi apa salahnya mencoba dan berdoa? karena itu aku tertarik buat ikut. mwihihihi~ so, ini esai temanya gini : menjadi muslim yang hanif, solutif dan produktif. Monggo yah dibaca kalo lagi senggang dan ingin menambah pengetahuan*HAH. hihi. Seenggaknya di dalam esai ini adalah sedikit pelajaran yang bisa dikutip-kutip. Kalau mau dibuat tugas seklah juga boleh, tapi apa sreg hatimu copas punya orang lain? nggak kan? yaudah jangan-__- yaudaaaah, check this essay out! πŸ˜€

 

Menjadi Seorang Muslim? Jangan Berbangga Hati!

Menjadi seorang muslim merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kita. Dimana sedari lahir Allah telah memperkenankan kita memeluk agama yang berada di jalan-Nya. Jaminan masuk surga, sudah ada di tangan. Jalan yang benar selalu menjadi petunjuk bag kita. Namun, apa hanya menjadi seorang muslim telah menjadikan kita siap menghadapi hidup? Apa hanya menjadi seorang muslim telah cukup menjadikan kita pribadi yang sukses? Apa hanya menjadi seorang muslim pasti akan terhindar dari segala gangguan duniawi?

Tidak. Tentu tidak.

Otak manusia terbagi kerja 20% IQ dan 80% SQ, EQ. Jadi di samping cerdas, kita harus punya etika yang baik dan spiritual yang kuat. Hanya menjadi seorang muslim yang mengandalkan kepintaran otak, tidak menjamin pencapaian yang luar biasa dalam diri kita. Hanya menjadi seorang muslim tanpa berprinsip, tidak menjamin ketahanan kita dalam menjalani kerasnya kehidupan. Hanya menjadin seorang muslim tanpa memberi manfaat bagi orang lain, tidak akan mengatarkan kita pada sukses yang sebenarnya. Hanya menjadi seorang muslim dengan membiarkan kita terlarut dalam putaran roda kehidupan, tidak mempertangguh keimanan kita dalam menghadapi terjerumusnya keadaan sosial.

Lalu, harus bagaimana?

Rasulullah telah mencerminkan teladan baik pada kita lewat perilaku-perilakunya bahkan ketika beliau masih belia. Dahulu, Muhammad kecil telah menjadi contoh bagi sesamanya karena beliau tak pernah menggantungkan hidup pada orang lain. Muhammad kecil hanyalah seorang yatim yang menggembala kambing. Beliau juga sosok pemaaf, ulet, cerdas, dapat dipercaya dan tentunya sangat memberi manfaat bagi orang lain.

Hmm.. Apa hubungannya dengan masa kini?

Bisa kita simpulkan bahwa remaja muslim sekarang telah terjerumus oleh perubahan zaman. Mereka juga telah mereduksi nilai-nilai agama. Gaya hidup orang luar negeripun tak luput dianggap trend yang harus diikuti. Dan pencerminan perilaku Rasulullah sudah jarang kita temukan dalam diri remaja muslim era masa kini. Dimana mereka sekarang hanya puas menjadi seorang muslim tanpa khawatir akan arus globalisasi yang tanpa mereka sadari, bermisi memupus budaya mulia secara perlahan.

Lantas, harus bagaimana?

Kita harus menjadi pribadi yang hanif, solutif dan produktif. Yang mana ketiga kata tersebut telah mewakili jiwa seorang muslim yang sukses.

Hanif, solutif, Produktif? Apa itu?

Hanif adalah sikap pemaaf dan tolerir. Sedangkan solutif adalah sikap kemampuan memecahkan masalah yang harus ada pada diri masing-masing manusia. Serta produktif merupakan sebutan bagi sifat kreatif dan ulet yang dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Seorang hanif, pasti akan bersikap solutif dan akan menjadi produktif bagi orang lain. Karena itulah, kronologis kata-kata tersebut menjadi satu-kesatuan dan tidak dapat dipisahkan.

Mengapa harus hanif, solutif dan produktif?

Karena bisa dipastikan seorang yang hanif adalah pribadi pemaaf, penyabar dan sangat beriman kepada Allah. Dimana setelah memiliki kepribadian seperti itu, seorang yang hanif akan memandang masalah secara jernih dan timbulah sikap solutif yang dapat memecahkan prakara kehidupan. Dari sikap ini, pribadi yang hanif akan dapat membantu oraang lain lewat kemampuan memecahkan masalahnya dan motivasinya. Karena itu, pribadi hanif yang telah bersikap positif akan menjadi sosok produktif pemberi manfaat positf bagi orang lain lewat apa yang ia kerjakan.

Jadi apa yang harus dilakukanΒ  agar kita menjadi pribadi yang hanif, solutif dan produktif?

Sama seperti pekerjaan lain yang kita lakukan.
1. Pasang niat! Niatlah bahwa kita menjadi pribadi yang selalu mengedepankan Allah. Niatlah bahwa kita akan meletakkan kata β€˜Islam’ di depan segala sesuatu yang kita kerjakan. Niatlah apa yang kita lakukan ini hanya demi mendapatkan ridho Allah. Niatkan, ini akan menjadi prinsip hidupmu!
2. Laksanakan segala sesuatunya secara konsisten dan sungguh-sungguh. Sehingga kita selalu dapat melaksanakan apapun secara maksimal dan memetik hasil yang maksimal pula.
3. Refleksikan apa yang telah kita lakukan dengan fikiran jernih. Koreksilah, apa yang masih salah, dan apa yang harus dipertahankan. Dari sini kita dapat menilai telahkah kita menjadi sosok yang produktif apa belum.
4. Berdoa dan memohon perlindungan kepada-Nya. Ini penting. Karena segala sesuatunya pasti kita kembalikan kepada Allah SWT.

Jika saya adalah seorang remaja, tapi belum berpribadi seperti itu, apa yang harus saya lakukan? Sudah terlambatkah?

Tidak. Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini. Semuanya butuh proses. Dan saat ketika kita sadar mana yang terbaik bagi kita, mulailah dengan membiasakan perilaku itu dalam keseharian. Pelajarilah apa yang dulu menjadi kesalahanmu, perbaikilah dan hindarin segala sesuatu yang dapat menjerumuskan kita dalam kesalahan kita yang dahulu ataupun kesalahan kita yang terpengaruh perubahan zaman. Mulailah dari diri sendiri, kemudian terapkan pada keluarga, lalu turalilah lewat masyarakat dan terakhir.. Baktikanlah dirimu pada negaramu.

Sudahkah kamu mengoreksi diri? Apa kamu sudah berpribadi hanif? Apa kamu telah bisa bersikap positif? Dan menjadi produktif bagi orang lain?

 

-Temukan potensi diri terbaikmu, kembangkanlah sebagai modal berpribadi hanif, bersikaplah solutif dan bersiaplah menjadi produktif bagi orang lain- Khoirul Farit, S.Pdi

 

Referensi :

http://www.google.co.id

Pak Khoirul Farit, S.PdI

 

Advertisements

23 thoughts on “Menjadi Seorang Muslim? Jangan Berbangga Hati!

    1. terima kasih dek πŸ˜€ alhamdulillah menang kakak di lombanya XD hihi
      haruuus ! garagara itu kakak juga akhirnya refleksi dan sadar kalo belum kayak gitu.__.

      terima kasih telah berkunjung yah πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s