Cody Love Story – It’s More Than Love (2)

  • nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

PART II

Pagi itu Lalak bangun cepet. Dia nggak mau kena hokum sama Ma’am Lony, guru French-nya. Tapi, meskipun Lalak bangun cepet tetep aja dia nyaris telat. Sesampainya ia di kelas, Lalak duduk paling pojok belakang. Dia masih asyik chat-chat an sama Billy. Tiba-tiba Cody datang. Duduk di sampingnya, tapi Lalak nggak notice kehadirannyah.

“Woooy!”

“Oh, hi Cod.” Lalak melihat Cody bentar, lalu sibuk sendiri sama BB-nya. Cody memperhatikan gerak-gerik Lalak. Lalak bingung jugak sih, kenapa kok Cody mau-maunya ituloh duduk sama Lalak. Pagi ini, Cody lebih dingin. Dia nggak menggubris apa yang ia lakukan kemareen.

“Cod..” Cody melihatnya. “Thanks for making me be a true simpsonizer yaa! ELEK Luuh!”

“Why do you always said ELEK? What the kind word of ELEK is, huh?”Kata Cody mangkel. Obrolan mereka terhenti ketika Ma’am Lony memasuki kelaass.

—–SKIP—–

“We go to your house with.. it?” Tanya Lalak. Dia bingung aja, mengapa superstar segede Cody masih maumaunya pake sepedaah. Di fikirannya Lalak ituu gini :

GIMANA KALO NANTI AKU JATOH?

GIMANA KALO NANTI CODY NINGGAL AKU?

GIMANA KALO NANTI CODY MAU NGAPANGAPAIN AKU?

GIMANA KALO NANTI CODY NJATOHIN AKU?

GIMANA KALO NANTI DIKIRA AKU CEWEK GATEL?

GIMANA KALO NANTI ADA PAPARAZZI?

GIMANA KALO NANTI ROKKU ROBEEEEEK? HAAAAH ! GIMANA NTAAAAR COOOOD! ANCENE IWAK COD! #looh

“Absoloutely-laah! Just sit here.”

“Hey Cod!” Kata Jake bareng gangnyaah.

“Where do you go now?” kata Cambo.

“I think they have a special dating♥” Kata Jake.

“Shut up your mouth!” kata Cody ngamok, dia lagi bener-bener BM nih sekarang, entah mengapa.

“This Laak, spend it for 2 days, ya!” KataBilly ke Lalak. Cody keliatan cuek banget pas mereka berdua ngomong.

“Are you crazy? I have so many things to do this weekend!” kata Lalak membuka suaranya unmtuk pertama kalinya di depan Cambo sama Jake.

“Haha, just take it.”

“Ehem, let’s go Lak!” muka Cody udah agak maseeem tuuh♥ Lalak duduk perempuan dan mereka meninggalkan Billy and the gang(?) sepanjang perjalanan, itu kejebak halangan terus. Lalak cerewet pwoool peek, sampe-sampe karena Cody sebegitu buruburunya lalak hampir nggeblak!

“STOP COOOD!” Lalak memberhentikan perjalanan mereka.

“Can you just close your mouth?” Lalak turun, memebenarkan roknya dan duduk mekangkang. Karena menurutnya ini yang terbaik biar jalan mereka lebih cepet.

“Now, I’m ready” “Wuuuaaa!” Lalak hampir jatuh lagi. Soalnya Cody maju ndadak siih.

“Huuuh, just hold on to me.” Kata Cody sambil meraih tangan Lalak dan meletakkannya melingkar ke pinggangnya. Lalak yang nggak tahu Cody bakal bersikap seperti itu tiba-tiba gugup. “Okaaay, we’re ready for a crazy adventure!”

Selama perjalanan Lalak Cuma diem ajaah. Dia bingung mau ngomong apaah. Cody bener-bener cepet banget deeeh. Sampe Lalak kudu agak teriak sedikit sambil mengencangkan sabuk-nyaa. Tapi entah mengapa, Lalak merasa cuma dirinya aja adeh yg bahagiaah. Tiba-tiba Lalak melihat sesuatuuh.

“Cod, bisa lewat jalan yang nggak terlalu rame nggak?”

“Why?”

“I think there are paparazzies around us.”

