Cody Love Story – It’s More Than Love (8)

  • Nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

PART VIII

“She just need some medicine and rest for 3 days. I can make this girl wake up, if you mind.” Kata seorang dokter cowok negro di suatu kamar bernuansa biru-hijau di suatu rumah. Terlihat Alli berdiri di samping dokter itu, while Cody duduk di samping kasur holding girl’s hand with such very worried and stress face. And.. that girl is.. Lalak. She is still in her dream. With closed eyes and such a heaven face that can Cody stare every second.

“Cody, what do you think?” Alli menanyakan ke Cody. But, there is no answer. That worried and stress face is still staring at Lalak’s face. “Cody?”

“where do you prefer to do?” kata Cody sambil menatap dokter itu.

“I think it’s better if we don’t wake up her, because she looks very tire and sick..”

“then, do it.”

“Is she sick before this time?”

“Ya, she got pot-hitting on her head yesterday.”

“Oh my Godness, Cody!” kata Alli terkejut.

“I see. Look, her face.. it looks so pale. Ya, i’m right. She needs 3 dyas for rest. Just let her wake up as her want.” Alli and Cody’re nodding. “Take care, lil’ girl. Is she your..?” Tanya dokter itu sambil menepuk-nepuk rambut Lalak.

“Girlfriend? No, she is my special mates.” Kata Cody dengan senyuman lebarnya yang masih terkesan sendu.

“Special mates, Cod? Oh, i see.” Kata Alli ngece.

“Okay, i’m leaving now.”

“Thank you, Mr. Smith,” kata Cody kepada dokter itu.

“My pleasure! That’s my job, son! Oh, Alli you should buy this medicine..” Kata dokter itu memberikan secarik kertas bertuliskan resep untuk Lalak.

“Okay. Once again, thank you, Mr. Smith. You always can trusted by us.” Kata Alli mengantarkan dokter itu keluar. Tinggal Cody dan Lalak yang berada di kamar tersebut. Cody’face still worried, but not as worried as before. His face looks, a little bit happy now. But, there is one big question crossing his mind, *What this fucking game about?* For now, Cody can cooling down his head because he knows that girl he is worrying at all is beside him. Holding her hands, staring at her face.. such a joyful job for him now. Dan nggak luput, Cody mainin idungnya Lalak, matanya Lalak and pinch her cheeks softly. He can laugh a bit just doing that silly job. Then, his eyes’s catching something on Lalak’s wrist. There is lovely bracelet there. *since when has she wore it?* batinnya. *owl?* dan tanpa dikomandom otak Cody berfikir tentang Billy. Suddenly, his face becomes seriously again. He’s worrying about this girl’s future. He worries about the ‘person’ again. The ‘person’ made Lalak’s day becomes black, black and black.. He’s afraid the ‘person’ disturbs Lalak again. Making mess her days. Making Lalak’s feeling insecure. And becomes a danger for her. All of Cody wants, just her happiness. Looking her smiles everyday just made his heart becomes.. oh hell, he can’t describe how the feeling is. Ya, all of Cody wants just her happiness. Because, he knows that he ever took that from this girl. And that made him very regret and feel such having so many mistkaes to her. Tiba-tiba Cody bangkit dari tidurnya dan mendekati Lalak. Ia membisikkan sesuatu kepadanya.

“I promise, I’ll protect you and always there whenever you need me. All of the thing you must know that, I’ll always be there for you and.. I hope i can always beside you.”

—SKIP—

“Cody?” Panggil Alli membuka pintu kamar Masnya. Now, it’s Sunday. And Lalak haven’t wake up yet. Alli melihat Cody tengah twitteran di samping tempat tidurnya dimana Lalak terbaring saat ini. Melalui kacamatanya, Cody menengok dan melihat Alli. D mulutnya masih terlihat sedikit memar dan pipinya masih terlihat membiru.

“Hm?”

“Kylie’s outside. Do you hang out with her today?” Cody mengangguk.

“Okay. Just.. order her to leaving now.” Katanya sekenanya lalu kembali mengutak-atik twitternya.

“Cody, you can’t be like this. Let me take care of Lalak. That’s my fault too.”

“Hm..” Lalu Alli masuk ke kamarnya dan dengan cepat menjauhkan laptop Cody dari tangannya. “Hey!”

