Cody Love Story – It’s More Than Love (11)

  • Nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

FINALLY ! UNAS IS OVEER ! YEEEAAAH ! okeh, karena itu insyaAllah setiap 1-2minggu sekali aku bakal update ini ceritaa ! so stay tuned ya guuuys~ comment or request to my twitter ! @rurimadanii !
HAPPY READIIING♥

PART XI

 

“What will you wear then? Seems like very complicated. Haha!” Ece Billy di telefon hape Lalak yang diloudspeaker. Today is Wednesday and now, Billy is on his way to pick up Lalak for invite her to… a dating? Maybe Lalak thinks just a having fun. Dan Lalak masih bingung memilih baju apa yang harus ia pakai. Gimana nggak? Baju yang ia cuci di tempat laundry belum diambil dan akhirya.. ia kehabisan pakaian.

“OMG, Billy. Why don’t you invite me in another day? How about if we cancel this plan? I’m confuseeee!” Teriaknya dari balik lemarinya.

“Don’t be so nerveous :p”

“What?”

“Forget it then. Hey, I’ve already sit in terrace. Hurry up!”

“WHAAAAT?!” Sambungan telepon diputus dan secepat kilat Lalak memilih sisa baju yang ada di lemari besarnya itu dan ngemix-match asal. Kemudian ia menaburi mukanya dengan make-up tipis nan simple, khas dirinya. Bahkan mungkin orang yang melihat muka Lalak menyangka ia tidak menggunakan make-up saking naturalnya make-up yang ia poleskan.  Rambutnya ia kepang fishbraid menyamping. Lalu ia menyambar tas coklat vintage-nya dan berjalan cepat menuju pintu rumahnya. Ia memutar gagang pintu, menyapukan pandagan ke teras rumah dan mendapati Billy yang tengah mengutak-atik hapenya.

cody love story - it's more than love (11) - lalak outfit
cody love story - it's more than love (11) - lalak outfit

“Leggooo!” Katanya pada Billy. Cowok itu melirik Lalak sekilas. Dan lirikannya berubah menjadi tatapan terpesona akan kecantikan seorang Lalak. Yeah, she’s wearing green-flowery-vintage-jumpsuit, green sleeveless cardigan, along with brown vintage belt wrapping around her waist. Dengan tambahan beberapa gelang simple-termasuk pemberian Billy- dan cincin bermata tengkorak menyempurnakan penampilannya hari itu. Tak luput, kalung monsternya teruntai indah di lehernya. Seketika Billy terpatung, melihatnya dari atas hingga ke bawah. Merasa terkesima dengan makhluk hawa di hadapannya. Tapi.. Makhluk hawa itu merasa ada yang aneh dengan dirinya ketika Billy mengernyitkan dahi saat meneliti pakaian yang ia kenakan sekarang.

“Do I look weird? O.o”

“Is baring foot new fashion icon? HAHA” Dan ya, saking terburu-burunya Lalak tadi ia nggak menyadari bahwa kaki mungilnya masih polos tanpa alas. Such a foolishness.

“God-__-” Lalak masuk kembali ke rumahnya, belari kecil menuju rak sepatu dan memilih sneaker hitam untuk melindungi dan menghiasi kakinya.

“Finally, you turn to the right way. Haha!”

“Uh-oh, c’mon. That was stupid-_–”

“You finally realized? :p”

“Oh hey, realized yourself first :p”

“Yeahyeah, alright. Leggo!” Hell yeah, seperti biasa Billy wears clothes awesomely at that day. T-shirt hijau army dilapisi jaket hitam bercelanakan jeans abu dan beruntaikan syal putih, sukses membuat dirinya terlihat awesome like Lalak sees everyday.

Mereka berjalan beriringan. Dengan buntutan paparazzi yang mengabadikan-segala momen- secara sembunyi-sembunyi. But Billy doesn’t care about that at all. He’s just enjoying what he does now with Lalak. Karena Lalak hobi naik angkutan umum, perjalanan mereka hari ini pun penuh dengan bantuan transportasi umum. Membuat sedikitnya beberapa orang bertanya dalam hati. *Mengapa ada artis seperti Billy naik angkutan umum? Siapa gadis di sampingnya? Ada hubungan apa ya mereka?* some kind of stuffs like that.

