Untukku, yang Ke-empat

Untukku, yang ke-empat
Untukku, yang ke-empat (google)

4-2-2012

“Tebak! Apa yang paling kusuka dari musim semi?”

“Guguran sakura merah muda?”

Ia menggeleng lemah, tersenyum dan menatapku lekat. Kemudian memelukku erat. Sangat erat hingga kutaksanggup melepaskan kehangatan yang kami bagi. Kristal-kristal salju masih terbang mendaratkan puing putih silih berganti. Menyelimuti situasi roman di antara kami berdua.

♥♥♥♥

4-4-2011

Ohayou[1], Takanatsu Fujiwara?” Sapa seorang gadis belia dengan nuansa merah hati pada pakaian yang ia kenakan. Merah Muda? Dan lagi, ia menggunakan cincin berbandul ‘4.’ Angka perwakilan dari kata ‘sial’ dalam fikiranku, selalu.

Ohayou, ya. Dan anda?”

“Ahiko-san, junior di jurusan Desain Universitas Tokyo. Hajimemashite[2], Taka-san.” Jawabnya sembari membungkuk sopan di hadapanku. Tunguu..bukankah ia gadis Indonesia yang sering menjadi topik hangat perbincangan mahasiswa jurusanku? Untuk ukuran orang Asia ia cukup..pendek. Tapi jangan tanya otaknya. Universitasku sendiri sampai rela membiayai kuliahnya hingga lulus. Wanita cerdas yang selalu menjadi tipeku. Sebentar, apa yang sedang kupirkan? Kemudian, aku bertanya lebih lanjut ada urusan apa wanita ini menemuiku. Dan alasannya cukup singkat, padat dan bahkan sangat jelas. Sebuah alasan yang setidaknya membuatku sedikit tersentak. Dia hanya ingin berkenalan denganku.

♥♥♥♥

4-8-2011

“Mari makan di warung kecil itu, Taka-chan!” ajaknya selepas kami pulang kuliah. Musim panas mencapai akhirnya bulan ini. 4 bulan berlalu cepat. Setelah perkenalan itu, tak elak hubungan kami menjadi lebih dekat dari yang sebelumnya tak pernah bertegur sapa. Ditambah dengan pribadinya yang terbuka dan humoris, membuatku sedikit tahu tentang dirinya. Tidak, mungkin aku tahu banyak tentang gadis muda ini. Kecintaannya pada musim semi, sakura, dan benda-benda pinky adalah fakta-fakta lain yang kutahu. Dan juga, kami memiliki banyak kesamaan. Menyukai musik mellow, terobsesi akan desain, benci pedas, bahkan kami memiliki tujuan universitas yang sama untuk jenjang S-2, Harvard University. Tapi, satu yang membuatnya berbeda. Dan itu benar-benar bertolak-belakang denganku yang penganut shinto fanatik ini. Tanpa alasan, ia suka angka ‘4.’ Katanya angka ‘4’ sering hadir di kehidupannya. Baik itu dalam momen indah maupun susah. Sedangkan aku? Aku adalah penghindar dari angka sial itu. Dan itu sudah menjadi tradisi nenek-moyangku.

“Mengapa tidak di café itu? Ada sushi favoritmu di sana.” Akhirnya aku mengalah. Kekukuhannya mengantarkan kami melangkahkan kaki ke sana. Tempat makan yang terletak di gang 4 Jalan Dakashi Tokyo-Jepang.

♥♥♥♥

4-11-2011

“Musim gugur terindah yang pernah kulihat.” Gumamnya sendiri. Itu adalah satu di antara gumaman lain yang pernah telingaku tangkap. Bahkan, aku hampir mengingat semua komentar kecil terlontar dari  bibir mungilnya. Kuakui, gugur kali ini memang indah. Aku telah menikmati pemandangan ini dengan 3 wanita sebelum dia. Musim ini hubungan kami jelas lebih akrab dari bulan-bulan lalu. Mengundang tanya mahasiswa lain di kampus. Tapi, saat-saat bersamanya..membuat hatiku bahagia. Kini, kami duduk bersisian di bangku yang menghadap danau dengan pohon-pohon besar mengelilingiya. Menciptakan daya magis di antara ranah merah-kuning yang berguguran indah di sana-sini. “Mungkin, ini bukan yang terindah buatmu,” gumamnya lagi.

♥♥♥♥

4-2-2012

“Lalu apa yang terindah?” Tanyaku lanjut ketika kami berjalan bergandengan. Saling menautkan jemari untuk memberi sisa kehangatan di detik-detik terakhir. Ia tertawa kecil. Manik hitamnya menyorotkan kesenduan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Kau tak harus menghindari 4, Taka-chan. Koreksilah, suku kata namamu saja berjumlah 4 bukan?” Ternyata banyak angka 4 tersembunyi remang di balik seluruh riwayatku. Khususnya, riwayatku bersamanya. Kuingat tanggal 4 adalah hari kemajuan hubungan kami. Kemajuan tanpa ikrar, ucapan. Dan ya, kami saling mengakuinya dalam bisu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ia tersenyum lagi, manis sekali.

“Perkenalanku denganmu, Taka-chan.” Jawabnya lekas sembari menahan tetesan air matanya. Kemudian ia menarik koper besarnya dan melambaikan tangan kepadaku. Lalu ia membelakangiku, berjalan lurus kedepan tanpa menoleh ke belakang, sedikitpun.

“Ya, Iko-chan. Aku menyukainya sekarang.” Batinku melepas kepergiannya. Angka 4-lah yang mempertemukan dan memisahkanku dengannya. Dengan hadiah paling indah selama 4 musim terakhir.

——————–

Untukku yang ke-empat
Untukku yang ke-empat
word count : 600

[1] : Selamat Pagi

[2]: Salam Kenal

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.

Advertisements

10 thoughts on “Untukku, yang Ke-empat

    1. oo gitu ya kak ? yaampun aku malu bangeet-__- makasih banyak kak saran dan komennya 🙂 terima kasih sudah mampir 🙂
      iyaa kaak, sama-sama. gudlak jugak buat kontesnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s