“Cody, promise is promise. Udah, kamu hangout aja. Pasti bentar lagi Lalak bangun kok.”

*But, i wanna be the one who she see firstly when wake up* batin Cody. Akhirnya mau nggak mau Cody mengangguk. “Okay-okay. Now, get out from here and order Kylie to waiting me, please.” Lalu Alli menutup laptop Cody dan berjalan keluar tanpa menutup pintu Cody sepenuhnya.

“That’s right! Hurry up Cody!” Lalu Alli keluar dan menutup pintu, meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Dengan langkah lemas Cody berganti kaos pergi, mengenakan jaket, parfum, kalung, kacamata dan bercermin sebentar di sana. Setelahnya, ia melangkahkan kakinya ke samping tempat tidur. Ia melihat Lalak sekarang. Lalu, tangannya mengelus rambut Lalak. Tiba-tiba.. tanpa Cody sadari ia mendaratkan mulutnya di kening Lalak dengan lembut. *Hell, what am i doing?!* Katanya dalam hati. But, he enjoys that. He likes that moment. Mata Lalak masih terpejam. And now, it’s time for him to leaving. Dengan hati-hati Cody berjalan keluar, membuka dan menutup pintu secara hati-hati supaya cewek yang ia khawatirkan sedari kemarin nggak bangun dari tidur lelapnya.

*You know? My heart was soo hurt when you do that. You even didn’t do like that to me when we are together.* batin seorang cewek yang sedari tadi berdiri di samping pintu kamar Cody mengintip apa yang Cody lakukan ke Lalak dengan rasa penasaran tinggi. Buru-buru ia masuk ke kamar mandi di sebelah kamar Cody ketika cowok pirang itu berjalan keluar.

—SKIP—

“I promise, I’ll protect you and always there whenever you need me. All of the thing you must know that, I’ll always be there for you and.. I hope i can always beside you.”

Perlahan-lahan cewek itu membuka matanya. The first thing she sees is pure blue wall. These words, seems like there is someone whispering to her like that. A guy voice. But.. who? Cewek itu mencoba kembali mengingat. Di keningnya terdapat hansaplast dan kepalanya masih terasa cenat-cenut.

“Dimana aku?” batinnya dalam hati. Ia memutarkan bola matanya ke seluruh penjuru ruangan. Terlihat ada meja belajar yang di atasnya terdapat kertas-kertas berserakan, rak buku-foto yang nggak begitu tersusun rapi, poster Michael Jackson-Bruno Mars, keranjang baju kotor yang menumpuk, jendela besar yang terbuka-membuat gordennya berayun ke sana- kemari mengikuti angin. Di sampingnya, ia melihat gitar, ukulele, cermin setinggi tubuh orang dewasa, sebuah pintu kayu dan sofa kacau yang terlihat seperti habis ditiduri seseorang, karena di situ ada bantal dan selimut yang nggak dibersihin. Kamar itu bernuansa biru, dan terasa nyaman banget meskipun barang-barangnya terlihat nggak begitu rapi. Seems like this is guy room. Cewek itu masih bingung dimana ia sekarang. Matanya yang belum berakomodasi secara sempurna belum bisa melihat siapa orang yang ada di foto di rak. Apabila ia bisa, mungkin ia tahu siapa empunya kamar ini. Tiba-tiba ada suara decitan pintu. Lalu, kepala seseorang dengan rambut pirang lurus panjangnya mencuat dari balik pintu. Oh yeah, that’s Alli.

“Lalak? You have awoke? I’m glad!” cewek yang ternyata Lalak itu bingung, kenapa tiba-tiba dia bisa ketemu sama Alli. Buru-buru Alli duduk di kursi meja belajar dan mendekatkannya ke Lalak. Lalak mencoba mengingat kejadian kemarin.. tapi, seems like her brain get little bit damage now.

“Alli? What happen to me? Where am I?” Lalak mencoba duduk, tapi kepalanya masih terasa sakit. Terdengar sedikit rintihan dari mulut mungilnya. Alli membantunya.

“Lemme help, you. Do your head still get pain, Lak?” Lalak mengangguk. “Better if you drink this medicine..” Kata Alli sambil menyodorkan beberapa pil dan segelas air putih. Tanpa banyak tanya, Lalak meminumnya.