Their first destiny is toy store.  Karena adik Billy-Erin-yang besok berumur 13 tahun adalah pengoleksi Barbie. Di rumahnya sendiri mungkin ada berpuluh-puluh Barbie yang teretalasekan rapi di sebuah kotak kaca transparan. Begitu cerita Billy. Karena itu, Lalaklah yang bertugas untuk mencari Barbie new arrival sebagai hadiah Billy pada adiknya. Ketika mereka memasuki toko boneka, Lalak meneliti boneka-boneka dari barisan atas hingga bawah. Ia nggak mau bertanya dengan petugas toko. Karena menurutnya, hadiah ini harus spesial. Harus dia yang mencari dan memilihkan sendiri. Ketika ia sibuk mencari, Billy malah sibuk melihat mainan robot such as transformer dkk. Itu yang dilihat Lalak. Tetapi tanpa disadarinya, Billy meninggalkan tempat itu dan mengeluarkan alat berlensa besar dan mulai memotret objek favoritnya. Yeah, cewek asia yang saat ini sedang bingung mencari barbie.

cody love story - it's more than love (11) - erin doll
cody love story - it's more than love (11) - erin doll

“Billy?” Setelah setengah jam Lalak habiskan untuk mencari boneka yang menurutnya cocok sebagai hadiah. Dan akhirnya, ia mendapatkannya. Sebuah Barbie Amy Winehouse yang baru dipasarkan kemarin. Beruntungnya, adik Billy adalah penggemar mendiang penyanyi tersebut. Sehingga, menurut Lalak boneka ini yang terbaik.

Karena yang dipanggil nggak menjawab dan nggak berada di tempat berdirinya tadi, akhirnya Lalak mencari Billy. Mengitari toko mainan itu ke seluruh bagiannya sembari menenteng Barbie pilihannya. Sempat para karyawan di sana melihat Lalak dengan tatapan sinis yang mengesankan bahwa mereka melihatnya sebagai pencuri. Tapi Lalak nggak peduli, dia tetap menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari cowok berambut kayu itu.

Lalak menemukannya. Ia menemukan Billy di pintu masuk sebelah kanan, menyenderkan punggungnya pada dinding, menekuk kaki kanannya ke depan, sembari melihat hasil jepretannya tadi. Rambut kayunya terlihat bersinar tersapu oleh sinar matahari. Dan momen itu.. Momen itu benar-benar sempurna untuk Lalak. Sempurna untuk diabadikan dalam sebuh foto. Dan ya, Lalak melakukannya. Ia memotret Billy lewat kamera hapenya. Ekspresi Billy.. terlihat amat tegas melalui sorot matanya. Dengan senyuman lebar candidnya. Yeah, Billy knows that Lalak captures him.

Cowok itu, cowok yang bersandar di dinding itu.. Ialah pencerah hari kelabu Lalak. Ialah pendamai situasi keadaan. Ialah yang membuat Lalak merasa menjadi seorang..pacar? Tidak, pemikiran Lalak belum menuju ke sana. Ia masih merasa Billy menganggapnya sebagai.. Teman spesial. Dalam arti sahabat dekat. Yeah hanya sebatas itu.

“Why do you capture me, huh?”

“Dunno. You look different in that way.”

“Different..?”

“E’he..”

“In that way..?”

“E’he.”

“That way like what..?”

“Like just now. Oh okay Billy, we should pay this-_–” sela Lalak pada pertanyaan-pertanyaan Billy yang membuat pipinya semakin merona malu. Kemudian Lalak menunjukkan boneka yang ia pilih tadi. Seperti yang telah ia duga, Billy teramat setuju dengan pilihannya.

“GREAT! Erin will be very happy to accept this! Big thanks for you, Lak!”

—SKIP—

“I hate the kissing scene!”

“What? Are you sure? But, that was cool, right?”

“That movie was… cool Billy! I swear! I loveeed it! But I hate that part-__-” puji Lalak pada film yang baru saja mereka tonton. The Hunger Game. Selepas membeli barbie tadi, Lalak dan Billy pergi ke Grave Cinema for catching a movie. Siang-siang seperti ini, kondisi bioskop bisa dibilang sepi. Bahkan mungkin penontonnya bisa dihitung dengan jari. Karena itu mereka berdua sangat menikmati setiap detik film action box office tersebut.

“I’ll say. I prefer that instead of the woman in black-_–”

“Just say if you’re afraid to watch it :p”

“But finally, you like it, right?”

“YEAAH!” Jawab Lalak puas tersenyum lebar. Billy tak pernah bosan memandangi senyum manis Lalak tersebut. Senyum yang selalu bisa membuatnya ikut tersenyum karena keceriaan yang ditularkan oleh si empunya.