“Just let them go. I’m just bored woth their attend.” Dan akhirnya mereka nyampe ke rumah Cody. Rumah Cody bercat coklat dan desainnya minimalis. Rumahnya gede booo.

“welcome to my house!” Mereka masuk ke rumah Cody dan melihat Alli ada di sana. Entah mengapa Lalak merasa aneh dengan Alli. Karena Alli melihat Lalak dari atas ke bawah. Tiba-tiba Alli memanggil Cody. Mereka berbisik-bisik. Tapi Lalak bisa sedikit mendengar Cody bicara seperti ini..

“She’s not TOTALLY HER!”

Setelah mereka berbisik agak lama, Alli menyambut Lalak masuk ke rumah.

“Hi. I’m Lalak” katanya tersenyum sopan.

“Just don’t be so formaaal! I’m Alli. Let’s go inside!”

Di dalam rumah Cody, Lalak agak terpanaah. Karena desainnya bener-bener asik bangeeet. Terlihat Cody lagi melepas sepatunya. Tiba-tiba, orang yg tidak dikenal Lalak keluar dari salah satu pintu bersama ayah Cody. Dia terlihat kaget saat melihat Lalak. Lalak akhirnya awkward sendiri.

“Hey, Matt! Hey Dad! It’s Lalak my friend” sapa Cody ke cowok itu dan ke bapaknyah. Ya cowok itu adalah manager Cody, Matt Graham. Lalak tersenyum sopan kepada mereka semuah.

“Cody, can we talk a bit?”

“Euum, while Cody is talking with his mates, may I invite you to my room?” Kata Alli bersemangat. Lalak seneng banget deh hari ini. Dia punya temen baru yang kayaknya bener-bener tahu gimana dirinya.

—–SKIP—–

Alli itu temen baik. Ya, itu anggapan Lalak. Bukannya ngerjain project, sekarang Lalak malah gila-gilaan sama Alli. Webcaman laah, main uno laah, main angrybirds laah dan banyak yang lainnya! Padahal belum sampai sehari mereka bertemu #sejam aja belum:p#

“Cody mana ya?” Tanya Lalak dalam hati. Dan kayaknya Alli tau apa yang difikirkan Lalak.

“Where’s Cody? Aku tak nyarik Cody dulu yah. Gile itu abang akuh, curhat lama banget.” Ketika berkata seperti itu, Alli lagi di depan laptopnya dan Lalak menghadap ke pintu sambil melihat foto-foto Alli sama Cody. Lalak suka aja ngelihatnya. Soalnya dia kanngga punya saudara, jadi berasa iri gituuh.

CKLEK. DUUK.

“Aw!” Lalak reflex menjauh dari pintu sambil memegangi keningnya. Ya dia kejedut. Sangat terkejut bahkan.

“Oh! Sorry!” seru Cody panik. Cody tadi mbukanya aga kenceng sih, kayak marah gitu.

“Lalak! Are you alright?” Lalak mengangguk sambil tetap memegang keningnya dan merasa pusing.

“Lem’me see it,” kata Cody sambil melepaskan tangan Lalak dari keningnya. Kemudian Cody memegang tangan tersebut dan melihat kening Lalak yang merah. Tangan Cody yang besar dan hangat membuat Lalak ngerasa nyaman deh. Muka mereka sekarang sudah berjarak cuma 3 cm, dan hati Lalak berdebar sangat kencang karena ia tak sengaja melihat mata biru Cody.

“It’s okay, cuma merah doang kok,” katanya sambil mengusap-ngusap rambut Lalak. Reflex, Lalak melepaskan tangannya dari Cody. Alli yang melihat kejadian tersebut hanya tersenyum-senyum sambil tertawa kecil. Lalak salting.

“Yaudah Cod, ayuk ngerjain kimianya!” Kata Lalak dengan senyum dipaksakan. Muka Cody kelihatan bingung, beda dengan pagi tadi. Akhirnya mereka mengerjakan project di kamar Alli. Meskipun begitu, Alli-lah yang lebih banyak omong. Sedangkan Cody banyakan ngelamun, seperti ada yang sedang difikirkan cowok itu. Hari ini mereka cuma ngisi lembar exercise sambil merancang kapan untuk membeli perkakas untuk experiment minggu depan. Tiba-tiba hp Alli bunyi.