“Thanks,” katanya.

“Anytime, sweetie. You feel better now?” Lalak mengangguk.

“Ya, why can I be here? This isn’t your room right?”

“You forget? Yesterday.. you almost kidnapped. Don’t you remember?” Tanya Alli. Lalak mengangguk ragu. “I’m sorry, I didn’t protect you, I’m very regret about it!” Katanya sambil menyentuh tangan kanan Lalak. “…but luckily, Cody saved you. And.. he’s so worried about you. He’s so.. gentle when fight with the ‘person.’ I’m so proud of my brother!”

“Cody.. saved me..?” Lalak bertanya ragu. Dia udah ingat semua yang terjadi kemarin. Alli mengangguk mantap.

“Because we’re confuse to where we bring you at that time, finally we placed you here. I’ve already told your aunt by your mobile. Is that okay? Maap aku lancang.” Lalak mengangguk.

“That shoud be me to thank to you and Cody, Alli..”

“Anyway, this is Cody’s room.”

“What?! Cody’s?” Alli mengangguk mantap.

“Ya, I’ve suggested to placed you at mine, but Cody denies it because he thinks that what happened yesterday is his fault..”

“Cody always like that..” Lalak menanggapi. “Maap ngerepotin Al. I always ngerepotin your brotha. Then.. where does cody sleep?”

“That sofa. Look! His room was soooo mess! Mine is cleanly than him :p” Lalak mengangguk setuju.

“Why doesn’t he sleep at yours? Seems like more comfortable there..”

“It’s because.. hey, you haven’t eaten anything yet, have you?” Lalak menggeleng. “Let’s we eat now! I’m soo hungry!” dengan hati-hati Lalak mencoba berdiri dibantu oleh Alli. Alli bener-bener baik. Dia nggak ngeluh sama sekali ngebantu Lalak. “My mother has cooked france spaghetti to us, Lak! I bet, you wanna to.. ”

“Your mother here?” Alli mengangguk bingung. “Your father?” Alli menggeleng.

“Why do you surprise like that? O.o”

“Hey, I’m shame to see your mother-__- udah ganggu tidurnya Cody, make kamarnya, nggak ngomong-ngomong, masa sekarang aku langsung makan gitu?” Mereka mulai menuruni tangga.

“Stay cool, Laak-__- my mother knows anything happen. Because of thaaat, she cooks for us and gives a little speech to Cody~”

“Poor Cody, I don’t mean that. Yaampun, aku ngerepotin Cody bangeet-__-”

“It’s okay. That’s very usual, right? We’re naughty, our parents mad, they give speech, then? We’re back to naughty again :p”

“But, Cody isn’t naughty…”

“Ya, you’re right. Dia meletakkan semua kesalahan kepada dirinya sendiri. Aku juga jadi nggak enak sama my own brothaa.”

“Seems like I’ve to forgive to him many times-__- btw, where is he?”

“Cody? Oh.. he hangouts with.. Kylie.” Kata Alli dengan nada suara yang berbeda dari tadi.

“Oh..” Lalak speechless. Pantes tuh anak nggak keliatan batang hidungnya. Mereka udah di lantai 1 rumah Cody sekarang. Tiba-tiba ada seorang anak kecil cowok yang memeluk kaki Lalak.

“ghegeheghegheeee” gumam si anak tersebut. Mukanya lucu sekaleeek!

“Tom! Say hi to Lalak!” Kata Alli jongkok sambil mengelus adeknya. “Lalak, this is Tom my cute lil brother! Haha!”
*picture in the right ais Tom and her mother, mummy Angie :D*

“Hi Lalaaaa,” katanya tersenyum manis. Lalu ia langsung kabuur~

“Cuteee! How lucky you are! Havin 2 brothers!”

“You don’t have any?” Lalak menggeleng. “Yaa, but sometimes they’re so annoying to me-__- especially Cody. But he always make me laugh until my stomach get pain! Apalagi kalo ada Jake ke rumah! They both becomes like a professional homey comedian!”

“Ahaha! Ya, I agree!”

