Cody Love Story – It’s More Than Love (10)

  • Nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

Alhamdulillah, finally finished and posted it ! such a hard day for me for this month-_– practice, exam, to and otheers~ and that’s making me become to need a refreshment. and here they are my refreshment ! it products a story ! HAHA okee, enough for that-_– sebenernya udah ada 2 postingan yang nangkring di draft tapi masalahnya ituu, postingannya tentang cerita sama puisi. puisinya kelaar, tapi garagara pingin nerusin nih #cls jadi kehambat ide deeh nulis cerita tentang poemnya. yaudahlah ini dulu aja. ohyaa, aku mau ngucapin makasih buat readers yg udah mbaca dan nyari lewat search engine google tentang cls ku ini ! sumpah terharu begettteeeeh :’)) dulu pas hitsnya masih 200-an aku ngesearch sendiri gitu tentang postinganku *oke ini alay* tapi sekaraang, Alhamdulillah yaAllah :DD aduh banyak bacot bgt ya aku, yaudah, check this part 10 OUT !

PART X

Malam itu di sebuah rumah mewah yang berada di LA, there is one guy in his bedroom, sitting in front of his laptop and getting shocked with all of information that he got from internet now. Information that he looked for so damnly difficult for an hour. Because that was ‘secret public news’ and it protected by many webs. Susah payah akhirnya cowok itu mendapatkannya. Unpredictable respond draws clearly on his charisma face. Ia terkejut. Dahinya mengernyit cukup dalam dan mulutnya membentuk bulatan kecil tanda keheranan dan tak-kepercaya-an-nya. Saking kagetnya, cowok itu cuma speechless dan bergeming cukup lama di tempatnya. Tangannya beku, matanya masih menatap layar laptopnya. Ia membaca headline berita yang tepatnya terjadi 5 tahun lalu…

SHINING STAR TURNS OUT TO NOT CARING A LITTLE SUNSHINE

Getting confuse? Yeah, he too. Itu mengandung makna konotasi… dan semua terjawab jelas saat cowok itu meng-scroll mousenya ke halaman bawah.

‘…From unofficially source, she get coma in Indonesia hospital. Father’s victim doesn’t accept with all everything happens. Seems  like he’ll sue the party of manager. That issue make the party of manager unmoved and giving no comment. They do that with unobviously reason. Maybe wanna to wait the problem suibsides, but actually they’re seems taking wrong steps….

…..And now we know that he is a shining stars that doesn’t care with his litte sunshine which making him becoming brighter and bigger.’

And that last sentence has clear meaning in that guy’s mind. Very clear till he has to suit the incindent in now reality. Cowok ini bener-bener nggak habis pikir dengan apa yang terjadi di 5 tahun yang lalu dan sekarang.

‘Is this coincidence? Is this real? Why? Why does God make me to meet with someone like her? Why it should be her?’ teriak pertanyaan-pertanyaan itu dalam batinnya. Ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang terkesan tak rela akan pemberitaan tersebut. Dan ketidakrelaan itu terus berkembang dalam tempo cepat dan membuatnya menutup laptop yang berisikan pemberitaan tersebut secara kesar untuk melampiaskan kemarahannya. Kemarahan akan ketidakmampuannya menerima kenyataan ini. Kekesalan itu terus berlanjut. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Menatap langit-langit kamar sambil memijat area di antara kedua alis tebal miliknya pertanda bahwa ia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. Ia ingin menyalahkan seseorang yang membuat a girl that he loved is becoming like this way. But his clear logica still works properly in this such condition. And his mind’s logical said that the person… wasn’t guilty. Cukup lama ia berbaring sembari memikirkan hal yang sama, sampai akhirnya BB cowok itu berdering tanda ada panggilan masuk. Ia mencoba untuk tidak mempedulikan telepon itu. Tapi nyatanya, deringan hapenya nggak berhenti. 1st calling failed, then 2nd calling. 2nd calling failed, then 3rd calling. Dan tanpa melihat kontak yang menelponnya cowok tersebut telah mengetahui siapa penelpon pantang menyerah itu. Ia menghembuskan nafas besar, kemudian meraih ponselnya dengan cepat.