“Haloh? Oh.. wait a moment,” katanya sambil memberikan isyarat kepada Cody untuk menerima telpon itu. “Kylie,” katanya.

“Oh, hi… Today? Umm, sorry I can’t. how about at Sunday?… ehem.. okay see you then..” Lalak menatap Alli. Dengan isyarat, Alli berkata..

“Kylie, she’s not his gf kok! Tenang ajaah :p” Lalak cengar-cengir.

“So? Kita beli ini niiih besok aja yaah. Masa hari ini jugak?” Tanya Cody ke Lalak sambil menunjuk alat yang akan dibelinya besok. Lalak mengangguk. Hari udah sore. Dan ini waktunya Lalak buat pulang *yaiyalah masak mau nginep di rumah cody-__-* Alli mengantar mereka sampai pintu rumah. Tiba-tiba Matt memanggil Cody.

“Hey Cod! Don’t forget about that.” Katanya serius. Muka Cody berkerut lagi. Dengan tatapan malas, dia membuka pintu. Lalak mengucapkan terima kasih sama Alli dan Matt, entah dimana ayah Cody .__. Lalu ia mengikuti Cody. Di depan Cody uda siap dengan sepedanya. *eh, di sini ceritanya sepeda Cody itu sepeda bagus yang goncengannya canggih nggak kayak Indo punya looh .__.V* dengan hati-hati Lalak menaiki boncengan sepeda itu.

“Bye-bye Laak!” Kata Alli melambaikan tangan ke Lalak.

—–SKIP—–

“Cod?”

“Euum?”

“Are you in a bad mood?”

“No, why?”

“I think, you look different after you talked with Matt,” tanpa diketahui Lalak Cody tersenyum. “Cood?” Lalak meneriaki Cody, dia sebel kenapa kok pertanyaannya nggak dijawab.

“Fast your seat belt because we’re going to do something crazy!” Lalak yang daritadi megang tempat duduk Cody sekarang lebih kuat mencengkram tempat duduk itu. Dia takut. Pas dilihat ke jalan, ternyata mereka lewat ke jalan yang menanjak seperti bukit. Dengan bagian kirinya pantai yang lagi sunset, menambah keromantisan sore itu. Tiba-tiba tangan Cody menarik Lalak untuk memegang pinggangnya lagi.

“Fast your seat belt I said.” Katanya, Lalak Cuma nurut. Kemudian Cody mulai menaiki jalan menanjak, lalu mereka turun dengan sangat cepaat. “Wuhuuuuu!” Lalak dan Cody tertawa berbarengan. Yaa, untuk momen kali ini hati Lalak bener-bener ploong. Ngga ada beban apa-apah. Dia bener-bener ngerasa enjoy ada di dekat Cody.

“where do you know about this place Cod? What a lovely place!”

“Hahah! Aku Cuma suka menyasarkan diriku sendiri, Lak!”

“weird!”

“You more!”

“Haha!” Untuk sesaaat mereka terdiam beberapa saat. Pemandangan sunset di pantai emang keren. Tapi Pantainya sepi. Nggak tahu kenapa deh kok bisa sepi. Tiba-tiba awan jadi memdung.

“Eum, Lak! Do you want to go to my concert this Saturday?”

“I can’t!”

“Why?”

“Secret! I’ve told you that I’m not free at Sat-Sun.”

“Do you work?”

“Eumm, ya.”

“Ooh, where?”

“Kenapa kamu nggak ngajak Kylie aja sih?” mereka udah sampai di Park-nya LA. Dan tiba-tiba hujan mengguyur denga deras. Karena Cody ngga pake kacamata, dia nggak bisa liat jalan dengan jelas dan..

BUUK!

“Aaaaw!” Lalak terjatuh dari sepeda dan pergelangan tepat mengenai trotoar hujan tetap mengguyur dengan deras, dan sekarang Lalak terluka di tepi trotoar.

“Lak!” Cody panik. Ia menjatuhkan sepeda miliknya dan menuntun Lalak duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka. Lalak merasa perih yang amat sangat. Gimana nggak ? berdarah terus kena tetesan hujan yang deres lagi! Tanpa fikir panjang, Cody memanggil taxi yang sedang melintas di depan mereka. Dengan hati0hati dia menuntun Lalak memasuki taxi. Supir taxinya bingung laah, kok ada superstar yang lagi ujan-ujan begini naik taxi sambil ninggalin sepedanya sembarangan di trotoar.