“Lalak! That’s my mother! Mom, this is Lalak♥” Di depan mereka berdua, berdiri seorang ibu dengan celemek dan mukanya mirip Cody. Ya, that’s Cody’s mom.

“Oh, hi Lalak! I’m Angie. Wait a sec, kids. I’ve to finish the cream!” Katanya ramah.

“Okay mom!” Lalu Alli dan Lalak duduk di meja makan bergaya klasik.

“Is that okay? Aku berasa ngerepotin berlipat-lipat deh Al-__-” bisik Lalak ke Alli.

“Mommy, Lalak selalu berasa merepotkan di sini deeh. AWW!” Lalak menginjak kaki Alli. Yaampun, dia nggak tahu mukanya dimana sekaraang :p

“Anggep rumah sendiri aja. Tante tahu kok, pasti kamu berasa canggung. But, take it easy 😉 this is the spaghetti!!” Kata Mama Cody sambil menyajikan spaghetti cheese cream di atas piring putih bundar. Well, that’s looked freakin delicious. Then, she wears off her apron and sit in front of they both.

“Maap sekali lagi yah tantee, Lalak ngerepotin terus.”

“Harusnya tante yang minta maaf. Gara-gara kejadian kemarin. Cody emang lalai at that time…”

“Me too!” Kata Alli motong perkataan mamanya sambil melahap spagehttinya. Sedangkan Lalak belum nyentuh sama sekali.__.

“Ya, Alli too. Anggaplah spaghetti ini jadi permintaan maafku O:) ayo dimakan!” Katanya lembut. Lalu Lalak mulai mecoba spaghetti itu.

“How can I reply this, Mrs. Simpson? This spaghetti was so delicious!”

“Yo don’t need. I like to seeing kids eat my cooked gustonously! Anyway, do you like French food? Because Cody was so freakin addicted with it. And it makes our family addict to!”

“Euum, I like but, I don’t like it too much. But this spaghetti make me falling in love with French food!”

“Haha! Alli pun dulu begituu!” Kata Mak Angie sambil ngelirik anaknya ngejilat sisa cream di sendok. Kayak anak kecil :p

“Mommy, may I have one plate again? ;))”

“No way. Yoo’ve to diet!”

“Pleasee?”

“No way!”

“But, I heard that Louis Vuitton released their new brand and offer them to me. Shoul I accept it or..?”

“You can’t lied to me again, sweetie.”

“Mommy-___-”

—SKIP—

“Which one? :))” Tanya Alli sambil memperlihatkan dua dress yang ia pilih. Satunya berwarna putih selutut tanpa lengan, bertaburan bunga putih senada serta berenda di bagian atasnya. Sedangkan satunya, berwarna hitam selutut, berlengan pendek, serta berkancing dari atas hingga bawahnya. It famous to call it LBD/Little Black Dress.

“I like the black!” Kata Lalak bersemangat. Alli dan Lalak sekarang berada di sebuah butik ternama langganan Alli. Yah, sebelum mengantarkannya pulang, Alli meminta Lalak untuk menemaninya shopping. And there they are. Picking some clothes to pay them to chasier and bring them to home. Sebenernya, yang beli cuma Alli aja sih. Ketika Alli sibuk mencari-cari baju di seluruh rak di toko itu, mata Lalak menangkap satu syal biru langit polos yang bagian bawahnya di model serabut. Lalu, Lalak melangkahkan kakinya mendekat ke syal itu. Ia menyentuhnya. Soft. Then, she takes it and look it thoroughly.

“Lak?”

“Yea?”

“You.. Want to buy it?” Lalak mengangguk. “For..?” Lalak nggak menjawab pertanyaan Alli. Dia hanya tersenyum. Manis sekali.

—SKIP—

“where is he?” Kata Alli di dalam mobil. Sekarang Lalak dan Alli tengah mencari parkiran mobil di sekitar jalan raya dekat stasiun kereta api bawah tanah. Setelah makan tadi, Lalak meminta Alli untuk mengantarnya pulang. Nggak enak kan, sakit tapi kok di rumahnya orang-__- tapi sebelumnya, Lalak minta Alli buat nganterin dia ke tempat Cody berada. Cause, she wants to thank to him. The one who saved her life.

“Are you sure he is here?” Tanya Lalak. Alli mengangguk.