Sekarang, mereka berjalan beriringan ke suatu tempat yang dirahasiakan oleh Billy. Tempat yang katanya bisa membuat Lalak mengingat puing-puing kecil masa lalunya. Melewati jembatan, menikmati taman kota, mengitari gedung-gedung pencakar langit adalah segelintir rute yang mereka lewati. Dan di setiap jalan tersebut, Billy tak pernah lepas dari kameranya. Memotret segala objek, khususnya makhluk hawa di sampingnya. Bahkan mungkin, di hampir seluruh foto di kamera itu adalah Lalak. Lalak yang berjalan, berlari, tertawa, tersenyum, cemebrut, termenung, terdiam.. nyaris semua ekspresi ia potret. Lalak sendiri, di bis, di tengah keramaian, di sisi jalan, di toko boneka, di bioskop, di jembatan, di antara toko-toko vintage.. hampir di semua tempat Lalak memijakkan kaki, ia tangkap dalam mata lensanya. Dengan berbagai ekspresi, sikap, angle dan art photography yang Billy coba untuk semakin memperindah objek kesayangannya itu.

cody love story - it's more than love (11) - park
cody love story - it's more than love (11) - park

Setelah sekitar 1 jam mereka berjalan dan gonta-ganti bis, akhirnya sampailah mereka ke suatu tempat dimana terdapat taman yang indah sekali di sana. Taman yang menghadap langsung ke hutan-hijau di depannya. Dengan playground for kids di salah satu sisi taman itu, semak yang terpotong rapi sebagai pagarnya, dilengkapi dengan pohon-pohon menjulang tinggi yang masih telaten menggugurkan daunnya satu-per-satu. Kondisi teman yang sepi menambahkan ketenangan yang dihadirkan oleh tempat tersebut. Dan Billy benar, seketika ada suatu di benak Lalak yang muncul secara tiba-tiba. Tapi sesuatu itu sangatlah klise, melintas dengan amat cepat dan bahkan Lalak sendiri tidak bisa menangkap apa sesuatu itu.

“I can’t get it Billy.”

“Get what?”

“That.. memories.” Kata Lalak dengan nada kekecewaan pada dirinya sendiri.

“It’s okay. Don’t push yourself too hard, Lak. Take it easy.” Lalak tersenyum mendengar jawaban Billy. Lelaki ini selalu berhasil menenangkannya. Tak peduli dalam kondisi apapun itu. Dan itulah yang membuatnya nyaman berada di samping Billy.

Tiba-tiba sekelompok remaja cewek berumur sekitar 14 tahun-an, berjalan melewati mereka sambil memperbincangkan sesuatu dengan sangat heboh. Hingga Billy dan Lalak dapat mendengarnya.

“Cody will announce new song for us, guuys! I can’t wait it XD” ucap salah satu blonde-girl di antara mereka.

“Yeaaah! But, Matt said that the song will sound sad :’(” jawab black-girl dengan berbagai argumen dari yang lain.

“IDC. The most important thing is him. The song is Cody’s. So, we have to spread the whole world!” sanggah si blonde itu lagi. Ketika mereka mendapati Lalak dan Billy berdiri di sisi mereka, blonde-girl itu bergeming di tempat. Melihat Lalak dengan seksama yang kala waktu itu sedang berbincang dengan Billy. Pemberhentian salah satu anggota dari geng tersebut membuat yang lain ikut berhenti. Terheran dengan apa yang dilakukan cewek-yang sepertinya ketua geng- itu.

“Where do you know such this- hey..” ucapan Lalak terhenti saat ada seseorang yang memegang bahunya dan membuat Lalak harus menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa itu. Billy pun akhirnya ikut menoleh melihat mereka.

“You..?”

“Hmm.. sorry?” Lalak melihat cewek blonde-girl yang menyentuh pundaknya. Seems like she ever meet with her. But.. where? Di muka cewek itu tersirat keheranan ketika mendapati muka yang ia lihat sekarang. Bersama dengan kawanan teman dari geng cewek tersebut. Dan itu membuat Lalak agak salah tingkah melihat mereka menatapnya dengan sorot keheranan yang sama.

PLAK!

Dan tamparan keras, sukses mendarat di pipi kanan Lalak. Billy berseru kaget. Ia nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan cewek itu. Dengan sigap Lalak yang terhuyung ke kanan ia tangkap dengan cekatan. Membuat cewek itu sukses terjatuh pada pelukan hangatnya.

“Tina! What’re you doin?” seru temannya yang lain. Diikuti dengan berbagai pertanyaan sejenis yang dilontarkan anggota geng lain.

“You.. guys, this is Cody’s new girl.”

“WHAT?” seru mereka lagi bersama. Cody.. seketika, telinga Lalak yang menangkap semua getar suara itu merasa panas. Hatinya yang sempat bahagia beberapa saat lalu menggundah lagi. Benak tanpa bebannya sekarang terisi penuh oleh nama itu, lagi. Ya. Cody Simpson.

“What are you doin here with Billy?”

“You cheated Cody!”

“Cody never suits to be with you!”

“Kylie does!”

“You just like a b*tch!”

Setelah meggerutu seru, semua cewek dari anggota geng tersebut berseru ke Lalak dengan  berbagai makian pedas. Dan kata terakhirya.. sukses membuat hati Lalak makin merasa perih. Bahkan ia merasa sudah tak dihargai lagi sebagai seorang perempuan. Itu adalah kali pertama ada orang yang mengatakan such kind of word to her. Billy yang ada di samping Lalak nggak kalah kaget dengan apa yang mereka  lakukan dan katakan. Secepat kilat Billy mendudukkan Lalak di rerumputan hijau, dan mulai menghadapi sekelompok cewek tersebut.