“Rumahmu di jalan apa?”

“Jl. Ahmad Yani. Aaaw!”

“Jl. Ahmad Yani, pak! Yang mana yang sakit, Lak?”

“My leeeegs! Sssssss! Aaaaaaaa!” Lalak menjerit tertahan. Tiba-tiba ia bersin. Ia kedinginan sekarang. Baju Lalak bener-bener basah. Dia make kaus lengen panjang garis-garis warna oranye dan rok selututnya warna item. Cody yang make jaket anti air dengan cepat melepaskan jaketnya dan menyuruh Lalak memakainya. Dia tahu Lalak kedinginan.

“Thanks,” sementara itu darah masih tetap mengalir di kaki Lalak, tapi nggak banyak siiih. Cody tetep panik.

“Can you drive quicker?” setelah mendengar omelan Cody, supir taxi itu langsung berubah jadi garang. Dia cepet banget sekarang, meliuk-liuk sampai membuat Lalak sama Cody kebentur kaca taxi. Dan akhirnya mereka sampai di rumah Lalak. Cody membayar dan dengan hati-hati menuntun Lalak kembali menuruni taxi. Cody memakaikan kupluk jaketnya ke Lalak sambil merangkul bahunya dan memegang kepala Lalak. Ya, kaki Lalak masih berdarah. Dan sekarang Cody merasa bersalah banget. Lalak lalu didudukkan di kursi di teras rumahnya. Keadaan masih ujan, malah makin deres. Dengan cekatan, Lalak mengambil kunci rumahnya dan ia berikan ke Cody. Kemudian Cody membuka pintu dan kembali menuntun Lalak.

Rumah Lalak ngga terlalu besar tapi juga ya nggak terlalu kecil. Didominasi warna putih dalem rumah Lalak berasa nyaman banget. Penataannya bagus apalagi arsitekturnya. Untuk sesaat Cody agak kaget-lah lihat dalemnya rumah Lalak. Kemudian, Cody mendudukkan Lalak di sofa ruang keluarga. Lalak masih menggigil.

“Where’s the first aid box?” Lalak menunjuk ke suatu kotak yang tertempel di dinding sebelah kamar mandi. Dengan cepat Cody mencari betadine, kapas dan perban. Dengan hati-hati ia bersihkan luka Lalak.

“Ini mungkin terasa perih..” Cody mulai memberikan kaki Lalak betadine.

“aww!”

“Sorry!” Cody melihat Lalak. Kemudian ia tertawa. “Hahahaha!”

“There isn’t funny! It’s hurt!”

“Your face! Haha!” Cody kembali mengurusi kaki Lalak. Suara gemuruh menemani mereka, bersamaan dengan hujan deraas.

“Sorry, aku ngerepotin yah, Cod,” kata Lalak memulai pembicaraan.

“It should be me who sorry(?) harusnya tadi aku nganterin kamu make mobil, Lak.”

“Ya, harusnya aku yang tau diri buat pulang naik bis, Cod.”

“Dan ngebiarin kamu kena hujan sambil diikutin berpuluh-puluh paparazzi?” Lalak terperangah. Kok Cody jadi perhatian gini ya sama dia?

“Done!” dan sekarang kali Lalak udah diperbanin.

“Kok bisa sih make-in perban? Tak kira kamu cuma tau gimana make baju :p”

“Oo ngece luh! Mandi sana lho Lak! Kalo kamu sakit, besok luh nggak bisa kerja aku yang lu marahin. Ogah aaah~”

“Hey, stop! Look at your hand!” Kata Lalak heboh. Tangan Cody emang kegores dikit di bagian punggung tangannya. Kemudian ia berdiri dan mengambil handsapalast dengan jalan yang agak pincang.

“Kok nggak ngomong-ngomong sih kalo berdaraah. Ntar kalo simpsonizer marah ke aku gimana haah?” Cody hanya tersenyum melihat Lalak. Lalak ngasi tangan Cody hansaplast motif petir kombinai warna biru-kuning. Jadi kontras banget keliatannyah sama kulit putihnya.