“Obviously. They just arrived from NY by using train. Why does rain appear suddenly in this afternoon-__-”ya, tetesan hujan sekarang turun di tanah LA. Belum deras siih. Tapi itu udah membuat setiap orang yang jalan kaki mengelurkan payung mereka.

“I get them!” Kata Lalak setelah menangkap sesosok cowok pirang berkacamata yang keluar dari tangga bawah tanah. Di belakangnya, cewek yang sepertinya Kylie itu mengikuti Cody. Buru-buru Lalak keluar dari mobil, membawa kemasan coklat tanah bertancapkan pita biru tua di samping bagian kanannya.

“Lak! It’s raining! You’re still sick!” teriak Alli dari mobil. Lalak hanya meng-signal-kan OK dari tangannya. Ia menyebrang jalan raya untuk mencapai mereka. She doesn’t know why, suddenly her hearts just like get DEGDEGDEGDEGJLEBJLEBJLEEB. Kerumunan orang yang keluar dari stasiun, memperlambat jalan Lalak. Udah badan Lalak kecil, dibanding orang amerika badan orang Asia terbilang pendek kan? Sayup-sayup Lalak melihat Kylie.. memeluk Cody. Detik oitu juga, Lalak berhenti menerobos kerumunan orang tersebut. Ia berdiri mematung di antara berpuluh-puluh orang berlalu lalang di sekitarnya. Matanya menatap mereka berdua. Nggak sedetik-pun mata Lalak beralih dari Cody dan Kylie.

After that.. He hugs her back and strokes her hair gently. That hug just like in slow motion. It feels so long and mean. Then, Cody take off his hug, but.. Kylie denies it. She even hugs Cody tightly than before. And Cody hugs her back. Then, Kylie takes off her hug and she takes something from her bag.. It’s shawl. Cute blue shawl. Terlihat Cody seperti mengatakan sesuatu. Lalu Kylie tersenyum dan mengatakan sesuatau juga padanya. Jarak anatra Lalak dan mereka membuat ia nggak terlalu b isa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Lalu,tanpa disuruh Cody Kylie melingkarkan syal itu ke lehernya. Ia memperlakukan Cody.. just like her boyfriend. Everyone who sees them absoloutely thinks that they’re dating. Setelah itu, Cody berusaha untuk melepaskannya. Tapi tangannya di tahan oleh Kylie. Kemudian mata mereka beradu. Kylie menatap Cody dalam. Without saying word, Kylie kisses Cody’s cheek. That kiss was.. long enough and mean(again.) And, it looks like Cody enjoys that moment.

BUUK

“Sorry” kata seseorang yang nggak sengaja menabrak Lalak. Kemasan coklat manis yang sedari tadi tergantung di tangannya lepas. Saking seriusnya Lalak memperhatikan mereka berdua, ia udah nggak peduli lagi sama orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Ia pun juga udah nggak peduli sama hujan yang sekarang mulai menambahkan jumlah tetesannya ke tempatnya berpijak. Beradu dengan geguguran daun yang jatuh dari pohon-pohon di jalan itu.

Tiba-tiba.. butiran air keluar dari kelopak mata Lalak. Hatinya terasa pilu melihat apa yang ia lihat. That’s very hurting her heart. She doesn’t even know since when her heart gets this kind of ‘hurt.’ Nggak kuat melihat itu lebih jauh lagi, Lalak memutuskan untuk pergi dari sana. Ia mengambil kemasan coklat yang terjatuh tadi degan cepat, dan berbalik melihat mereka untuk terakhir kalinya. Hell, looks like Kylie will kiss him. Again, that tears.. go down perfectly from her eyes. Dengan langkah tergesa, Lalak berlari dari sana. Kerumunan orang terlihat nggak menurun jumlahnya, tapi ia punya tekat  untuk bener-bener bisa lari dari sana. Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, Lalak menerobos orang-orang tersebut dan menyebrang jalan untuk meminta Alli pulang meninggalkan dirinya. Dalam keadaan seperti ini, adik Cody bukanlah orang yang tepat baginya untuk berbagi cerita.

“Lalak? Hurry! Get in the car! It’s still raining!” perintah Alli ketika melihat menurunkan kacanya. Muka Alli terlihat kaget dan khawatir. Bagaimana nggak? Hidung Lalak yang merah dan matanya yang masih terlihat berair tells all to Alli. She knows that, Lalak’s heart get breaked. Seems like she sees all everything happens.