“Hallo?” sapanya jutek.

“Hey dude. What’s going on? Why do you reject my call?” Tanya orang dengan suara berat di sebrang sana.

“No-No matter. Why do you call?”

“I know you are not. Okay, I don’t care about that. This is not the right time to talking about that. Can you go to my office now? There is something important I want to let you know.”

“Sure.” Lalu telepon terputus, tanda emosinya belum mereda. Dengan cepat ia berganti pakaian masih dengan emosi yang sama. Ia meraih jaket dan syalnya. Lalu ia kembali mengecek BBnya. Untuk sejenak, ia tersnyum. Ada kenaikan sudut di ujung bibirnya. Cekungan tipis situ tersungging di bibirnya setelah ia melihat wallpaper hape itu. Di sana, foto yang tersetting sebagai wallpapernya terlihat menyenangkan. Ada dirinya dan seorang gadis asia tersenyum lebar. Selebar kehangatan dan keceriaan mereka saat itu dengan segala property kegilaan foto mereka. Cowok itu menggunakan funny glasses dengan hidung besar dan kumis tebal tertempel di tengah kacamata, sedangkan si cewek mengenakan kacamata nerd berukuran besar dan chicken cap dan membiarkan rambut panjangnya tergerai alami. Such a silly moment and properties. But they seems enjoy all of that. Yeah, their eyes told that. Their eyes are shining to emit their heppiness. Background foto berupa taman asri dan art photography yang mendukung… bener-bener bikin foto itu kelihatan sempurna.

Cewek itu…. Ya cewek itulah yang membuatnya galau and still thinking about that news. Girl that he loved. Girl that he wants to protect. Girl trhat he wants to admit by for his entire life. Girl that he wants to be… His.

“You know? I still won’t give up, girl.” Katanya memandang foto itu dengan tatapan yang terkesan bahwa masih ada secercah harapan baginya untuk membuktikan perasaannya ke cewek yang sangat disayanginya itu. Cewek yang dia sayangi tanpa sebab. Cewek yang ia sayangi at the first sight. Mungkin ia bisa memilih cewek yang lebih cantik dan lebih baik dari cewek yang ada di wallpaper hapenya itu, bahkan banyak cewek dari kalangan artis yang masih rela mengantri umtuknya. Tapi apa daya, hati pemuda itu telah mutlak memilih ia.

And one more guy that knows and notices that scandal…

—SKIP—

pantai part 10 - cody love story - its more than love (10)

“Cody?” Sapa Alli petang itu pada Cody yang duduk membelakanginya. Mereka nggak berada di rumah sekarang, melainkan di suatu pantai. Pantai yang terlihat indah kapanpun Cody lihat. Dengan gemerlap air di bawah remangan bulan. Just like beach that he misses now. Ya, that was gold coast beach, the one that he misses. Karena ngga menjawab sapaan Alli, cewek itu menghampiri abangnya yang tengah duduk di mulut jembatan bersama gitar yang ia petik random senanrnya mengiringi kehipnotisannya akan keindahan alam di depannya. Then Alli takes a seat next to him and look at his face. His mess face. Kala waktu itu, cowok pirang tersebut mengenakan kemeja flanel abu berlapis jaket jeans favoritenya dan gray trousers. Dan terlihat ada syal biru manis yang tergantung erat di lehernya. Sekilas nggak ada yang salah dengan cowok itu. But when we heard him sing with his guitar, we obsoloutely know that.. He’s not okay. Dengan rambut acak-acakan dan kantong hitam kecil yang terlukis samar di bawah kelopak matanya, Alli tahu abangnya ini tengah memikirkan sesuatu.

“Making new song, huh?” Tanya Alli basa-basi mencoba untuk mencairkan suasana. Ia memperhatikan sisi mata kiri Cody dan mendapati tatapan kosong di manik samudera itu. Cody tetap bungkam, menatap gemerlap permukaan air yang tersapu remangan purnama. Knowing this condition, Alli just silents and joins Cody to enjoy the view. Suara ombak menyelimuti keheningan mereka. Cukup lama kedua kakak-beradik itu terdiam sampai akhirnya Cody mulai mengeluarkan suaranya..