“Done! Hey, aku mandi dulu ya! Nggak mandi, Cod?”

“Nggak papa nih mandi di sini?”

“Ya nggak papa lah, anggep aja rumah sendiri. OMG!” Lalak berjalan agak cepat menuju tasnya yang basah. Ia mengeluarkan sesuatu dari situ. “BILLY ! Ow, ow! I’m sorry!” The secret novelnya Billy basah covernya. Basahnya dena doang siih, tapi jadi jelek gambarnyah.

“What’s up?” Cody mendekat ke Lalak dan melihat novel the secret itu basah. “Let me take care of this. Go bath!”

“are you serious? Billy will hate mee! Oh nooooo! Wuachuuu!” Lalak pilek.

“Do you like him?” Lalak memutar-mutar-kan kepalanya. “Yaudah, noprob lah. Where’s you parents?” Tanya Cody ke Lalak yang lagi rebut di kamarnyah.

“I live here with my aunt. My lovely aunt!” Katanya bersemangat. Sementara itu Cody mendengar suara berisik dari kamar Lalak. Iseng, Cody ngintip kamar Lalak.

“where’syour aunt now?”

“work-laah. Pulangnya jam 9-aan. Wuachuu!”

“Where’s your parents?”

“Indonesia. *sroook-nyerep ingus maksudnya:p*”

“So, you come from Indonesia?” Cody masuk ke kamar Lalak. Kamar Lalak ddominasi warna coklat. Dan buku berhamburan dimana-mana. Kemproh sekalih :p

“Hem, hbu? Hey, jangan ngeliat kamarku kayak gitu dooong,” Cody duduk di salah satu sisi kasurnya.

“I come from Gold Coast-lah. Yaampun, masa kamu ngga tau?”

“Remember, I’m not simpsonizer! Wuachuuu!”

“Then, how do you explain about this?” Kata Cody sambil menunjukkan hape Lalak yang temanya itu Cody Simpson. Mata Lalak membesaar. “And this..” Kata Cody sambil memutar musik dan yang keluar itu lagunya Cody. “Oh-oh, all of the songs here is mine, yah..”

“COOODYYYY!” Lalak melempar boneka teddy bear warna coklat punyanya ke muka Cody. Cody mengelak dan lari dari kamar Lalak. Lalak mengejar Cody meskipun larinya ngga se-optimal dulu.

“Hahaha! You’re totally simpsonizer!”

“NEVEEER! CODYYYYY!” mereka berlarian sampe ngellingi rumah Lalak. Tiba-tiba.. “Eeeeeh!” Lalak terpeleset ke depan di depan 3 anak tangga menurun yang menuju ke ruang tamunya. Kenapa lantainya bisa basah? Karena terkena air hujan yang tadi menetes dari baju mereka.

“Wuup!” Kata Cody menangkap(?) Lalak dengan memegang bahunya. Untuk selama beberapa detik mereka terdiam menerawang mata masing-masing. Lalak menerawang mata biru Cody sedangkn Cody menerawang mata item Lalak. Tiba-tiba Lalak merasakn sesuatu did lam dirinya yang sekarang sedang meloncat-loncat.

“Wuachuuu!” Lalak bersin di depan Cody. Dia malu bangeeeetngetngeeet! Cody keliatan banget kena bersinan-nya Lalak

“Uh! Soory! I’m very sorry!” Lalak berdiri kembali.

“Pilekmu paraah!” Kata Cody sambil membersihkan bekas bersinan Lalak di mukanya.

“Better if I take a bath now.” Lalak meninggalkan Cody dengan mukanya yang bener-bener blushing. Suasana jadi awkward deh sekarang. “If you mind, you can turn on the TV or browsing in my room, Cod.”

—–SKIP—–

Lalak udah selesai mandi. Dia memekai celana batiknya dan kaos panjangnya berwarna abu-abu. Hujan belum berhenti juga. Dan sekarang, udah pukul 4 p.m. Ketika keluar dari kamar mandi, Lalak bingung Cody dimana. Tapi lalu ia tahu kalo Cody ada di kamarnya. Buru-buru Lalak pergi menuju kamarnya. Ia takut Cody ngutak-ngatik hapenya lagi.

“Cod?”