“Eum, my aunt’s calling me and she’ll pick me up around here. So.. you can go ahead. Thank you for everything you’ve done for me today and yesterday, Alli! Bye-bye!” Kata Lalak dengan suara parau dan senyum yang dipaksakan. Tanpa menunggu respon Alli, Lalak meninggalkannya. Ia berlari kecil menerobos kerumunan orang. But doesn’t have destination. All she can do just walk-run-runaway from there. Yea, now everything seems so clear. They are.. dating again. That’s all what Lalak thinks.

“But.. Lalak!” Alli tahu, Lalak berbohong. Ia tahu kalau Lalak nggak mau menampakkan kesedihan di depannya. Dan ia tahu, Lalak pasti akan menangis setelah ini. Alli bingung. Dia nggak tahu mau ngapain sekarang. Sedangkan di luar, hujan masih mengguyur. Ia tahu, mengejar Lalak nggak menyelesaikan masalah. Malah, mungkin Lalak tambah bingung. Sementara Lalak semakin menjauh dari mobilnya, Alli dengan cepat mencari satu kontak di I-Phone-nya dan memencet dial-up. Nggak berapa lama, Cody yang ada di seberang jalan mengangkat BB-nya.

“Cody?!? What the hell are you doing?! Should you DO THAT in front of publics? Don’t you know tha she looks everything?!? She looked everything Cody! Every thing!!” Kata Alli dengan nada membentak.

“Alli, what do you mean? Wha-..?” dengan cepat mata Cody menangkap seseoarng yang ia kenal. Berlari kecil menjauh dari tempatnya berpijak. Rambut keriting dan tingginya yang beda daripada yang lain membuat mata Cody dengan mudah menangkapnya. DEG! Sejenak, jantung Cody merasakan suatu debaran yang nggak biasa. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa panas melihat cewek itu semakin menjauh dari sana.

“CRAP! LALAK!” secepat kilat Cody berlari meninggalkan Kylie, menerobos kerumunan orang dan nggak menghiraukan hujan yang turun semakin deras. Teriakan Kylie pun nggak dipedulikannya. Mobil Alli hanya dilewatinya saja. Tanpa menoleh sedikitpun, Cody mencari sosok Lalak. Jujur, ia merasa bersalah. Entah mengapa ia bisa merasakan itu. Nggak berapa lama, matanya menangkap seorang cewek tadi yang berbelok ke arah kanan di ujung jalan tempatnya berlari. Cody bisa melihat, cewek itu sedang berusaha menghapus air mata di pipinya dengan jalan tergesa. Tanpa fikir panjang, Cody menambah kecepatannya berlari meraih cewek itu. Cukup jauh jarak yang harus ditempuhnya. Tapi hatinya makin gelisah ketika nggak melihat cewek itu.

DEGDEGDEG

Debaran itu, semakin kuat dirasa oleh Cody. Bahkan, hatinya bertambah panas dan pilu melihat apa yang ada di depannya. It’s Billy Unger, his friend. Hugging that girl under the umbrella that he’s holding. Terlihat seorang cewek yang dikenalnya menangis sesenggukan di pelukannya dengan tangan yang bergetar mencengkram coat belakang Billy. Tiba-tiba, ada angin yang menerpa mereka. Melepaskan payung dari genggaman Billy. Tapi, Billy tetap diam di tempatnya, dan malah mempererat pelukannya ke cewek itu. Yea, they’re hugging under heavy rain. Seems like he wants that girl to shares his sadness to him. Di samping mereka, Cody bisa melihat ada kemasan coklat tergeletak dengan pita biru di kanannya. Cukup lama pelukan itu berlangsung, sampai akhirnya cewek itu melepas pelukannya. Terlihat muka basahnya yang kacau terguyur air hujan. Dia nggak menatap Billy. Hidungnya merah dan mukanya pucat. Tapi, tangisannya udah berhenti. Cody yang sedari tadi mematung di tempatnya melihat itu semua hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Let cloud tears make him wet. Knowing that the girl gets hurt because of him, moreover there is other guy calming down her just make his heart hurt and feeling like he’s having such very big guilty to her. Ingin rasanya, Cody memeluk cewek itu, menenangkannya, menghangatkannya tapi apa daya. Seorang cowok udah ngambil semua itu darinya sekarang.