“I’ve been trying find… the right words..” Alli melihat Cody. Terheran sejak kapan mood galau Cody bisa menelurkan sebuah lagu. Cowok itu berhenti sejenak. “…you see you’re my… addicition…” lanjutnya dengan suara lirih. “..and I need more than…” ia terhenti lagi. Seems like he can’t think what’re the next lyrics.

“Stop it. That’s weird. Your voice’s mess. Don’t push yourself brotha.” Komen Alli dengan balik menatap bentangan perairan di hadapannya. Lalu Cody berhenti memainkan gitarnya dan meletakkan alat music kesayangannya itu di samping kanannya. Kemudian ia menghembuskan nafas besar.

“How’s she?” tanyanya lirih.

“Pretty fine. Billy admits her this whole day.” Cody mengangguk. Mengingat telefon terakhirnya ke Lalak yang diangkat oleh Billy. Dan telefon itu lah yang membuat hatinya semakin gundah sekarang.

“Lalak?”

“No. It’s Billy.”

“Oh, where is she?”

“She’s in bathroom now.”

“Is she fine? Does her fever decrease?”

“Yeah, absoloutely. She looks the way of better than yesterday, Cod.”

“Great.”

“Wanna to talk with her?”

“Eem, yees..”

“Okay, Hold-…”

“Don’t! no. there is no need to do that. Thanks Billy.”

And he cut the connection. With such confuse and stress face that Billy can’t look. Yeah, he’s still feeling guilty and afraid to face the truth. And at that time.. he didn’t know what the better step should he take.

“You haven’t talked with her about that?” Tanya Alli balik. Cody menggeleng lemah. “What a mess-__- your mission is on its success way, but suddenly that simple things destroy all? Omg Cody. I can’t never think what’s the better than this.” Cody terdiam lagi.

“…That’s weird, if you don’t have any special relationship with someone but actually you’re feeling big guilty because that someone’s crying because of you and there is another guy comforts her. I just.. I just can’t get it right Alli. I’m confuse..” Cody akhirnya angkat bicara.

“You like her. You even get jealous when there is another guy comfort her, right?” kata Alli. Cody memandang wajah lelah adiknya. Seems she works hardly today.

“Am i?”

“Yeah.”

“It can’t Alli. It can not.”

“What do you mean?”

“I’m just feeling that I’m having many sins to her. So many mistakes I have done to her, and now..”

PLAK!

“Stop Cody! Stop! You make this simple things becoming complicated!” bentak Alli ke Cody setelah ia menampar pipi kiri abangnya itu. Tamparannya cukup kuat, hingga membuat pipi pucat Cody terlihat memerah. Begitu juga bekas luka di sudut bibirnya karena pertengkarannya dengan ‘orang’ kemarin. Ya, semerah hatinya akan kerinduannya terhadap sesorang di luar sana. Tamparan itu cukup kuat membuka hati Cody yang gundah untuk menyadari kenyataan sekarang.  Kemudian Alli berdiri dengan tetap menatap Cody. “You can’t accept the truth that you like her! There is no one in this world getting confusion like you almost die because of woman except if you like her!” Amuk Alli ke Cody dengan berbagai penjelasan yang penuh dengan ekspresi kejengkelannya. Kejengkelan akan ketidaktahuan abangnya yang menurutnya sangatlah tidak masuk akal.

“But that’s nooot! She’s crying like that til Billy should comfort her.. I even did nothing with Kylie yesterday. Then why can she do that? I just can’t get it right. I swear, yesterday just..” Cody berdiri mengikuti Alli. Menerangkan kebingungan perasaannya dengan bentakan layaknya ia melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya terhadap dirinya sendiri. Yeah, he disappointed with himself.

“Stupiid! Doesn’t that meaning she love you so damn much? So damn much til she regrets that how much she loves you and getting jealous after look you and Kylie!” bentak Kylie lagi.