“Oh, hi. Hey, you haven’t follow my account ya.” Kata Cody sambil tetap mengutak-ngatik hape Lalak. Buru-buru Lalak mengambilnya dari tangan Cody.

“what?! What are you doin again cooooood?!?!” Kata Lalak ngamok.

“Stay Cool. I just explore it. Hey, you locked your laptop! I wanna browsing, but finally I don’t know what is the pass, so.. I explore your mobile!”

“Ohya, sorry.” Lalu Lalak menyalakan laptopnya. Ini butuh waktu agak lama. Karenalaptop Lalak kebanyakan data. Tiba-tiba Cody mendekat ke arahnya.

“Hey, are you sure you do’t like Billy, huh? You guys have a very loooong conversation in BBM..” Katanya sambil mengambil hape Lalak lagi.

“No-laah. He’s so popular. Just like you. Nggak mungkin dia bisa suka sama aku. Ya karena itu deh aku nggak mau jatuh cinta sama dia. ”

“Terus kenapa nggak kamu jadi popular aja? Kan udah kubatu tuuh..” Kata Cody sambil mengingat-ingat jasanya yang udah nge-BM orang di contactnya buat invite Lalak. Lalak nyengir.

“You don’t need to be popular to getting happiness. Aku Cuma butuh satu sobat penting di hidupku yang ada saat kapanpun aku butuh dia. Kalo kamu jadi popular, banyak orang yang pastinya benci sama kamu, banyak juga orang yang ngemanfaatin kamu, friendship udah nggak kerasa lagi di hubungan, dan orang cuma mau berteman sama kamu yak arena kamu popular, bukan karna dirimu yang asli. So, must we be popular?” Kata Lalak panjang lebar, ketika kata terakhirnya berkhir ia mendongak ke Cody dan mendapatinya sedang melihatnya. Cody terkesan kagum, oh bukan speechless. Lalak jadi malu sendiri. Dan akhirnya laptop Lalak nala. Ia mengetikkan beberapa huruf di sana. Cody nggak sengaja lihat. Dan I thau Lalak nulisin apa di kolom passwordnya itu.

“Amnesia?” Lalak kaget. Cody bisa tahu passwordnya.

“KENAPA KAMU MESTI NYEBELIN SIH COOOOOOOD!!!” Kata Lalak sambil mencubit tangan Cody sampe merah.

“Aw! It’s hurting, you know.” Kata Cody sambil mengusap-ngusap bekas cubitan Lalak.

“Salahmu lihat-lihat!”

“salahmu ngga ngelarang, week!” Kata Cody sambil melet. Lalak bersiap unutk mencubit lagi tapi Cody udah ngehindar duluan.

“Wuachu!” Cody bersin jugak. Gimana nggak? Orang daritadi dia make bajunya yang basah. Kena AC pula. Masuk angin deeeh.

“Pilek jugaak? Jangan pilek doong, ntar kalo aku dimarahin bejutah simpsonizermu gimanaaah? *sroook*”

“Haha, tenang aja deeeh Laak, wuachuu!” Katanya sambil menepuk-nepuk rambut Lalak yang masih basah.

“Mandi dulu sana, Cod. Ntar aku kasi baju peninggalannya omku. Handu udah tersedia kok yang bersih di kamar mandi. Cepetaaan sanaaah!”

“Bentaran, kamu sana o dulu Laak! I wanna sign in to my twitter first!”

—–SKIP—–

“Laaaak? Do I suit with these?” Kata Cody memamerkan baju om Lalak yang dipakainya.

“Wuahaha! You look.. wuahaha!” Kata Lalak ketawa ngakak. Gimana nggak? Bajunya aja kebesaran banget buat Coco. Dia make kaos putih oblong kegedean sama celana rumahan yang juga kegedeaan. *bayanginbanyangiin!*

“whatever you said-laah. But I think I look cool with this.” Katanya sambil bergaya di pan kaca Lalak.

CKREEEK!

Lalak iseng memoto Cody pake hapenya. Lucu sih posenya. Pose-pose yang tangannya bentuk pistol itu-looh. Ya, Cody bergaya seperti itu di depan kaca Lalak di rumahnya sekarang. Haha!

“Wuahahaha!” Cody nyengir.

“Do you have any snacks Lak? I’m sooo starving noow.” Lalak yang di duduk di depan laptopnya akhirnya berdiri.