Billy menatap muka cewek itu. Tersirat kehawatiran yang sangat dari mukanya. Ia seperti mengucapkan sesuatu padanya. Lalak hanya mengangguk, menatap mata Billy sebentar, mengatakan sesuatu, smiling then her eyes close and she losts her conscinous. Dengan sigap, Billy menangkap cewek itu dan memapahnya ke dalam mobilnya yang terparkir nggak jauh dari sana. Sepeninggal mereka, Cody mendekati tempat mereka tadi berpijak dan mengambil kemasan coklat itu. Ia masih berdiri di sana. Memperhatikan mobil Billy dimana ada seorang cewek yang ia khawatirkan sekarang di sana melaju kencang di depannya sampai mobil itu berbelok dan hilang dalam pandangannya. Dan ia, masih mematung berdiri. Meratapi semua hal yang baru aja terjadi. Meratapi something unexpected. And still, he’s there under the heavy rain.

“I’m sorry..” katanya lirih.

—SKIP—

“Kau bangun?” kata tante Lalak di kamarnya.

“Tan? Kok..?” ia mencoba untuk duduk, dan kepalanya terasa sakit lagi.

“Minum dulu tehnya Lak.” Kata Tantenya lembut sambil memberikannya secangkir the hangat. Lalak menyruputnya sedikit. “Kamu sakit kok nggak ngomong ke tante sih? Ini kan jadinya. Jangan terlalu memforsir sekolah atau kerjaan sambilanmu, Lak. Fikirkan kesehatanmu juga. Itu kenapa kok ada plester di dahimu?”

“Iya tante, maaf.. ini.. kebentur meja pas di sekolah, Tan. Udah lama kok.” Katanya berbohong. Ia nggak mau membuat tantenya khawatir lebih jauh lagi.

“Yaudah, diminum obatnya. Tadi itu.. pacar kamu?”

“Pacar..?” secepat kilat otak Lalak bekerja mengingat apa yang ia lakukan sebelum tidur di kasur empuknya ini. Ya, Billy, Cody, Alli, tante Angie, Kylie dan tragedy kemarin. Lalu ia teringat syal Cody. Dimana syal itu sekarang?

“Iya, itu pacar kamu? Tante kayak pernah lihat.. dia artis?”

“Bukan pacar kok, Tan. Dia.. Cuma..”

“Temen special?” kata tantenya sambil mengdipkan salah satu matanya. Teman special? Sejenak, fikiran Lalak melayang ke Cody.

“Nggak tante, cuma temen deket kok..” kata Lalak sambil minum obat.

“Oh gitu. Tadi tante kaget lho dia basah kuyup begitu di depan pintu terus tiba-tiba mapah kamu dari mobilnya terus ngebaringin kamu di sini. Dia cowok baik ya?”

“Iya Tan.. Tadi.. Aku tadi pingsan ya.__.”

“Iya, jangan ngelakuin itu lagi yah Lalak. Ngerepotin orang.” Lalak mengangguk. “Ohiya, tante udah ngelaundry-in baju-baju kamu. Terus, perasaan tante lihat ada pakaian cowok sama jaket cowok. Itu punya temen kamu?”

“Iya tante, pas itu dia ngiup di sini sebentar, pas tante lagi kerja. Yaudah aku suruh dia mandi di sini. Baju Cody itu.”

“Cody? Cody Simpson?” muka tante Lalak berubah. Lalak mengangguk. Seem there’s something different with this.

“Kenapa emang tante?”

“…Kamu hati-hati aja yah nduk. Sekolah yang bener. Banggain mamamu… itu bajunya tante taruh di meja kamu ya.” Kata Tantenya seraya keluar dari kamar Lalak. “Ohya, tante udah minta izin 3 hari buat kamu. Biar kamu bener-bener fit.” Kata tantenya sebelum menutup pintu kamar Lalak.

“Means that I’ll be home in this 3 days? How bored-__- huuuh” Kata Lalak ngerasani.