“For what she loves me? She doesn’t have reason to do that! And I’m not deserving that! I’m the one that taking all of her smiles away from her face! I’m the one that making all of her happiness disapperad Alli!” jelas Cody frustasi. Alli terdiam sebentar. Ia berfikir akan kata-kata yang akan ia lontarkan untuk membangkitkan semangat abangnya. Actually, she’s getting speechless. Speechless because Cody thinking this problem so freakin deeply. Kemudian Cody kembali duduk memandang pantai. Menahan emosinya dan menata egonya yang tadi telah terlampiaskan dengan sukses ke adik kesayangannya.
 

*NB: Dibagian ini kalian bisa dengerin lagu Second Chance-nya Cody Simpson :3*

“You.. love her Cody. You are getting to fall in love with her. Your feeling about her getting bigger.. bigger and bigger. Trust me Cody. I know who you are.” Cody tetap bungkam. Masih menatap gulungan ombak kecil di hadapannya dengan fikiran kacau yang sekarang mencapai puncaknya. Sadar bahwa Cody belum ‘menganggap’-nya, Alli duduk di samping abangnya lagi. Closer and she holds Cody’s shoulder to make him listens her. “Listen, there is still one more chance to make all getting right Cody. Your second chance.  Remember, she’s getting amnesia and this part is the best part to you to make it all better. Bring happiness to her and trash all of her sadness. I know you can make it. And I know you want to do that. My big bro is tough boy! He never lets this simple problem stopped him, he never gives up and he always stay strong!” Cody menatap Alli lama. Memandang penuh harap akan penjelasan Alli barusan. Seketika tatapan sendu itu mencerah. Mengembangkan senyum tipisnya dan membuka secercah harapan baginya. Yeah, Alli can make it. She is Cody’s best gift he ever had, a loveable sister.

“So..? So Alli! :p” senyum Alli terkembang. She realizes that she’s success to make Cody’s confusion being gone. Lalu Cody mengacak rambut Alli.

“I’m not a boy, I’m such a hottie man :p” mereka tertawa bersama.

“Really? Man never getting confusion so deeply just like what you did just now :p”

“Hey, it depends to the people. You can’t judge the way like that :p”

“Whatever :p Let’s go back Cody. Matt getting mad at me because you turn off your phones and this night, getting colder btw-__-” dengan hanya mengenakan tank top hitam berlapiskan tees tipis abu polos berlengan pendek, ditambah dengan rok hitam selutut nggak salah kalau Alli kedinginan di sana.

“There is no hot night my dear sist-__- wear this.” Kata Cody sambil menyerahkan jaketnya yang baru saja ia lepas.

“I wanna your shawl too :3” pinta Alli seraya mengenakan jaket Cody.

“No way!” katanya jutek. Yeah, shawl itu cuma punya Cody. Dan nggak akan pernah ia kasih ke siapapun karena baginya.. syal ini sangat berharga. Shawl from someone that she loved, shawl from someone that he worried, shawl from someone that can make day becoming mess.. Damn, he misses her now. Yea, not looking her smile on her lovely face just only one day, it turns out that can make him missing her a lot. “I’m missing her..” katanya pada dirinya sendiri. Lalu mereka berjalan kembali ke parkirtan mobil Alli. Seketika suasana mencair. Dan Cody bisa tersenyum lagi. Sementara cahaya matahari meredup tergantikan oleh  bulan dengan sejuta bintang di sampingya, Cody dan Alli menikmati sisa malam itu secara hangat dan menyenangkan.

“Who’s you missing?”  Tanya Alli jahil pada Cody.

“You-know-who,” jawabnya datar.

“So sweet :3 you have to talk with her about everything, Cod. Don’t make her getting misunderstanding again.”

“Definitely. I’ll do that really really soon.” Jawabnya tegas.

“I like this Cody 😉 but.. be honest, do you love her?”

“Ehem. And I think.. this is not calling love again..” Lalu Cody menyalakan mesin mobil.

“Then.. what?”

