TOTALLY AGREEE !
aaa, postingan ini membuka pemikiran saya yaAllah. makasih kak Nilnaaa :))

Nilna.R.Isna

TENTANG CITA-CITA
Oleh : Nilna R. Isna

Aku mendengar kalimat ini. Guruku yang mengatakannya, ketika aku dan teman-teman SMA-ku sama-sama duduk lesehan di karpet hijau dalam ruangan labor komputer. Mendengarnya, pikiranku mengulang kepada zaman saat aku masih memakai kemeja putih dan rok merah. Ya, waktu itu, aku masih SD.
“Anak-anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?,” tanya Bu Guru. Kelas jadi ribut. Murid-murid bersahut-sahutan berebut menyuarakan cita-cita mereka. Aku termasuk dalam orang yang “berani bersama” itu. Berteriak keras-keras berulang-ulang menyuarakan cita-citaku. “Dokter Bu…! Dokter Bu…! Dokter Bu…!” Suaraku melengking mengalahkan suara teman-temanku yang lain. Sewaktu aku masih eS-De, aku dan teman-temanku hanya mengenal lima cita-cita, yaitu dokter, insinyur, polisi, pengusaha dan presiden. Dokter karena kelihatannya hanya dokter yang bisa “dimiliki perempuan”. Insinyur karena Si Doel Anak Sekolahan juga insinyur. Polisi karena photo orang berseragam polisi keren sekali. Pengusaha karena “bapaknya” juga pengusaha. Presiden karena ada photo presiden di depan…

View original post 374 more words

Untukku, yang Ke-empat

Untukku, yang ke-empat
Untukku, yang ke-empat (google)

4-2-2012

“Tebak! Apa yang paling kusuka dari musim semi?”

“Guguran sakura merah muda?”

Ia menggeleng lemah, tersenyum dan menatapku lekat. Kemudian memelukku erat. Sangat erat hingga kutaksanggup melepaskan kehangatan yang kami bagi. Kristal-kristal salju masih terbang mendaratkan puing putih silih berganti. Menyelimuti situasi roman di antara kami berdua.

Continue reading “Untukku, yang Ke-empat”