“Be careful to sayin, kids. Can you be nicer to meet stranger? I bet, Cody is dissappointed to you all, because you have hurted that lovely woman’s heart with your words. A real fan never does like you just did to her.” Kata Billy bijak dengan amarah yang ia tahan. Baginya, menghina seseorang yang amat ia sayangi sama saja seperti menusuk seribu sembilu dalam relung hatinya yang terdalam.

“You don’t know anything, Billy.” Dan ucapan cewek pirang itu menutup aksi mereka. Setiap anggota geng tersebut menatap Lalak dengan amat sinis dan berlalu pergi tetap dengan pemikiran dan umpatan negatif mereka pada Lalak. Billy hanya bisa speechless sembari menahan emosinya yang semakin bertumpuk itu. Wait, maybe Lalak’s heart is getting worse than him.

“Lak?” tanya Billy khawatir menjongkokkan dirinya tepat di depan Lalak. Pipinya masih terlihat merona merah di tempat pendaratan tamparan itu. Ia menolehkan kepalanya ke kanan, menghindari kontak mata dengan Billy. Dengan pandangan mata yang terlihat memburam karena terproduksinya sakit hati yang berbuah menjadi air mata pada dirinya. “Lak?” Tanyanya lagi dengan menyentuh tangan Lalak di atas lututnya yang ditekuk. Lalak masih bergeming. Billy bisa merasakan sedikit getaran tangan Lalak lewat sentuhannya. “Still hurt?” Cowok itu bertanya lagi. Dengan tangan kirinya menyentuh pipi kanan Lalak. Menggerakkan kepala yang tertoleh itu dengan lembut. Menolehkan muka cewek yang amat disayanginya tepat di hadapannya. Dan ya, manik hitam itu berair. Terpenuhkan oleh genanga kecil di bagian atas kelopak bawahnya.

“I’m okay :)” Katanya mencoba tersenyum. Senyum yang amat dipaksakan. Senyum yang menyiratkan kekecewaan dan kesedihan hatinya. Lalu, Lalak beranjak berdiri. Dengan tetap menghindari kontak mata dengan Billy untuk menumpahkan tumpukan tetesan itu. Ia berjalan menjauhi Billy. Menuju ke sebuah pohon besar dimana di sana terdapat ayunan tua yang masih terlihat kuat. Sebelum berjalan lebih jauh, tangan besar Billy mencegat tangan Lalak. Membuat cewek itu terpaksa harus menghentikan langkahnya. Tubuhnya bergeming di tempat, nggak menoleh sedikitpun ke empunya tangan yang mencegatnya.

Masih dalam hening, Billy memutari Lalak dan berdiri tepat di hadapannya. Manik reddish-hazel-nya menyiratkan kekhawatiran yang sangat pada cewek mungil yang baru saja mendapatkan cacian pedas dari seseorang yang bahkan nggak dikenalnya. Ibu jari Billy mendongakkan muka cewek yang tertunduk itu. Melihat kesedihan yang tertampak jelas pada manik dan raut mukanya, membuat hati Billy semakin pedih mengetahui kondisi Lalak yang seperti ini. Dan akhirnya, manik itu.. manik hitam itu menyorotkan semua apa yang Lalak rasakan saat ini. Perasaan seorang cewek yang dimaki tanpa sebab secara kasar. Dan makiannya amat membekas pada hati Lalak. Dadanya sesak. Bibirnya bergetar. Dan ia menggigit bibirnya kuat-kuat untuk melampiaskan kekecewaannya. Hidungnya merah. Ia menghirup udara melalui itu dengan susah payah karena tiba-tiba saja alat pernafasannya tersumbat oleh kepedihan yang ia rasakan.

Then Billy hugs her. Hugs her very tight to make sure that he feels what she feels now. And he’s right. This warmth.. this is such a warmness that Lalak needs now. Lalak’s crying her heart out loud now. Lalak’s crying her heart out in Billy’s hug. Always in his hug. Such an insecure warmth that she always needs in this such kind of situation.