“Dunno. Feels like.. more than love. Yeah, it’s more than love.” Untuk sekali lagi, Alli speechless. Ia hanya bisa tersenyum lebar kepada abangnya itu dan melihat jalan ke depan. *My brother is getting mature man :D*

—SKIP—

“Can you follow me?” Bisik Billy pada Cody di café. Hari ini hari Selasa. Hari yang mungkin.. penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab di benak Billy. Cody yang saat itu tengah sendirian sembari bermain Iphone-nya karena mention di twitter membanjiri dirinya, meng-iyakan dengan mengikuti jejak salah satu teman baiknya itu. Tanpa berkata apa-apa, Billy leads their way to somewhere that can make them talk privately. Somewhere on the top of their school. Yeah, Billy takes Cody to garden in the fifth floor. Cody yang nggak tahu tempat ini sebelumnya terheran, mengapa Billy bisa membawanya kemari. *Such a perfect place for.. dating?* batin Cody. Cukup lama mereka terdiam di tempat itu sembari menikmati lukisan Tuhan lewat gumpalan awan-awan kecil yang kala itu berbentuk huruf L terbalik 90º, akhirnya Cody buka suara..

“Look at that clouds, Billy.. They form-”

“L. L in 90º. Yeah, I know Cody. ” jawab Billy dingin sambil tetap menerawang langit.

“What’s going on with you?”

“What’s going on with me? The one who should ask that is me, Cody. What’s going on with you?” Billy balik menanya, dengan suara yang sama dinginnya dengan hembusan angin yang menerpa syalnya.

“I don’t know what you mean..”

“Why her? Why it should her, Cody?”

“Her..?”

“Don’t pretend like you don’t know about that. The one that lost her happiness.”

“Happiness?”

“Lost her father, future and almost everything.”

“Who? Come’on. Don’t play with me.”

“Don’t play with her!”

BOOG!

Dan satu tinjuan kuat itu tepat mengenai pipi kiri Cody. Memaksa tubuhnya terduduk karena gaya yang dilayangkan Billy memlalu tangannya. Membuat pipi pucatnya terlihat memerah. Bekas luka kemarin yang masih menghiasi mukanya pun tak luput memerah. Merespon tekanan amarah itu. Fikiran Cody yang berjalan lambat hari itu akhirnya tahu jalan pembicaraan Billy. He talks about someone who he misses so damn much now.

“She losts her memories, she gets misery and now.. you destroy her again?” kata Billy dengan luapan amarah di sorot matanya. Manik samudera Cody yang masih belum terakomodasi secara sempurna nggak bisa lihat luapan amarah itu. “You changed her, Cody. She changed because of you.” Lanjut Billy. “She give you shine eventough you don’t care the little sunshine that makes you brighter.” Seketika itu kesadaran Cody pulih. Headline berita 5 tahun lalu yang udah ia kubur sebagai aib keartisannya ia dengar lagi untuk kali pertama setelah ‘itu’ terjadi. Kali pertama dari mulut seorang Billy. Cody masih bungkam. Tapi sorot matanya lurus menatap manik reddish-hazel Billy yang penuh dengan emosi itu. “Where are you? Where are you when she needs you? Needs your support, needs your help and needs.. your love?”

“I never play her. I like her.” Cody berdiri di tempatnya dengan sisa kunang-kunang yang masih bertebangan di sudut matanya.

“Like is never leave someone that you like behind all of her sadness that she suddenly gets. Like is sincere. Like is never sees who where and when. But..you?”

“Listen, I can’t do anything when that happen. Matt curbed me. And the other said that I should silence and giving no comment. I was new singer on that time just can obedient and see everything happen.”

“Everyhting? And you just don’t care about that? Oh My God, Cody..”

“I SEE! I know everything. I feel guilty, Billy. And I-”

“Just feeling guilty without making any steps is nothing, Cody. Hope you are not late.”

“Wdy mean?” Billy menghembuskan nafas besar. Ia berbalik memunggungi Cody.

“Don’t make her in tears again. If you can’t do that, give it to me.” Lalu Billy berjalan meninggalkannya. Melangkahkan kakinya kecil-kecil menunggu respojn yang keluar dari ‘rival’ tak tertulisnya itu.

“You like her?” Tanya Cody dengan aksen Australianya yang kental itu. Billy menghentikan langkahnya.

