TOTALLY AGREEE !
aaa, postingan ini membuka pemikiran saya yaAllah. makasih kak Nilnaaa :))

Nilna.R.Isna

TENTANG CITA-CITA
Oleh : Nilna R. Isna

Aku mendengar kalimat ini. Guruku yang mengatakannya, ketika aku dan teman-teman SMA-ku sama-sama duduk lesehan di karpet hijau dalam ruangan labor komputer. Mendengarnya, pikiranku mengulang kepada zaman saat aku masih memakai kemeja putih dan rok merah. Ya, waktu itu, aku masih SD.
“Anak-anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?,” tanya Bu Guru. Kelas jadi ribut. Murid-murid bersahut-sahutan berebut menyuarakan cita-cita mereka. Aku termasuk dalam orang yang “berani bersama” itu. Berteriak keras-keras berulang-ulang menyuarakan cita-citaku. “Dokter Bu…! Dokter Bu…! Dokter Bu…!” Suaraku melengking mengalahkan suara teman-temanku yang lain. Sewaktu aku masih eS-De, aku dan teman-temanku hanya mengenal lima cita-cita, yaitu dokter, insinyur, polisi, pengusaha dan presiden. Dokter karena kelihatannya hanya dokter yang bisa “dimiliki perempuan”. Insinyur karena Si Doel Anak Sekolahan juga insinyur. Polisi karena photo orang berseragam polisi keren sekali. Pengusaha karena “bapaknya” juga pengusaha. Presiden karena ada photo presiden di depan…

View original post 374 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s