*Hati-hati? Kenapa tiba-tiba..?* batinnya dalam hati.

“Hell! Where is that shawl?!” katanya menepuk dahinya. Tapi Lalak Cuma bisa ngelihat sekeliling kamarnya. And nothing special there. “Tadi, pas aku meluk Billy..” lalu ingatannya kembali pada waktu tadi. When she cries her her out to Billy and he just let her did that, don’t care abouth the people or heavy rain. And that makes she’s comfortable and stops her cry. Then.. she got unconscinous. Ohya! That shawl, falls down from her hand when she hugged him. That memories.. just make her heart get hurt again. And that, makes her thinks about Cody. Hell, now she’s totally falling in love with him. She’ totally realizes now. God! Ia merasa berslah udah njadiin Billy sebagai pelampiasannya.

*Shawl, oh shawl.. Mungkin itu emang nggak pantes buat aku kasih ke Cody.. Cody.. Cody.. Now, there’s Billy, opens her feelings to me. But, why am I still thinking of you, Cod? Billy, I’m sorry..*

It’s 08.00 pm now. Karena ia belum mengucapkan apa-apa ke Billy, Lalak punya inisiatif buat nelpon dia. Ya, dia mau ngucapin terima kasihnya, minta maafnya.. mugkin kalau nggak ada Billy dia masih di jalan diterpa hujan angin.

“Hal-Hallo?” Billy menjawab. Suaranya terdengar sumbang. Seperti suara orang bangun tidur.

“Billy? Are you sleeping now?”

“Lalak? Oh, yeah. I’m sleeping just now.” Suara Billy langsung terdengar bersemangat.

“Waaa, sorry for disturbing your sleep :(”

“Nevermind. Do you feel better?”

“Yeah, but my head still get pain-__-”

“Great to hear that :p”

“Great? Ohyeah, thanks for it :p hey you sleep very early, don’t you?”

“Yea, kayanya aku masuk angin niih-___-”

“Masuk angin? Oh God! I’m very sorry Billy 😦 I don’t know why, but I think I always made you bothered :(”

“No, it’s okay if the person is you..” katanya dengan volume lebih kecil dari sebelumnya. Lalak speechless.

“Mmm, thank you for your help today Billy. I don’t know how my life if there is no you there..”

“I’ve said that I’ll always beside you, right?”

“Yeaaa…. And I’m sorry. Aku nggak bermaksud jadiin kamu..”

“Kamu besok masuk?” Tiba-tiba Billy memotong omongan Lalak.

“Ngg.. nggak. Aku izin 3 hari. Why?”

“3 days? I’ll bet you’ll get bored 3 hari ke depan :p”

“Yeaa, sounds like that-__-”

“are you still thinking of him?”

“Hmm, yeah..”

“How about if tomorrow I’ll pick you at 2 pm?”

“For what?”

“Dunno. Buying something? I need someone to accompany me buying woman things.”

“Your sister’s birthday?”

“Yeaah. Mind to?”

“I’d loved it! Can’t wait for tomorrow!”

“Ya, but kamu harus rajin minum obat, jangan sering telat makan :p”

“Sip!” *tut-tut* “Bil, kamu ngga tidur lagi? Ini kayanya ada yang telpon aku. Udahan yah, makasih buat hari ini.”

“Okay, sleep well owl :p”

“sleep well too, have a nice dream :)” Lalu Lalak memutus sambungan. Dan betapa terkejutnya ia melihat siapa orang selanjutnya yang menelponnya.

DEG!

That’s Cody. Cody Simpson who phones her. Lalak bergeming. Dia masih belum siap ngomong sama Cody. Mendadak hatinya yang tadi udah happy sama Billy jadi kacau lagi. Sampai nada deringnya yaitu Don’t Cry Your Heart Out- berhenti, Lalak tetap bergeming. And yeah, she is totally simpsonizer right now. Nggak berapa lama, ada sms masuk ke BB-nya.

DEG!

And that’s from Cody Simpson.

‘We need to talk. Sorry.’

That simple sentences.. making her heart get messed again. And making one little grain of her tear releases from her eyes.

*Oh, Cody.. can’t you stop doing this kind of stuff to me where I won’t ever purely get your warmness? Your attention? Your love?*

END OF THIS CHAPTER

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s