Three? Two..One.. SMILE!

Bola kecil itu berputar,

bergerak menghadapku

Manik indah itu berkilat,

menatapku sekilas

 

 

Langkah tergesaku refleks melambat

Terhipnotis akan binarnya

Lutut hiperku seakan melemah

Terkomando mataku yang membeku

 

 

Kepala lonjongmu mendongak

Menangkapku yang diburu waktu

Sorot perhatianku terbelak

Melihatmu lakukan itu

 

 

Cekung sederhana itu muncul,

Tersungging manis di bibir mungilmu

Dadaku bergemuruh seru,

Yang sontak menngalir liar di pembuluhku

 

 

kau tahu?

kenaikan sudut bibirmu membuka kotak bahagiaku

Kau sadar?

Itulah yang pertama kuterima  sejak kuperhatikanmu

 

Hari Tiga bulan Tiga di tahun kelipatan empat yang ke Tiga

Tepat di jarum panjang tunjukkan kelipatan empat yang ke Tiga

dan lengan pendek jam menyorot angka Tiga di kesamaran

Itulah hari langka pertamaku dimana kudapat senyuman indah yang kunanti dari Makhluk Adam sepertimu

 

Ya, Makhluk Adam yang tak pernah menganggapku,

enggan menyapaku, jarang sadar akan kehadiranku,

menghindariku layaknya aku terjangkiut virus

dan bahkan.. ia menyebutku ASU.

 

 

Tapi ironisnya..

Lelaki itu buatku luluh.

Hanya karena ialah yang pertama mengatakan satu kata itu.

Meskipun aku sendiri tak pernah tahu kapan ia menyampaikannya.

 

 

MANIS

 

 

Terima Kasih. Terima Kasih, teman.

Kau telah mengajarkan dan memberikanku banyak hal.

Kenangan, keriangan, kesakitan yang mungkin hanya aku yang merasa.

Tapi yang lebih penting,

karenamu, kukan coba merelakan nasib miris asmara putih-biruku.

 

 

haaai 😀 long time no see ! New Post with New Layout ! hope you like it guuuys ;D ini.. lagi curi-curi waktu nih :p mwaahahah ! so, how about that ? weird? yeah, think soo-__-
btw, there is story inside of it 😉
mind if i tell? so, i’ll tell you my story…

——————–

“Eh, ratri mana ya sama Lalak?”

“Nggak tahu, ke kamar mandi kayaknya.”

“Oh, aku juga deh. Kebelet juga nih. Ikut?”

“Ikuut!” Silvya mengangguk berjalan beriringan di sampingku menuju ruangan tersudut di lantai satu. tersudut, tersempit, terbau dan terhantu. ya, kau benar itu kamar mandi sekolahku. jam masih menunjukkan pukul 12.00 di hari jumat minggu pertama bulan Maret. kau tahu? seharusnya para lelaki sekolahku telah berkumpul di musholla guna melakukan Sholat Jumat bersama. Tapi, entah mengapa hari itu, tepatnya di jam itu mereka masih menjemur dirinya sendiri di kepanasan. mengadu fisik dengan permainan bola bundar dan membiarkan diri mereka termandikan oleh air garam hasil eksresi alaminya. Kutatap mereka sembari berjalan tergesa ke kamar mandi. Detik itu pula pertanyaan yang sama selalu muncul dalam benakku.

“Mengapa lelaki cinta matahari dan keringat?” ohyeaah, mereka lelaki. kutegaskan, lelaki. Makhluk ciptaan tuhan yang terlahir sebagai pemimpin, yang mendampingi keturunan hawa, yang lemah akan wanita, yang pandai bersilat lidah,  yang menilai wanita dari fisiknya, yang mengenakan celana di setiap harinya, yang empunya kegengsian tingkat dewa, yang jago memanja, yang kaya akan logika, yang selalu menghancurkan hati wanita dan yang terakhir… yang cinta akan matahari dan bonusnya, keringat. Oke, itu semua persepsiku. Mungkin kalian bisa beranggapan antara ‘ya’ dan ‘tidak’ di antara yang kusebut di atas. Tapi, naluri wanitaku berkata bahwa setidaknya kalian pasti akan menjawab ‘ya’ di hanmpir semua persepsiku. Oke, menurutku itu fakta. Lantas, mengapa bisa begitu? Anggaplah saja semua itu adalah rahasia ilahi. Rahasia antara Lelaki dan Tuhan kita. Itu semua bakat alami yang mereka punya di kehidupan. Oke, mungkin aku terlalu sadis. Maksudku, ‘bakat’ samar yang belum pasti mereka sadar benar mempunyainya.