“I don’t like her. I love her.” Katanya singkat dan ia meneruskan jalannya ke pintu di sudut taman terbuka itu. Taman indah yang nggak sesuai dengan gundahnya hati cowok yang berdiri sendirian di balkon taman itu sekarang. Sejenak angin membelai rambutnya lembut. Membuat pemuda itu harus merapatkan syal biru yang selalu tergantung-sejak ia mendapatkannya-di lehernya. Ia terdiam. Masih menatap langit dengan beribu pikiran yang ada dalam benaknya. Menerawang yang akan datang, mempelajari hari ini dan mengevaluasi masa lalunya.

*I am on the way to make her smile again. I swear, Billy. I will never make one little grain release from her eyes. I promise.* janjinya di hadapan bunga-bunga bermekaran yang menari mengikuti angin musim gugur di sekelilingnya.

—SKIP—

part 10 lucie - cody simpson love story - its more tha love (10)
part 10 lucie - cody simpson love story - its more tha love (10)

“YOU WOULDN’T BELIEVE IN WHAT I’LL SAY, LAK!” heboh Lucie di kamar Lalak sambil mengguncang-guncangkan tubuh temannya yang masih dalam tahap penyembuhan itu. Yeah, Lucie keep his promise and now she visits Lalak to know her condition. Lalak yang udah amat-sangat merindukan cewek brunette itu feels so glad that finally she can meet and share everything with her. Tapi dengan kehebohan yang ia bawa sekarang.. Mood Lalak jadi turun buat nyeritain kisah-kisanya selama 3 hari belakangan ini. Kisah yang bikin dirinya jadi hari ini. Hari ini Lalak baru tau kalo Lucie kacamataan. << Just like that picture << Alasannya sih mata minus karena suka baca komik marvels malem-malem di kamarnya. Kan Lucie tergolong anak pintar, jadi sebagai orangtua yang termasuk overprotective sama anak, kedua orang tua Lucie ngelarang putrinya baca begituan. Anyway, pagi tadi Lalak bangun dengan perasaan yang lebih ringan dan segar dari kemarin. Dengan silau mentari dan bau teh green tea favouritnya yang menggelitik dirinya untuk membuka kelopak mata di pagi tadi.

“What’s now? Si idung mbangir? Si mata merem? Si areng? Ato si.. tukang ngebersiin jamban itu hah?” canda Lalak sambil nyiapain air jeruk kesukaan Lucie.

“Ryan itu ngebersiin jamban karena temennya tauk! He’s such a herooo w(‘A’w)”

“Pahlawan siang bolong yang kerjanya jadi OB sekolah sih percaya”

part 10 living room- cody simpson love story - its more tha love (10)
part 10 living room- cody simpson love story - its more tha love (10)

“Rawr-__- you forget Cody-_–” Kata Lucie sambil menguatk-atik hapenya di ruang keluarga Lalak. Ruangan yang didominasi warna-warna soft itu terasa hangat dengan dinding kayu, karpet vintage dan perabotan keluarga yang tersusun rapi di tempat. *Such a perfect place for hunting* batin Lucie selalu ketika ia berada di rumah Lalak.

Cody.. Sejak Billy mengangkat telpon Cody, pemuda pirang itu nggak membombarder Lalak dengan teleponnya setiap jam. Suddenly she’s wondering.. what they were talk? Until Cody gave up and stop call her? Buru-buru Lalak mengalihkan pikirannya dari Cody itu. Dia bener-bener nggak mau berharap lebih jauh lagi sama Cody. Tapi mengapa Cody menelponnya terus kala waktu itu? Dan texts her many times which such word that sounds like.. guilty. Apa Cody ngerasa bersalah? Bersalah..? Wait, guilty for..what? all lalak knows that he’s happy with Kylie at that time. And Lalak.. is getting comfort by Billy.

*That’s NO WAY, Cody feels guilty because I look him with Kylie. I do feel jealous. But, have he looked at me? And ran after me then figured out that I and Billy.. Lak, stop imagine! Stop!*

“Lama banjeet bikinnya sih nona cinderella yang kayak monyeeet :p” Tanya Lucie yang membuyarkan lamunan Lalak. Reflex tangannya menyenggol kaleng gula di sampingnya akibat respon dari keterjutannya.

“Eh..”

“Lak? What’s going on with you?” Buru-buru Lucie membantu Lalak membersihkan butiran-butiran gula yang berserakan itu.