“Just crying your heart out, girl.” Billy whispers in her ear. Make her hugs him back reflexly. Billy menepatkan dagunya tepat di atas kepala Lalak. Mempererat pelukan itu hingga Lalak terdiam. Hingga ia tenang. Hingga Lalak puas melampiaskan kepiluan hatinya. Cukup lama pelukan itu berlangsung dalam kebisuan. Saling membagi apa yang mereka rasakan. Sampai akhirnya, Lalak melepas pelukan itu. Sambil tetap menunduk dan menyadari sesuatu. Realizing that.. that she is still in love with Cody. The fact, there is always Billy beside her in this such kind of situation, but her heart said another one. Said that Lalak’s heart still in that man. That blonde man.

cody love story - it's more than love (11) - ayunan
cody love story - it's more than love (11) - ayunan

“Feel better?” Lalak mengangguk. Billy tersenyum. Tapi sendu itu masih menghiasi wajahnya. Billy’s feeling bad for what’s happening to Lalak. Which making a girl that he loved becoming worse than him. Lalak masih menghapus air matanya. Lalu Billy menggandeng tangan Lalak dan mengajaknya ke ayunan tua itu. Billy menuntun Lalak untuk duduk di kayu ayunan. “Sit here, please.” Katanya dengan senyum terbaiknya. Mungkin tidak bisa disebut senyum terbaik, karena yang ia inginkan sekarang hanya keceriaan yang kembali di wajah Lalak. Kemudian Billy memutari maianan anak-anak itu dan berada tepat di belakang Lalak sekarang. “Hold on.” Billy whispers in her ear.

Lalak memegang tali ayunan tersebut. Billy menyentuh tali ayunan bagian bawah dan menariknya tinggi-tinggi. Dan seperti ayunan lain, benda masa kecil itu berayun ke depan ke belakang. Kadang mengikuti arah angin, kadang juga tidak. Dan ayunan itu memberikan sensasi tersendiri untuk Lalak. Terpaan angin musim gugur membuat kepangannya menari-menari. Makin tinggi dan makin tinggi karena Billy menaikkan tenaga yang ia berikan ke ayunan itu. Ajaibnya, cewek yang duduk di atas kayu tersebut.. tersenyum. Bahkan ia tertawa lepas. Merasakan hembusan angin menggelitik tubuhnya. Menghempaskan semua beban yang ia rasakan kini. Dan sesederhana itu. Lewat jalan sederhana itu seorang Billy bisa membuat wanita muda yang menari mengayun di sana, dapat tersenyum dan merasakan suatu kebahagiaan  tulus yang diberikan olehnya.

—SKIP—

“Do you have ex, Billy?” Tanya Lalak di perjalanan pulang mereka. Setelah insiden itu, Lalak dan Billy berbincang sesaat lalu membeli es krim yang lewat di sekitar taman tadi. Setidaknya, kali ini perasaan Lalak lebih ringan dari sebelumnya.

“Yeah, I have one.” Sahut Billy di sela-sela penjilatannya pada cone ice cream coklat yang ia pegang.

“Who?”

“Hailey Baldwin.” Jawabnya datar setelah melahap habis sisa cone ice cream miliknya.

“Oh. Then, why do you break-up?”

cody love story - it's more than love (11) - street
cody love story - it's more than love (11) - street

“Complicated. I can’t explain it.” Katanya seraya mengangkat bahunya. Lalu ia menoleh ke kanan dan mendapati Lalak memandang aneh dirinya. Mengesankan seperti.. kekecewaan. Lalu Billy tertawa kecil melihat kepolosan Lalak. Such a childish girl.

Merasa ada sekelebat bayangan di belakang mereka, membuat Billy menolehkan kepalanya ke belakang. Dan cowok itu menangkap sesosok anak kecil bersepeda, lengkap dengan helm dan pengaman tangan dan kaki akan melintas melewati mereka. Tunggu.. Apa yang ada di pengaman kaki kiri anak kecil itu? Sepiring besi berbentuk api yang terlihat tajam di ujungnya. Anehnya, ada salah satu ujungnya yang berukuran lebih panjang dari yang lain. Dan ujung panjang itu.. akan mencederai kaki Lalak yang berjalan di sisi kanan Billy!

“Watch out!” Teriak Billy. Secepat kilat tangan kanan Billy melebar, meraih bahu kanan Lalak, menariknya mendekat dan mendorong tubuh cewek itu menempel pada tembok sebelah Billy. Refleks, Billy menutupi Lalak dengan mendekatkan dirinya ke cewek itu. Tanpa menyisakan ruangan sekecil apapun di antara mereka.

Anak Laki-laki itu terus mengayuh sepedanya cepat. Nggak peduli dengan Billy dan Lalak yang ada di sampingnya. Dengan helm dan sepeda yang bercorak cicak lucu merah muda,

cody love story - it's more than love (11) - cicak lizard
cody love story - it's more than love (11) - cicak lizard

membuat Lalak yang tadi melihatnya merasa kaget dan jijik pada perlengkapan anak laki-laki itu. Seems like Lalak ever meets him. But.. where? Keadaan trotoar yang teramat sepi karena tempat itu tergolong terpencil membuat anak kecil tadi bersepeda dengan kecepatan di atas normal untuk ukuran sesusianya. Beruntung Billy menarik Lalak cepat-cepat sehingga benda tajam yang menempel pada perlengkapan kaki anak kecil itu nggak melukai Lalak.