“Okay, let me give you a special food!” Kata Lalak yang beranjak keluar dari kamaryah.

“Hehehehe,” Cody ketawa evil ngeliat twitter Lalak yang masih ke log-in acc punyanya.

—–SKIP—–

“Tadaaa! Nih nodlee from Indonesia!” Kata Lalak ngasi piring ke Cody berisi(?) indomie matang.

“Laak! Come here!” Cody menarik tangan Lalak. Dan mereka web-cam-an dengan berbagai pose aneh. Sampe Lalak kudu ketawa sendiri ngeliat tingkah laku Cody.

“Udah ah! I wanna eat it.” Kata Cody makan di sisi kasur Lalak.

“Hey Cod, you can go home noow. It’s not raining anymore.”

“He-em. It’s very delicious!”

“Apa kubilang! haha” Lalu Lalak mengecek Mozilla firefox-nya dan terkejut melihat apa yang ada di situ. “Cod? What are you doin agaaaaaaaaain?!” Kata Lalak heboh pas tau Cody udah ngutak-ngatik twittenyah.

“I just make this acc to follow my acc. Any matter?” Katanya iseng.

“Kayaknya aku harus ngusir kamu deh Cod! Aaaaaaa! You pirated meeee!”

“Hey, I retweeted your tweet, right?”

“You retweeted your own tweet in my acc COOD! Oh my… Look! There are so many people mention meeh! I don’t know they are! And I’m very dislike someone who I don’t know mention meeh!”

“Thanks Lak! Don’t you eat?”

“I have to take care of this, first! Cody! Oh My Godness!”

“Ya, you’re right. It’s not raining anymore. I’m getting home, ya Lak!”

“Hey, how about your bicycle?”

“Biarin ajaah. If I’m lucky, I’ll get it later in street!” Mereka berdua keluar rumah. Lalak mengantarkan Cody sampai depan rumah dan meeka menunggu taxi lewat. Dan selama menunggu itu, mereka nggak henti-hentinya tertawa. Entah ngerasani artis laah, ngerasani oran lewat laah, bahkan ngerasani Mr. Amri yang katanya nggak pernah ganti kaus kaki! Ya ternyata Cody ngambil kelas drama, kayak Lalak jugak.

“Kamu bahkan nggak bisa akting, Lak!” Kata Cody ngece.

“That’why I take that Cood! Aku bakal buktiin kalo aku bisa dapt peran utama buat pagelaran semester! Halaah, paleng kamu ntar jadi backsound doaang.”

“No-no! you know, I’m very popular and I can act too! So, there is no reason for Mr. Amri to not choose me! Week!” Akhirnya, taxi menghampiri rumah Lalak.

“Nitip baju, ya Lak..”

“Sorry, loh cod udah ngerepotin. Jaketnya juga kanya? Wuachuu!”

“Nope. Yaa. See you tomorrow!” Cody udah berlalu bersama taxinya. Lalak melihatnya sampai taxi itu hilang di persimpangan jalan. Saat mau masuk ke rumah, tiba-tiba Lalak pusing lagi. Dia ngerasa keingat sesuatu dari masa lalunya. Sesuatu yang kayaknya memulai peristiwa yang bikin Lalak amnesia. Karena cuaca tiba-tiba mendung lagi, buru-buru Lalak masuk ke rumah.

“Apa aku harus benar-benar menjadikannya simpsonizer? Matt, is all yours.” Kata Cody melamun menerawang jalan ke depan di dalam taxi.

Ternyata di persimpangan jalan ada mobil seseorang yang terparkir di sana. Mobil yang didalamnya terdapat seoarang cewek yang dari setengah jam lalu ngelihatin rumah mereka.

“You choose wrong option, boy.”

END OF THIS CHAPTER

Advertisements

2 thoughts on “Cody Love Story – It’s More Than Love (2)

    1. thanks for read and comment lagi kakak :DD muahmuaaah *kedatangannya aku nanti terus looh, wekekeke*
      iyaaa, tapiii kata-kata yg aku poake di sini masih keliatan.. *aduh nih anak ngga bakat nulis ff ngapain sih nulis?* gitu, ngga kayak kakak ><
      okeokee kaaak, kunanti selalu kok ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s