“No-no.” katanya sambil menyunggikan senyum paksa.

“I know you’re not okay, so Cody does Lak.” Kata Lucie ketika mereka berada di kamar Lalak. Lalak yang saat itu tengah ngerjain project Economynya membeku. Tangannya kelu. Entah mengapa jemarinya yang sebelumnya lincah mengetikkan kata demi kata di wordnya kini tiba-tiba mati rasa. Konsep-konsep materi yang tergambar di otaknyapun tiba-tiba lenyap. Lenyap nggak berbekas cuma gara-gara Lucie berkata seperti itu. “See this..” kata Lucie sambil meminimize Microsoft word Lalak dan membuka twitter lewat flock yang udah tersign-in otomatis di komputernya. User Cody yang kala waktu itu ada di top homepagenya dibuka oleh Lucie. “I’ve guess it.” Kata Lucie lirih. Lalak hanya mendengarkan sambil tetap menatap monitornya. Setelah masuk ke profile Cody di situ Lalak bisa merasakan rindu yang amat pada cowok pirang yang masih membuatnya galau sekarang. Dibacanya tweet-tweet Cody satu per-satu. Sembari Lucie mengscroll mouse ke bawah untuk menunjukkan sesuatu. Dan ada 2 tweets di sana yang membuat pupil matanya membesar ketika membaca kata-kata yang dipublish Cody.

@CodySimpson : ‘I’m I’m I’m missing you.’

 

@CodySimpson : ‘Complicated. That was the most suitable word to call this relationship.’

“Shocked?” Tanya Lucie lirih. “What about this..” Lalak tetap bergeming di tempat, menahan hatinya yang tiba-tiba memanas dan berdetak lebih kencang ketika Lucie mengklik recent images dari profile itu.

JLEB! Guess what? Foto yang terupdate pertama yang dilihat Lalak ialah.. Peralatan dam material eksperimennya yang dipotret Cody dengan angle tepat dan membuat peralatan itu terlihat classy.

chemistry materials - cody simpson love story - its more tha love (10)
chemistry materials - cody simpson love story - its more tha love (10)

@CodySimpson : ‘Maybe this materials will be not useful again.’

And another photo… Foto yang terupdate kedua ialah.. shawl pemberian Lalak di samping bungkus berairnya yang rusak. Dan lagi, foto itu dipotret Cody dengan angle tepat dan pencahayaan yang terkesan sendu. Yeah, foto itu terkesan gelap dan sedih. Sesedih ruang hati Lalak yang melihatnya sekarang. Diperkuat dengan keterangan tweets di bawahnya..

 

@CodySimpson : ‘The unforgettable one. Sorry.’

 
“Lak, what happen?” Tanya Lucie lembut. Ia duduk di sebelah Lalak dan mengenggam tangan Lalak hangat. Sahabat Lalak yang satu ini emang tahu keadaan Lalak apapun moodnya. Lalak masih bergeming di tempatnya menatap monitornya. Pertanyaan-pertanyaan yang ia fikirkan di dapur rumahnya usai terjawab sekarang. Then, what is she worrying all about now? Entah mengapa hatinya perih. Terasa seperti tersayat silet tajam dari sisi kiri. Aneh. Ia cemburu dan Cody.. berusaha keras untuk meminta maaf padanya? Memangnya ia siapa sampai Cody harus melakukan semua itu? “Lak?” Lamunannya buyar. Ia menatap mata daun Lucie dalam. Membuatnya merasa damai akan keadaan. Lalak nggak bisa mengelak. Luka di hatinya masih terbuka karena kejadian kemarin. Suddenly, one crystal drop release from her eyes, make it teary. Then, Lucie hugs her. Such warmness that Lalak needs at all for now. And there they go. Lalak is sharing everything happen, crying her heart out and making Lucie know what’s the real condition of her.

END OF THIS CHAPTER

Advertisements

2 thoughts on “Cody Love Story – It’s More Than Love (10)

  1. Yah yah..
    Endingny kok gini thor..
    Padahal Pengen endingny lebih jelas n happy ending gitu.. Huhu.
    wlopun sedikit kecewa ma endingny tp ceritanya bagus,daebak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s