Ice cream Lalak terlepas dari genggaman tangannya. Ia shock. Terkejut akan perlakuan Billy dan sesuatu yang terdapat pada anak laki-laki misterius itu. Jantungnya berdebar lebih cepat melihat semua yang terjadi secara tiba-tiba ini. Ditambah muka Billy yang mungkin hanya berjarak sekitar 1 cm dari hidungnya. Membuat keterkejutan itu menjadi loncatan detakan jantung yang kian meliar pada diri Lalak.

Billy meneriakkan sesuatu kepada anak kecil itu. Tapi anak kecil tadi menghiraukannya dan nggak menolehkan kepalanya satu derajatpun dari posisinya semula. Karena kecepatan anak itu di atas normal, ditambah dengan keasyikannya pada dunianya sendiri mungkin ia akan tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Billy masih meneriakkan sesuatu sampai anak itu hilang di belokan perempatan.

Dan selama itu pula, Billy masih merapat ke Lalak. Membuat cewek itu teramat puas memandang manik reddish-hazel Billy yang kala itu terlihat berkilat menampakkan amarah. Setelah bayangan anak itu lenyap dari sudut mata Billy, ia menolehkan kepalanya lurus ke Lalak. Dan mendapati cewek itu memandang manik matanya dalam. Untuk kali pertama, Billy ‘sedekat’ ini dengan Lalak. Hingga ia bisa merasakan hembusan nafas cewek itu yang ternyata belum teratur.

Detik-detik berikutnya, mereka masih tetap bertukar pandang. Mengagumi mata masing-masing yang seakan-akan menghipnotis kedua insan itu. Semilir angin musim gugur berhembus mengelilingi mereka, dengan dedaunan yang masih berguguran di sekitarnya. Menambah situasi roman yang menyelimuti mereka.

Tanpa Billy sadari, ia mendekatkan mukanya ke Lalak. Perlahan dan amat lembut gerakannya. Mau bagaimanapun, Billy adalah seorang lelaki. Lelaki yang teramat menyayangi lalak. Dengan keadaan seperti ini, nggak menutupi kemungkinan baginya untuk menginginkan sebuah kecupan manis dari seorang cewek yang ia sayang. Jarak mereka berkurang. Semakin dekat.. 1 cm..

0.9 cm..

0.8 cm..

0.7 cm..

0.6 cm..

0.5 cm..

BUUK!

“Lizard.__.” Terdengar suara Lalak yang terduduk di tempatnya berdiri. Masih dengan tatapan yang sama seperti tadi. Tatapan keterkejutan ditambah dengan pengagumannya kepada seorang Billy. Seorang Billy yang ternyata mencoba menciumnya tadi. Lalak adalah seorang yang setia. Dan ia nggak akan pernah membiarkan dirinya tersentuh oleh orang lain selain suaminya meskipun ia punya perasaan yang teramat suka pada orang tersebut. Termasuk ‘kissing.’ Itu sebabnya ia menghindari apa yang akan terjadi apabila ia tidak mendudukkan dirinya ke bawah tadi. *Sorry Billy, I can’t do that far.* batin Lalak sendiri di samping perasaan perih yang masih disimpannya akan orang lain.

Reflex, Billy melangkahkan kakinya mundur dua langkah lalu memutar balikkan badannya membelakangi Lalak. He’s just feeling a little bit awkward for this moment. Ia menghembuskan nafas besar berulang kali , meloncat-loncat kecil dan melemaskan tangannya yang sebenarnya tidak terlalu capek. Guess what? He’s nerveous. Pada akhirnya Billy merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal yang teramat dibenci Lalak. He’s regretting. If time can spin as he wants, maybe he wants to repeat all of that incident and curbs himself to do that. “I never seen that species before.__. Lizard.__.” Gumam Lalak lagi.

“What? Don’t say if you afraid with that animal.” Kata Billy menhadap Lalak dengan nada bicara yang terdengar.. normal yang dipaksakan.

“Imagine.. if there are so many amounts of them and they are trying to climb up my back and my hair becomes lizard hair and..” Mata Lalak masih menatap kosong seperti tadi. Mengatakan semua itu dengan harapan Billy bisa kembali ‘normal’ seperti sebelumnya. Dan ya, untuk kali ini keinginan Lalak terkabul.

“Let’s go to our last destination.” Ajak Billy seraya membantu Lalak berdiri.

—SKIP—

*Ipad ringing*

“Unger saved her.”

“I see.”

“So?”

“Just follow them.”

—SKIP—

“What do you think of it? You look terrible! Haha!” ucap Billy yang tengah melihat hasil jepretannya hari ini dalam suatu bis. Lalak dan Billy duduk bersisian di sisi kanan barisan. Lalak duduk dekat jendela sedangkan Billy di samping kanannya. Perjalanan mereka teruskan menuju ke rumah Lalak. Yeah, their last destination. Sebenarnya, Billy mengajak Lalak menemaninya mengunjungi suatu tempat. Tapi entah mengapa, saat mereka berada dalam bis ia membatalkannya.