Dan aku wanita. Semua wanita pasti punya lelaki pujaan, bukan? Lelaki yang setidaknya selalu mempunyai ‘bakat’ samar tersebut. Dan pada hari itu, lelakiku duduk di depan kelas 9-3 meluruskan kakinya sembari tertawa lepas melihat parodi spontan yang terjadi di sela-sela permainan. Ya, lelaki jambulku. Oh, tidak. sepertinya aku belum pantas menyebutnya dengan -ku. Memperhatikanku saja, mungkin Mr. Mbubul itu tak pernah. Apalagi mengajakku bicara dan membangun sebuah hubungan? Jadi sebut saja dengan Mr. Mbubul.

Aku belum menatap wajahnya. Tapi aku sudah tahu siapa dia. Kaki kurusnya yang terlurus ke depan dengan menggunakan sepatu hitam dengan aksen merah di tepinya-yang merupakan sepatu kesehariannya- memberi inform tersirat kepadaku. Bahwa yang sedang bersantai di sana adalah, ia. Ya, Mr. Mbubul. Entah mengapa, aku jadi salah tingkah. jarakku dengan kelas 9-3 semakin dekat. Dan aku berusaha memalingkan muka darinya dengan merapikan rokku yang tingginya ternyata naik ke atas pusar. Dengan obrolan ringanku bersama Silvya. Ya, itu akan kulakukan di saat ku gugup. Langkahku menjadi tergesa, setelah kulihat dari bawah muncul tangan kurus yang menopang tubuhnya ke belakang. Oke, aku harus menghadapinya. Harus. Dan akhirnya kuangkat kepalaku dari posisiku semula dan ku……… terkejut.

Bukan karena ada guru killer yang tiba-tiba lewat atau ada gempa tiba-tiba atau ada piring Sam pecah atau ada Pak Jas menyerbuku menagih hutang atau ada Risa yang selalu membullyku dengan pengagetan sadisnya atau mungkin bukan karena ada tai kucing yang muncul tiba-tiba di atas kepalanya *oke, ini.. jayus* Tapi malah hal yang lebih sederhana lagi. Yang mungkin selalu manusia lakukandi keseharian mereka. Yang mungkin ia telah lakukan bersama orang lain di jumlah yang tak terhingga.

Dia melihatku dan tersenyum kepadaku.

Tatapannya lurus. Bahkan aku bisa melihat bola mata bundarnya secara jelas kala waktu itu -dan kuingat sampai sekarang. Cekungan mungil di bibirnya.. Ya Tuhan. Bahkan itu pertama kalinya dia tersenyum hangat kepadaku. Meskipun tak tersnyum penuh, batinku cukup senang menatapnya lekat-lekat. Untuk sepersekian detik mataku beku. Lidahku kelu. Lututku lemas. Obrolanku kandas. dan tentunya.. Perhatianku teralihkan ke manik hitamnya. Ya, itu manik terindah yang pernah kulihat sejak ku tahu dia. That’ll be the unforgettable one for me :’)

Segera, tanpa dikomando lagi aku berjalan seperti biasa melewatinya. Melewati manik indah dan senyum hangatnya yang kala waktu itu kuterima pertama kalinya dari dia. Aku tak tahu apa ia masih terus melihat punggungku. Aku tak tahu apa matanya menangkap kebekuanku. Aku tak tahu apa batinnya bisa merasakan aura kebahagiaanku. Dan yang kutahu pasti, ia tak pernah menganggapku. Dan ya, semua itu terlihat jelas di jawaban akan pertanyaanku.

——————–

Hehe, aneh-__- cerpen terpendek yang pernah tak buat.__.v itu nggak pake editing looh.__.v apa itu bisa disebut cerpen? nggak kali ya-__- yaudahlah intinya pengen cerita tok kok :pp apalah guna judul blog “Words of Thousand Stories” kalo isinya nggak tentang cerita tertulis? HAHA ! Jadi istilahnya nggak ada salahnya aku cerita gitu yaah :p emang sapa coba yg mau nyalahin? Blog punya sendiri jugaak :p btw, cerita di atas itu yang mendasari puisi asalku! YEAH(?) bahasaku.. terlalu… lebay… yah…. haduh nggak tahu, pokoknya kalo mau comment tentang post ini ya silahkan. Saya menerima semuanya dengan tangan terbuka :’)) saya kan masih belajar 😀

dan pastinya.. dapet valuable thing doong hari itu

Enjoy every moment with everyone around you, whether that’s fun or bad moment. Just enjoy it and taking lesson from every single time you’ve spent -RAR♥

Advertisements

9 thoughts on “Three? Two..One.. SMILE!

  1. Flash Fiction ini. Wah wah wah…

    “yang lemah akan wanita, yang pandai bersilat lidah, yang menilai wanita dari
    fisiknya, yang mengenakan celana di
    setiap harinya, yang empunya
    kegengsian tingkat dewa,”

    Nggak setuju!! Hahahah

    1. ooh, aku ngga tau kak.__.v kalo drabble itu apaan kak ? O.o

      😀 emangnya kakak nggak pake celana apa setiap hari, hayoo ? :p hahah, tapi sebagian besar benar itu kak :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s