Suasana bis nggak terlalu ramai. Cuma ada seorang Nenek bersama anjingnya duduk di barisan depan dan lelaki paruh baya berpakaian santai yang duduk di barisan paling belakang. Sehingga, Billy tidak perlu terlalu menjaga sikap sekarang. Setidaknya, ia tidak khawatir akan buntutan paparazzi yang mengendap-endap mengikuti mereka. Spying by someone else and that hunts your secret information, was so annoying for a celeb like Billy. Even all the other celebs. “Lak?” panggil Billy ke Lalak. Matanya masih mengamati foto terlampir pada layar kamera slr yang ia pegang. Menunggu komentar dari wanita muda yang duduk di sampingnya. “Lak?” sekali lagi, ia mengulangi sapaannya.

Karena tak direspon untuk yang ketiga kali, reflek kepala tertunduknya menoleh ke kiri dan.. mendapati seorang perempuan yang tertidur tenang di sana. Dengan kepala menyender di jendela bis dan seraut muka manis yang sanggup Billy tatap setiap detiknya. Background foto yang dipenuhi jalan berbariskan pohon dengan dedaunan yang berguguran, dilengkapi dengan gradasi jingga langit, menambah rasa ingin Billy untuk menatap pemandangan kecil itu lebih lama lagi. Sadar bahwa ini momen indah yang langka, jemari Billy bergegas membenarkan letak kamera untuk difungsikan sebagai alat potret matanya. Dan dalam hitungan detik, terciptalah sebuh foto sederhana yang terkesan indah dan tenang. Another great photo from Billy’s eyes that can make other people say “How lovely it is!”

Dalam benak Billy, tergambar sudah sebuah konsep pameran foto yang niatnya akan ia realisasikan sesampainya di rumah. Sebuah pameran bermodalkan foto-foto dengan satu objek terfokus sebagai kejutan. Sebuah kejutan yang mungkin akan segera ia berikan ketika semuanya telah siap sempurna. Sebuah konsep sederhana untuk orang yang ia sayangi lewat jalan sederhana pula. Being her friends and always beside her whenever she needs him. Simple, but it hard to stand his feelings. His real and sicere feeling.

Billy menyunggingkan senyumnya. Menatap perempuan yang tertidur di sampingnya dan balik mengecek hasil jepretannya. Semua terasa.. manis. Semanis hari yang ia lewatkan bersama nona muda di sampingnya.

SSKKSSS

Dan Billy mendapati kepala Lalak turun ke bawah. Pertanda bahwa tempat menyenderkan kepalanya tidaklah nyaman. Hingga akhirnya, Lalak mengangkat kepalanya lagi untuk menyenderkan kepalanya di tempat semulanya. Tapi terjatuh lagi. Dan ia mengangkat kepalanya untuk kesekian kali. Matanya masih tertutup. Menikmati waktu tidurnya dalam bis yang menelusuri jalan untuk sampai ke rumahnya.

Billy tertawa kecil. Geli melihat wanita muda itu yang sepertinya gagal mendapatkan tempat nyamannya untuk sekedar menyenderkan kepala pengganti bantal. Ia menatap raut muka Lalak lagi. Lekat dan nyaris tak berkedip. Seperti tertarik magnet absurd yang terdapat pada Lalak. But, he can’t ignore the truth that he enjoys that moment a lot.

Tanpa berkata, Billy mengangkat kepala Lalak hati-hati dan menyanggahkannya di atas bahunya. Sebuah tempat nyaman untuk menyenderkan kepala bagi Lalak sekarang. Karena itulah tempat terempuk di sekelilingnya. Dan Billy benar. Lalak terlihat membenarkan letak kepalanya dan menyamankan posisinya menyender ke Billy. Tanpa menyisakan ruang sekecil apapun di antara mereka.

Knowing that respond, Billy just lets her do that and grins sweetly. Ia malah meluruskan punggungnya dan membenarkan duduknya supaya Lalak bisa lebih rileks menyandarkan kepala bundarnya ke pundak Billy. Tapi tiba-tiba..

DEG!

Dan Lalak mendaratkan tangan kirinya melingkari tubuh Billy. Memeluknya erat seolah-olah laki-laki di sampingnya adalah guling kesayangannya. Membuat jantung pemuda itu berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Namun, entah mengapa karena kehangatan yang mereka bagi membuatnya merasa nyaman. Weird. Ini adalah sensasi aneh yang pernah ia rasakan dari seorang wanita. Sebentar, ini mungkin yang kedua kali. Yeah, Billy pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Bersama seorang perempuan yang amat ia sayangi dulu. Dulu, sebelum ia mengenal Lalak lebih jauh.

Tanpa Billy sadari, bis telah berhenti di sebuah halte. Nenek bersama anjingnya turun dan seorang anak laki-laki berkacamata tebal naik ke bis tersebut. Sejenak, anak kecil itu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan bis. Tepat ketika matanya bertemu dengan Billy, teman Lalak itu memanggilnya dan menyuruhnya mendekat ke tempatnya duduk.

“Kid! Can you help me?” and that boy is getting little shocked with romance scenery towards him.

—SKIP—

*Ipad ringing*

“Hal-lo?”

“Alli? You there?”

“Absoloutely. Why are you-”

“Can you drive me to go to somewhere?”

“Defenietly, yes. When?”

“How about now?”

—SKIP—

Lalak membuka kelopak matanya perlahan. Sinar senja mencerahkan pandangannya. Aneh. Kenapa ia merasa nyaman sekali? Tunggu.Kenapa ada seseorang yang menindih kepalanya lembut? Sebentar. Kenapa ia bisa tersandar di pundak orang? Dan lagi, ia baru tersadar tangannya melingkar erat pada orang di sampingnya. *HELL. What am I doing?* batinnya dalam hati. Secepat kilat kesadarannya pulih dan Lalak langsung menarik tubuhnya menjauhi sosok orang yang ada di sampingnya. Melepaskan pelukannya, sandaran kepalanya dan kehangatannya. Membuat pemuda yang ada di sampingnya terbangun dan sadar bahwa sanggahan kepalanya menghilang.

“You awake?” pemuda itu tersenyum. Billy tersenyum pada wanita muda yang masih kaget di sampingnya. Billy menatapnya santai, lalu ia melemaskan tubuhnya dengan meluruskan tangan-tangan dan kaki-kakinya. Memutarkan punggungnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke kiri, mendapati tatapan nanar dan raut keterkejutan pada gadis di sampingnya.

“Billy, I can explain. I don’t me-”

“Let’s go. You should be in home fast, owl.” Potong Billy sambil terkekeh kecil. Bis berhenti dan Billy berdiri untuk beranjak dari tempat duduknya. Lalak masih tersentak. Terkejut dan kembali mengingat-ingat apa yang sebelumnya ia lakukan sampai-sampai.. “Uh-oh. C’mon, owl. I think your aunt is got to be worrying about you. Haha.” Ucap Billy dengan kekehannya lagi. Ia meraih tangannya, menariknya, memaksanya berdiri dan mengikuti Billy menuruni bis.

Dalam ketidak-percaya-an-nya akan apa yang telah terjadi, sesaat Lalak melihat laki-laki yang duduk di barisan paling belakang. And doesn’t know why, she just feels that.. she ever met with him before now. But she doesn’t care about that now. She is still thinking.. what was happening till she..

“It’s awkward, Lak. Stop it. Haha.” Canda Billy dengan mengacaukan rambut Lalak. Mereka berjalan beriringan menuju rumah Lalak sekarang. Dengan segala gurauan yang dilontarkan Billy. Haha. Meskipun ia amat dekat dengan Billy, tidak berarti melakukan hal seperti tadi merupakan hal yang lumrah bagi Lalak. Just to remember, she is Indonesian and still respect with Indonesian’s rules.

“It’s embarrassing, Billy-__-” bantahnya cepat. She is still in speechless. Losing words to say.

“But, you have nice sleep, right?” Tanya Billy ke Lalak dengan menundukkan kepalanya.

“I can’t say no-__-” gumamnya malu-malu. Billy benar, Lalak merasa nyaman tidur di bis tadi. Dengan tempat bersender dan kehangatan manis yang menjalari tubuhnya. Ia nggak bisa mengelak, meskipun malu Lalak masih ingin merasakan kehangatan itu lagi. Dengan kesadaran dan sikap yang lebih normal, tentunya.

“And.. are you happy today?” Tanya Billy lagi masih dengan menudukkan kepalanya. Rumah lalak sudah tinggal sepuluh langkah lagi. But, doesn’t know why, suddenly Lalak stops her steps. She stays on her place and feels like some kind of freezing. Billy yang sadar akan hal itu, menoleh ke Lalak dan mendapati tatapan terhenyak dan keterjutan lebih dari yang sebelumnya ia lihat dalam bis. Dan akhirnya, Billy ikut menghentikan langkahnya. “Lak?” Gadis di sampingnya masih terpaku. Membeku melihat satu titik fokus yang membuatnya terpatung. Titik fokus yang merupakan sesosok orang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sesosok pemuda yang-jujur-amat ia rindukan. Sesosok lelaki yang membuatnya jatuh dalam keterpurukan. Sosok lelaki yang.. ia cintai.

DEG!

“Cody…”

END OF THIS CHAPTER

Advertisements

2 thoughts on “Cody Love Story – It’s More Than Love (11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s